Kreasi

Geliat Reggae dalam Nuansa Bali

Industri musik tidak pernah mati. Selalu saja ada kreativitas yang dikembangkan para musisi, termasuk mengemas album. Walaupun distributor dan toko kaset serta CD hampir tak ada lagi, namun proses kreatif tetap berjalan. Hal inilah yang dilakukan Pregina Art & Showbiz Bali yang meluncurkan dua album reggae, Joni Agung & Double T: Persaudaraan tanpa Batas dan The Bodhi: Morning of The World.

“Kami memberikan sesuatu yang beda. Kedua album ini berisi rekaman audio dalam bentuk CD audio dan video. Bundling ini diharapkan mampu memperkenalkan ke masyarakat tentang portofolio band serta memberikan penawaran yang menarik untuk penggemar musik reggae sebagai musik Afrika dalam balutan nuansa Bali dengan nada pentatonik  yang ringan namun lirik yang mendalam,” ungkap I Gusti Agung Bagus Mantra, pemilik  Pregina Art & Showbiz Bali sekaligus produser dari kedua album ini.

Gus Mantra menuturkan dirinya menikmati proses bermusik hingga menjadi album. Kehadiran dua album ini untuk meyakinkan musisi dan penikmat musik untuk saling menghargai hasil karya melalui berbagai cara. Sesama band pun saling mendukung melalui keharmonisan dalam keberagaman. Rekaman potofolio band yang diambil secara live multitrack audio dan video menjadi langkah yang efektif untuk pengumpulan hasil karya serta menawarkan ke pasar global dalam sebuah komitmen pergerakan seni yang berbasis distribusi digital dengan tetap mengutamakan kualitas.

“Kami memanfaatkan lebih dari 40 digital store di seluruh dunia sehingga karya para musisi ini dapat dibeli dan diunduh secara profesional berbayar. Mereka pun dapat tetap eksis berkarya dan tampil di berbagai panggung di Bali maupun Indonesia bahkan dunia,” ujar Gus Mantra. Ia menambahkan konser promo album ini dilaksanakan Selasa (14/2) di halaman TVRI Denpasar. Konser juga dirangkaikan dengan kegiatan amal untuk membantu korban bencana alam yang terjadi di Bali.

PERSAUDARAAN TANPA BATAS

Bagi Joni Agung & Double T, album “Persaudaraan tanpa Batas” ini merupakan album yang ke-5 sejak tahun 2004. Joni Agung sebagai penulis lagu utama dalam 10 lagu yang ada di dalam album ini selalu mengangkat isu realita dalam kehidupan masyarakat di Bali serta pesan penting untuk kita dapat bangga sebagai orang Bali dan Nusantara.

“Kami mencoba menginspirasi anak muda di Bali bagaimana kita hidup mencari kebahagiaan dengan jalan yang baik seperti dalam lirik lagu “Ngalih Demen”, …. ngalih demen ngalih liang ngalih demen liang di adunge di segere” serta dalam lagu “Pembantu” bagaimana seorang pemimpin mengobral janji kemana-mana Om Swastiastu tapi terkadang membawa janji palsu,” ujar pentolan band reggae yang beranggotakan Joni Agung (vokal), Alit (gitar), Tilem (bass), Rodi (drum), Mayun (keyboard) featuring Sandi (violin) ini

Album ini juga berisi lagu “Hancurkan” yang bertemakan romantisme berbahasa Indonesia, lagu “Manis Manesin”, sebuah lagu yang berisikan perjalanan cinta sepasang kekasih yang akhirnya tidak bisa berjalan seiring. Lirik lagu romantis tetap bernuansa realita tanpa unsur cengeng.

Joni Agung menuturkan kiprah musik yang ia dan Double T lakoni merupakan sebuah proses. “Kami meyakini apa yang fokus kami lakukan akan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan. Kami kerja sama-sama dan mendapat hasil lalu dibagi sama-sama,” tegas pria berambut gimbal ini.

MORNING OF THE WORLD

Sementara itu, The Bodhi yang terdiri dari empat musisi senior di industri musik reggae di Bali, Bobi Dinar (vokal), Cetu (drum), Acik (bass), dan Gus Kobar (gitar) mempersembahkan 6 lagu dalam format CD audio dan DVD dalam album “Morning of The World”.

“Lagu Morning of The World merupakan lagu yang kami persembahkan untuk Sanur. Lagu ini kami aransemen ulang dengan gaya The Bodhi yang lebih sederhana secara komposisi dengan nuansa root reggae. Sedangkan lagu “Root Rebel” merupakan komposisi fusion reggae yang bertemakan pergerakan pejuang membela kepentingan orang banyak namun kerap dijadikan musuh oleh orang-orang yang merasa terancam secara kebijakan,” jelas Bobi Dinar.

Lagu “Fly Away” juga diaransemen ulang karena mendapat banyak respons. Temanya mimpi untuk masuk dalam kehidupan yang harmonis dimana baik dan buruk selalu berdampingan tanpa ada kekerasan. Bobi Dinar menambahkan, The Bodhi bermusik karena mereka senang, sehat, dan bahagia.  (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top