Bunda & Ananda

Simulasi Gempa melalui Tari Gejor

Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si.

Bukan hal yang biasa lagi jika apa yang kita lakukan seringkali “Hangat-hangat tai ayam”. Ketika sudah ada kejadian, baru bertindak seperti kebakaran jenggot. Sebenarnya wacana penerapan pelajaran siaga bencana sudah ada dari dulu. Namun, dari pengamatannnya, sekolah-sekolah sekarang belum fokus melakukanya. “Sekolah baru melakukan kegiatan itu ketika ada kejadian. Jangan sampai anak melompat dari lantai 2 ketika terjadi gempa bumi. Karena itu, mereka harus diberikan penjelasan bagaimana. Jika tidak dikasihtau, anak-anak panik dan bisa melakukan tindakan sendiri,” cetus Pengamat Pendidikan Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si.

Yang perlu diingat adalah, kita (Indonesia), secara geologis berada di jalur ring of fire (cincin api) Pasific, daerah yang cukup rawan bencana gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan bencana alam lainnya. Karena itu, ia menegaskan  perlu sekali  sekolah-sekolah diberikan pelajaran siaga bencana ini. Paling tidak ketika terjadi bencana itu, kita sudah siap apa yang harus dilakukan. “Kalaupun bukan pelajaran khusus, tapi setidaknya setiap 6 bulan misalkan, anak-anak diajak latihan (simulasi) tentang siaga bencana alam. Atau bisa juga memberikan simulasi melalui program komputer yang bisa ditunjukkan dan diputar pada hari-hari tertentu. Sehingga tidak perlu harus jauh-jauh misalkan ke Aceh melihat Museum Tsunami,” ucapnya.

Dosen Arsitektur di Universitas Udayana ini mengatakan, ia menggunakan metode mengajar yakni beberapa menit di awal atau menjelang akhir, selalu menyisipkan hal-hal yang baru atau situasi yang akan/sedang kita hadapi, memberikan pesan-pesan dan lain-lainnya.  Jadi menurutnya, guru-guru, tanpa disebutkan ada mata pelajaran ini pun, seharusnya kreatif memberikan pesan-pesan. Misalkan ketika akan musim hujan, anak-anak diimbau untuk bersiap-siap bawa jas hujan atau payung. Demikian halnya, jika ada gempa, tanah longsor, dan bencana lainnya, apa tindakan pertama yang harus dilakukan anak-anak, itu semestinya bisa diberikan oleh semua guru.

HADAPI BENCANA BUKAN TAKUTI

Rumawan Salain mengatakan, pelajaran siaga bencana (simulasi) tersebut bisa juga disampaikan pada semester pertama, atau pada saat pembagian rapor. “Mungkin saja para guru ini kreatif, bisa membuat tari gejor (gempa bumi) misalkan. Anak-anak bermain dengan tari, seolah-olah ada gempa bumi dan bagaimana menyelamatkan diri. Tari Gejor ini akan luar biasa, bisa jadi yang pertama di Indonesia membuat simulasi gempa bumi melalui kesenian,” ujarnya antusias.

Apalagi, Bali kaya dengan kesenian. Mungin saja dengan cara seperti itu, orang lebih mudah mengerti terutama anak-anak. Bencana alam jangan ditakuti tapi kita hadapi dengan cara yang seperti apa, dalam tarian inilah bisa disosialisasikan.

Sementara kita belum bisa meniru sebuah tempat di Fukuoka yang menjadi tempat simulasi gempa, angin ribut, kebakakaran, dan bencana lainnya, Rumawan Salain mengatakan simulasi melalui sebuah program komputer bisa diberikan untuk anak-anak. Dengan memakai cara bermain, dalam artian permainan yang menjadi inti dari simulasi tersebut, diharapkan anak-anak akan lebih mudah menangkapnya.  .

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah rasa panik ketika bencana terjadi. Hal ini sangat manusiawi, karena itu perlu juga dilatih pengendalian diri untuk memahami situasi, tak hanya ketika menghadapi bencana alam, juga untuk hal-hal darurat lainnya, seperti ketika kena air panas, atau luka lainnya, apa yang harus dilakukan pertama. “Kita belajar bagaimana urutan berpikir, misalkan jika ada petir, matikan televisi, telepon seluler, dll. Saya kira pesan-pesan seperti ini bagus sekali dilakukan,” ujarnya. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top