Bunda & Ananda

Hindari Penculikan, Latih Kewaspadaan Anak

Putu Agus Semara Putra Giri, S.Pd., M.Pd.

Banyaknya kasus upaya penculikan anak belakangan ini, mengusik ketenangan para orangtua. Dalam grup medsos yang beranggotakan para orangtua murid di salah satu SD di Denpasar, surat edaran tersebut, di-share untuk menambah kewaspadaan para orangtua dalam mengawasi anak-anaknya. Hal ini menyusul adanya dua kasus upaya penculikan anak di wilayah Tejakula dan Kubutambahan belum lama ini, yang menyasar siswa SD.

Di Denpasar, upaya kriminalitas terhadap anak ini pun sempat ditulis oleh seseorang pengguna Facebook. Dalam status yang diunggahnya 16 Februari 2017 tersebut, diceritakan bagaimana upaya pelaku untuk mengecoh anak. Untungnya, anak-anak waspada.

Bercermin dari beberapa kasus tersebut, perlu kiranya orangtua lebih waspada lagi terhadap potensi terjadinya kasus penculikan anak ini. Diharapkan semua pihak mengawasi gerak-gerik anak selama ada di sekolah maupun ada di rumah. “Yang paling penting lagi adalah jalin komunikasi dengan anak, beri edukasi untuk waspada dan bisa melindungi diri,” ujar Putu Agus Semara Putra Giri, S.Pd., M.Pd., dosen yang juga tim trainer PS Bimbingan Konseling IKIP PGRI Bali.

Dalam hal ini ia mengatakan, harus ada edukasi kepada orangtua, bagaimana mengemas komunikasi antara anak dan orangtua. Perilaku-perilaku anak ini harus dipantau. Perkembangan yang paling bagus usia 5 tahun pertama. Di usia ini, orangtua bisa memberikan edukasi. Yang penting adalah komunikasi.

Komunikasi penting dilakukan untuk menciptakan kepercayaan diri serta hubungan yang baik antara anak dan orangtua. Proses penculikan anak bisa terjadi karena anak tidak paham, terlalu cepat mengenal, terlalu mudah menerima orang lain.

“Dalam pola asuh setiap harinya, orangtua berinteraksi ke anak-anak ini, harus ada edukasi tentang bagaimana hubungan si anak dengan orang lain,” ujarnya. Contohnya: “..itu paman, itu kakak. Nanti kalau minta sesuatu harus bilang sama Mama, Papa..”. Ini norma-norma yang sudah diajarkan untuk mulai bertanya, bukan untuk memutuskan kepercayaan diri anak untuk melakukan sesuatu. Ini bagian dari edukasi, bagaimana si anak menganalisa. Walaupun si anak belum paham, paling tidak dia sudah ada “alarm” untuk bertanya pada orangtuanya. “Bukan berarti kita memutus atau menciptakan perilaku antisosial, tapi lebih kepada perilaku-perilaku waspada,” ujarnya.

Contoh lain, ketika anak diberikan  hadiah, ingatkan dia menyampaikan terimakasih, dan tegaskan kembali bahwa “..ini paman..ini kakak..ini mama.. Kalau yang memberi selain itu, harus bertanya..”. Ingatkan si anak, tidak boleh dekat orang lain yang tak dikenal, atau teriak saja jika ada orang asing yang memegang keras.

Hal lain yang sering sekali diucapkan orangtua kepada anaknya adalah berkata “jangan begitu..kamu itu nakal”. Secara tidak langsung ini sudah mendoktrin atau menyugesti anaknya untuk nakal. Ini hal yang kecil tapi penting untuk perkembangan anak. Karena anak sedang merekam apa yang dilihat, apa yang didengar, dan anak pasti meniru itu sebagai nilai-nilai kepastian dalam perilakunya. “Penting bagi orangtua untuk memahami cara memberikan edukasi, menumbuhkan pola asuh, dan menumbuhkan kedekatan pada anak,” tegas talent explorer and energy healer ini.

Jangan lupa juga, orangtua harus sering memberikan hadiah baik secara verbal maupun nonverbal. Misalkan, “Anak pintar.. anak mama…”. Termasuk edukasi dalam memberikan teguran yang mendidik. Contoh ketika anak mencorat-coret tembok. “Anak mama pintar, tapi coretnya disini ya (memberikan media lain seperti kertas gambar)”. Lama-kelamaan ini akan menjadi nilai-nilai. Ketika si anak punya adik, dia pasti melakukan hal yang sama. Jika orangtua saat marah membentak pada anak, besok anak akan melakukan hal yang sama pada adiknya. “Itu adalah modeling. Jadi apa yang dia lihat, dengar, itu yang dilakukan,” ujarnya.

Kata “jangan” tidak mudah diterima dalam bahasa bawah sadar. Tetapi kata “jangan” yang sering diucapkan, itu akan menjadi nilai-nilai yang pasti. “Jangan dekat dengan orang lain yang tidak adik kenal, adik hanya bergaul dengan anak-anak yang adik kenal. Adik hanya menyapa mama papa yang menjemput. Jauhi orang-orang yang adik tidak kenal. Jangan pernah menerima apa pun yang diberikan orang lain. Jika diberikan sesuatu, bilang dulu ke mama-papa. Kata “jangan” dalam kalimat-kalimat tersebut artinya sudah ada sinyal “tidak boleh”. “Boleh saja menggunakan kata’jangan’, asalkan tidak dilakukan dengan intensitas yang sering,” jelas Giri.

Ketika sudah diajarkan etika seperti itu, walaupun di tempat keluarga, si anak pasti berkata “Mama, boleh tidak adik minta permen?” Ini bukan melatih untuk ketidakbebasan, tetapi untuk kewaspadaan.

Ketika si anak bertanya “papa boleh minta permen?” Orangtua meluruskan, “..oh boleh, kan sudah nanya sama papa”.  “Jangan mendidik sampai anak merasa ketergantungan, hingga anak tak berani memutuskan apa-apa sendiri. Yang terpenting adalah intensitas, mana hal yang boleh, mana yang tidak,” tegasnya lagi.

Ia mengisahkan contoh lain ketika saat naik angkot dan angkot berhenti di SPBU. Si anak bertanya kepada mamamnya. “Mama kenapa berhenti disini?”. Sang Ibu menjelaskan, “Iya dik, kalau kita haus kita minum air. Tapi kalau mobil haus, harus diisi minyak namanya bensin.” Penjelasan sang ibu kepada anaknya ini edukasi. Sebenarnya si anak ketergantungan untuk bertanya, tapi orangtua harus bisa meluruskan. Selain meluruskan, orangtua mereedukasi tentang apa yang anak lihat, apa yang anak analisis, dan apa yang anak pahami tentang apa yang dilihatnya. “Tidak membatasi kreativitas tapi kita bangun kreativitas anak itu lewat komunikasi,” tungkasnya. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top