Kolom

MENGASUH ANAK DENGAN PENDEKATAN KASIH SAYANG

Mengasuh anak adalah pekerjaan full time selama seumur hidup. Banyak orangtua yang mengharapkan dapat menjadi orangtua yang sempurna bagi anaknya sehingga  harapan tersebut membebani orangtua dan menekan tumbuh kembang anak juga agar menjadi anak yang sempurna. Bukan menjadi orangtua yang sempurna yang terpenting, akan tetapi menjadi orangtua yang bahagia. Dengan menjadi orangtua yang bahagia, maka emosi orangtua cenderung stabil dan tak tertekan dengan “tuntutan orangtua sempurna” sehingga kegiatan mengasuh anak menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan.

Saat mengasuh anak, orangtua perlu melakukan pendekatan kasih sayang, karena dengan kasih sayang akan menghasilkan anak taat dan patuh kepada orangtua. Kasih sayang ditunjukkan secara wajar dan sesuai dengan umur anak, contohnya dengan membelai, memuji, atau mengeluarkan kata-kata positif yang memberikan semangat pada anak. Untuk anak yang berusia remaja, kasih sayang dapat diberikan dengan pendekatan orangtua dengan menganggap anak sebagai teman, sehingga remaja menjadi terbuka pada orangtua ketika menghadapi masalah dan kesulitan.

Pendekatan kasih sayang dalam mengasuh anak patutnya diselaraskan dengan perkembangan anak, baik itu saat anak dalam kandungan, anak usia dini, dan anak usia sekolah. Pada saat anak dalam kandungan, hendaknya ayah dan ibu mengajak anak (janin) berkomunikasi dengan berbicara yang lembut, memberi sentuhan/belaian, musik yang lembut, mendengarkan petuah-petuah agama seperti dilantunkan Tri Sandya dan mantram gayatri jika beragama Hindu. Setelah anak lahir, merupakan tahap dasar meletakkan rasa aman dan percaya sehingga kedepannya anak tidak tumbuh menjadi pribadi pencemas. Agar rasa aman dan percaya ini diperoleh, diperlukan kesiapan ayah dan ibu melalui sentuhan fisik yang menyenangkan anak diberikan stimulasi/rangsangan yang tepat agar pertumbuhan saraf sensori dan otaknya terstimulasi sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang cerdas.

Ayah dan ibu pada tahap perkembangan anak bayi-balita memang harus bersabar karena jika pada tahap ini anak sering menerima hukuman fisik, bentakan, teriakan (hukuman verbal) maka akan menghambat perkembangan emosional anak. Selanjutnya, pada saat anak menginjak usia sekolah, orangtua  melakukan pendekatan kasih sayang dalam membantu anak mengatur waktu kapan anak harus belajar,  kapan anak harus bermain, dan kapan anak harus beristirahat. Orangtua mendukung anak untuk mampu bereksplorasi, mengembangkan bakat dan kemampuannya di bidang akademk maupun non akademik.

Pada saat anak menginjak remaja, diperlukan kerjasama antara ayah dan ibu, mengingat pada tahap ini, ayah dan ibu merupakan tumpuan anak dalam berkeluh kesah (curhat). Oleh karena itu, sebaiknya ayah dan ibu menempatkan anak remaja sebagai kawan/teman. Dengan memperlakukan anak remaja sebagai teman, maka akan terjadi diskusi, sharing, sehingga anak mampu mencurahkan isi hatinya secara jujur kepada orangtuanya. Orangtua pun mampu menjadi pendengar yang baik, dan terjadilah komunikasi yang efektif antara anak dan orangtua. Dengan demikian, pada saat anak remaja seyogyanya diterapkan pola asuh dengan sikap perilaku “tidak menang dan tidak kalah” yang merupakan pola asuh timbal balik (dua arah) antara anak dan orangtua. Orangtua tidak memaksakan pendapatnya sendiri, akan tetapi mau mendengarkan pendapat anak. Anak diberikan kebebasan berpendapat dan anak mampu bertanggungjawab akan kepercayaan yang diberikan oleh orangtua yaitu anak diharapkan mampu berperilaku bebas yang bertanggungjawab. Anak bebas bereksplorasi asalkan masih dalam koridor yang benar dan mampu bertanggungjawab atas risikonya.

 

Nyoman Wiraadi Tria Ariani, S.Psi., M.Psi., Psikolog

(Psikolog)

To Top