Kolom

SAMURAI 8

Rampok yang teler itu ditolong didudukkan  di kursi. Tidak dilaporkan pada warga, takut habis dieksekusi massa. Malah Amat gosok dengan minyak kayu putih supaya segera pulih kesadarannya.

Wajahnya bersih. Nampak dari keluarga baik-baik. Termasuk ganteng. Badannya bagus. Hanya nampak nasibnya  merawankan. Ia merintih seakan sesat ke delta narkoba bukan atas kemauannya.

Lho yang mencampakkan kamu ya dirimu sendiri, tak usah cari kambing hitam seperti pejabat dan pemimpin ece-ece itu!”

“Aku bukan pejabat, bukan pemimpin aku … .”

“Rampok?”

“Bukan!”

“Penipu? ”

“Bukan!”

“Habis apa?”

“Aku korban perubahan zaman edhan!”

Ah, gombal! Kamu sendiri yang edhan!”

“Sudah, Pak, kasihan!”

“Betul itu, ibu, kasihan aku. Tidak ada yang kasihani. Bapakku juga direbut orang!”

“Direbut siapa?”

“Direbut cita-citanya mau jadi mentri!”

Ah gombal!”

“Sudah, Pak, kasihan, mungkin jadi begini karena bapaknya membuang dia!”

“Setuju! Ibu yang lebih mengerti, tapi ibuku sudah pergi. Bapak terlalu sibuk mau jadi mentri. Aku tidak bisa bayar RS. Aku terpaksa ngibul jual samurai. Untung ada si tua tolol diasepin dikit udah ngucur duitnya,”

Amat marah.

Hee, jangan sembarangan kamu!”

Sambil duduk tak berdaya, rampok itu terus meracau. Membeberkan kesulitan hidupnya. Hartanya habis, istrinya mau melahirkan dan dia dikejar bandar narkoba dianggap bertanggungjawab atas transaksi yang dia tak tahu.”

Ketika telernya sudah mulai  menipis, Amat berusaha menyuntiknya dengan bimbingan moral.

“Jadi beginilah sekarang situasimu anak muda. Narkoba membuatmu ketagihan. Kamu terpaksa dengan segala jalan cari duit. Menjual samurai palsu dan membuat sandiwara rampok palsu supaya samuraimu terkenal. Lalu kau mau rampas lagi samuraimu karena ada yang mau beli satu M. Tapi itupun kalau kejadian,  dalam sekejap uangnya pasti akan ludas tandas lagi dijilat  narkoba. Berapa duit pun kamu punya, sekejap mata bisa amblas untuk narkoba. Begitu seterusnya sampai nyawamu habis durasinya!”

“Sekarang tinggal berapa menit durasiku? Tapi tunggu dong sampai istriku melahirkan!”

Amat tambah gemas. Tapi sebaliknya, Bu Amat malah trenyuh.

“Sudah, Pak, jangan dihujat terus! Itu kan hanya asumsi Bapak. Jangan menuduh semua anak muda korban narkoba. Jangan-jangan orang tuanya sebenarnya biangnya. Bagaimana kalau mereka yang muda itu, dia ini, hanya  korban dari keluarga yang berantakan? Ini bukan salah dia, tapi salah orang tuanya! Salah kita yang tidak punya waktu lagi ngurus anak?”

Terdengar pintu diketuk. Rampok teler itu menjerit ketakutan.

“Tolong! Mereka akan membunuhku! Aku harus lari. Tapi mana kakiku, kok tak ada?”

Rampok teler itu mau bangkit tapi tak bisa. Ia jadi panik. Amat berusaha  menenangkan.

“Diam! Tak ada yang akan bunuh kamu asal kamu  jangan meracau! Ayo yang dewasa dan sopan!”

Pintu yang tak terkunci terbuka. Masuk Sandi dan istrinya.

“Selamat malam Pak Amat. Bu Amat. Maaf kami mengganggu.”

“Selamat malam Pak Sandi, Bu Sandi.”

“Wah seneng sekali kami kalau sudah rukun lagi begini.”

“Yah, berkat petunjuk-petunjuk Bapak dan ibu kami sudah bisa berhasil mengatasi semuanya dengan baik.”

“Waduh selamat kalau begitu.”

“Tapi ada berita baik ada juga berita buruknya.”

Lho berita buruk apa lagi?”

“Bapak angkat saya tidak jadi meninggal. Beliau sudah sempat mati suri. Tapi satu orang di antara tim dokter yang merawatnya bersikeras untuk meneruskan pengobatan dan secara tak masuk akal beliau sehat kembali. Saya barusan di telepon sampai saya kaget dan hampir tak percaya!”

“Wah itu keajaiban Tuhan! Itu kabar baik Pak Sandi!”

“Memang betul baik. Tapi….,”

Bu Sandi menyambar.

“Berarti tak ada warisan, Bu Amat.”

Amat dan istrinya tertegun.

“Berarti rumah Pak Sandi yang dijual?”

“Belum dibayar, mungkin bisa kami batalkan.”

“Hanya rencana ke Singapura dan kapal pesiar batal!”

“Jadi berarti Pak Sandi akan tetap di sini bersama kami!”

“Itu berita bagus buat kami!”

Tiba-tiba menyusul masuk seorang perempuan bunting.

“Selamat malam.”

Amat dan Bu Amat terkejut.

“Selamat malam. Maaf ini siapa?”

“Pak Amat, ini Cici adik ipar saya.”

“Istrinya Khakha, adik angkat terbesar suami saya. Ayo Cici kenalkan diri kamu, ini Pak Amat dan Bu Amat, sesepuh kita di sini.”

Cici yang cantik jelita tapi pucat tersenyum.

“Saya Cici istri Khakha.”

“Ayo jangan malu Ci, ceritakan saja terus-terang”

Cici mendekat.

“Suami saya Khakha tertipu oleh temannya sendiri, katanya hanya jadi penyedia jasa mengantar barang. Setelah satu tahun jalan bagus, tiba-tiba temannya menghilang, lalu geng narkoba itu datang dan menganggap suami saya menggelapkan 10 M. Kalau tidak dikembalikan keluarga kami akan dihabisi. Mas Khakha bingung lalu dia berusaha menjual barang antiknya sebuah samurai. Tapi sudah beberapa bulan dia belum kembali. Kemudian saya coba menelepon Bang Sandi kok ada cerita soal samurai.”

Sandi memotong.

“Jadi adik saya Cici ini,  kalau diperbolehkan ingin melihat samurai yang pernah Bapak pinjamkan ke saya. Tapi … .”

Tiba-tiba rampok teler itu berteriak dan berdiri.

“Oke! Aku sudah ketemu kakiku lagi! Aku pulang saja sekarang! Satu M  juga lumayan nanti anakku keburu lahir!  Aku bawa ya!”

Rampok itu menyambar  samurai. Lalu terhuyung-huyung keluar tanpa menoleh. “Good bye every body!”

Semua tercengang. Cici yang mula-mula teriak “Mas Khaka!” lantas memburu keluar. Menyusul Sandi dan istrinya.

“Khakaaaaa!”

To Top