Sehat

Kenali Penyakit Psoriasis

dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked.

Istri Caesar “Yuk Keep Smile” divonis menderita penyakit  psoriasis. Apa itu penyakit psoriasis?

Menurut dr. Made Agus Hendrayana, M.Ked., psoriasis adalah penyakit peradangan pada kulit yang bersifat kronis atau menahun. Psoriasis berasal dari bahasa Yunani “psora”yang berarti gatal, ketombe atau ruam.

“Gejala psoriasis seperti timbulnya plak berwarna kemerahan yang berbatas tegas dengan adanya skuama atau sisik tebal berlapis berwarna putih keperakan. Penyakit psoriasis biasanya lebih sering timbul pada daerah  siku dan lutut, bisa juga pada kulit kepala, punggung bagian bawah, bokong,” ujar Magister Ilmu Kedokteran Tropis, Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya ini.

Di bawah skuama atau sisik kulit akan tampak kulit berwarna kemerahan mengkilat dan tampak bintik-bintik perdarahan pada saat diangkat. Plak dengan sisik pada kulit tadi bila digores dengan benda yang agak lancip  akan menyebabkan terjadinya perubahan warna lebih putih seperti tetesan lilin.

Dokter Agus Hendra menyebutkan, gejala psoriasis yang timbul bisa berbeda-beda pada setiap penderita tergantung derajat keparahannya. Ukurannya dapat bervariasi mulai dari plak yang berukuran kecil sampai dengan plak yang luas pada area tubuh tertentu. Pada tipe yang berat penyakit ini dapat mengenai seluruh area tubuh. Penyakit psoriasis yang paling sering diderita adalah tipe psoriasis vulgaris.

Ia  mengatakan, psoriasis dapat terjadi pada siapa saja pada semua usia. Beberapa penelitian melaporkan penyakit ini biasanya dimulai pada usia 10–30 tahun dan jenis  kelamin laki-laki dan wanita mempunyai risiko yang sama. “Orang dengan riwayat keluarga menderita psoriasis memiliki resiko terkena lebih besar,” jelasnya.

Dokter yang mendapat pelatihan di  Springschool on Tropical Medicine, Infectious Diseases and Molecular Biology, UMG, Göttingen, Germany dan Microbiology Research and Diagnostic, Erasmus Medical Centre, Rotterdam, Netherland ini, mengatakan, penyebab yang pasti penyakit psoriasis belum diketahui dengan pasti. Namun,  sekarang ini,  penyakit psoriasis diyakini dipengaruhi adanya kelainan pada sistem imun tubuh seseorang dan dipengaruhi juga  faktor genetik, terutama melibatkan interaksi yang komplek antara sel-sel kulit dan sel-sel radang pada sistem imun yang berlangsung lama atau kronis sehingga menimbulkan gejala kelainan pada kulit.

Para ahli menduga banyak faktor yang diperkirakan sebagai pemicu timbulnya psoriasis, seperti adanya infeksi bakterial, trauma fisik, hormonal, stress psikologis, gangguan metabolisme,  dan sindroma metabolik.

Ia menyatakan, penyakit psoriasis dapat diketahui atau didiagnosis berdasarkan hasil wawancara dengan pasien serta melihat dari gambaran klinis lesi kulit penderita. Tingkat keparahan suatu penyakit psoriasis pada penderita dapat diukur dengan menggunakan metode tertentu untuk dapat ditentukan cara pengobatannya.

Pemeriksaan lain yang mungkin diperlukan adalah pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan biopsi kulit atau pemeriksaan histopatologi  dengan menggunakan pewarnaan khusus  dan diamati di bawah mikroskop.

Dosen pengajar di Fakultas Kedokteran Unud ini mengatakan, sebelum memberikan pengobatan, seorang dokter mesti menilai derajat keparahan dan tipe dari penyakit psoriasis ini. Umumnya penyakit psoriasis memberikan respon yang baik terhadap pengobatan. Sebagian besar obat-obatan ini memberikan efek sebagai imunomodulator dan anti radang atau kortikosteroid. “Psoriasis dengan tipe yang ringan belum perlu diberi pengobatan karena dapat sembuh dengan sendirinya,” kata Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Unud.

Penyakit psoriasis dapat diobati dengan pemberian obat topikal atau obat luar serta obat sistemik atau obat minum serta pada tipe tertentu dapat diterapi dengan fototerapi menggunakan sinar Ultra violet B (UVB).

Wakil Ketua IDI Cabang Denpasar menyarankan, beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini terutamanya adalah mencegah terjadinya penurunan daya tahan tubuh dengan menjaga pola hidup sehat. “Usaha untuk mencegah kekambuhannya adalah menghindari atau mengurangi faktor pencetus, yaitu stres psikis, infeksi fokal, perubahan hormonal, dan konsumsi obat-obatan yang berlebihan,” sarannya. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

 

To Top