Advertorial

GERAKAN SATYAGRAHA DORONG ANAK MUDA HINDU BISNIS DISTRO: WEDAKARNA MINTA ORANG BALI STOP MENTAL JURAGAN KONTRAKAN

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III bersama pengusaha muda, I Komang Prawina Wijaya, S.E. di Distro Meet Bali Jl Raya Anggungan Lukluk Mengwi Badung.

Gerakan Satyagraha sebagai gerakan memperkuat posisi ekonomi orang Bali kini terus mendorong terciptanya entrepreneur muda Hindu. Selain mendorong rakyat Bali untuk terlibat dalam bisnis kuliner khususnya makanan bernuansa babi, kini Gerakan Satyagraha mendorong agar orang Bali untuk mulai memanfaatkan lahan yang dimilikinya untuk menjadi tempat berwirausaha.

Hal itu disampaikan oleh penggagas Gerakan Ekonomi Hindu Satyagraha, Senator RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III saat kunjungan kerja ke Badung. “Untuk mempertahankan agama Hindu dan budaya Bali, maka Bali memerlukan kekuatan ekonomi. Dalam Sastra Weda sudah diajarkan bagaimana umat Hindu harus menyeimbangkan Dharma, Artha, Kama. Untuk menebar kebaikan, membantu orang lain termasuk membuka usaha lapangan kerja (perbuatan Dharma), diperlukan harta dan kekuasaan (Artha) dan untuk mewujudkan Dharma dan Artha secara seimbang maka diperlukan gairah, ambisi dan nafsu positif (Kama). Maka dari itu jadilah orang–orang Bali yang punya cita–cita sebagai komunitas kaya raya agar Hindu lestari. Banyak budaya dan agama punah di dunia ini karena kemiskinan, kebodohan, kesombongan, dan belog ajum. Saya ingin Bali bertahan 1000 tahun yang akan datang. Dan caranya adalah memperkuat Jnana dan Artha. Menjadi kaya adalah himbauan kitab suci Weda,” ungkap Gusti Wedakarna.

Ia pun merasa bangga bahwa beberapa tahun terakhir ini sudah muncul militansi positif umat Hindu di Indonesia untuk selalu berbelanja di tempat usaha milik orang Hindu. “Sejak ada Gerakan Satyagraha, umat jadi paham ada maksud dan tujuan dari gerakan memberdayakan ekonomi Hindu. Berbelanja di tempat usaha orang Hindu akan mengangkat ekonomi Bali karena Bali  90%  umatnya mayoritas Hindu. Begitu juga, setiap uang yang kita belanjakan akan menjadi yadnya dan bebantenan. Saya tegaskan tentu yang bisa menjaga agama Hindu hanyalah orang Bali yang krama adat, karena hanya orang Bali yang bisa masuk ke wilayah Parahyangan. Jadi penting sekali umat Hindu berdaulat ekonomi,” ungkap Gusti Wedakarna.

Terkait itu, salah satu cara yang ditawarkan oleh Gusti Wedakarna adalah dengan cara menghentikan sifat mental juragan kontrakan yang kini banyak dijalankan oleh keluarga di Bali. “Bagi keluarga di Bali yang punya tanah, ruko dan kantor di tempat strategis, agar mereset ulang pemikirannya, yakni menciptakan anak muda risk taker generations. Manfaatkan ruang-ruang kosong untuk berusaha dan jadi pengusaha. Jangan semua anak Bali punya mental jadi pegawai dan karyawan. Kalau mau kaya dan sejahtera ya memang harus berbisnis dan pasti muaranya jelas pada pendidikan tinggi,” ungkap Gusti Wedakarna yang menyempatkan diri meninjau outlet pengusaha muda Bali dengan Brand Meet Production Factory yang kini sudah memiliki cabang di Mengwi dan Dalung. (humas)

To Top