Kolom

SAMURAI 7

Dan malam itu, lagi asyik nonton TV, terdengar suara ledakan. Amat langsung tiarap.

“Bommmm!” teriak Amat sambil menarik istrinya ke lantai. Bu Amat mengelak dan lari ke pintu, melihat keluar.

“Mungkin cuma ban mobil meletus, Pak!”

Amat bangun, tapi suara ledakan menyentak lagi. Amat  berteriak. Bu Amat ikut menjerit.

Kemudian ledakan beruntun. Keduanya pandang-pandangan. Baru ketahuan itu petasan.

“Aduh, untung bukan bom! Petasan, Pak! Petasan, bukan bom! Orang yang kelebihan uang!”

Amat berdiri lagi sambil misuh-misuh.

“Padahal petasan sudah dilarang kok masih saja ada yang bandel. Apa manusia memang senang berperang?! Nanti kalau segalanya amburadul, baru ngutuk perang, tapi sambil main petasan!”

Amat ketawa geli. Tapi tiba-tiba ia  terkejut.

“Awas, Bu!” teriak Amat sambil mundur masuk kamar.

“Bukan bom! Petasan,   Pak! Petasan! Jangan terlalu penakut jadi orang!”

Amat muncul lagi panik. Ia membawa samurai sambil menunjuk  ke pintu di balik punggung istrinya.

“Lari, Bu!!”

Bu Amat ketawa.

“Pengecut! Petasan!”

Amat menghunus samurai.

“Lari!”

Bu Amat cekikikan.

“Kenapa harus lari?!”

“Lari! Jangan lihat ke belakang!”

Ah? Ada apa kok sibuk amat?”

Bu Amat mau menengok ke belakang. Tapi perampok yang memakai selongsong kepala hitam itu, sudah membekuk lehernya dari belakang sambil menutup mulutnya.

Amat cepat maju sambil mengangkat samurai siap menebas. Tapi perampok menaruh golok di leher Bu Amat. Amat mati langkah

“Letakkan senjata kamu! Atau leher nenek gaek ini aku putus!”

Amat gemetar.

“Jangan Bos!”

“Diam! Letakkan senjata!”

Amat terpaksa meletakkan samurai.

“Bapak mau apa? Jangan menyakiti perempuan, apalagi sudah nenek gaek.”

Bu Amat mau protes.

“Diam! Kenapa kamu bilang aku menyerbu bertiga, padahal aku single fighter?

“Saya tidak pernah bilang begitu!”

“Jangan bohong! Aku ada rekamannya!  Kenapa kamu bilang aku menyerang seratus kali dan kamu hanya mengayunkan samurai hanya satu kali sudah bikin aku kabur. Itu fitnah, penghinaan keji. Aku tersinggung! Aku kabur bukan karena takut sama kamu! Aku kebelet tahu! Bangsat! Bawa sini samuraiku!

Bu Amat terkejut.

“Samuraiku?”

“Diam! Mau koit kamu!”

“Ampun, jangan Bos!”

“Diam! Bawa ke mari samuraimu!”

“Baik.”

“Cepat!”

“Cepat Pak, leherku hampir putus.”

“Diam! Cepat!”

Amat membawa samurai ke dekat rampok itu.

“Sangkutkan di pinggangku! Cepat, cepat!”

“Sedang laksanakan, Pak!”

“Hati-hati jangan menggelitik kamu, nanti golokku motong leher nenek gaek ini! Sudah? Mundur tiga langkah!”

Amat mundur.

“Satu setengah langkah lagi!”

Amat menurut.

“Bangsat! Bukan dua, satu setengah! Kamu kira aku tidak tahu kamu mau ambil senapan di meja itu?”

“Itu bukan senapan, tongkat, Bos!”

“Diamm!”

Amat mau menjawab tapi Bu Amat berteriak.

Diem, pak!”

“Kamu juga diem!”

Amat dan istrinya tak berani berkutik lagi.

Perampok itu mengeluarkan HP lalu masang video ke arah Amat.

“Aku minta klarifikasi transparan. Aku bukan bertiga tapi berlima! Waktu aku menyerbu menusuk membabi buta, kamu hanya menghunus samurai dan aku bersama lima anak buahku terpental 100 meter. Dalam hitungan tiga ucapkan itu secara jelas, aku rekam sekarang. Mulai. tiga, dua, satu, action! Mulai!”

Amat bingung.

“Mulai Pak, leher saya sudah mau dipotong!”

Amat mulai membuat pernyataan:

“Saya Amat, menyatakan dengan ini, pengakuan saya kemarin di TV bohong. Yang betul, perampok itu datang 50 orang.”

“Kebanyakan! Lima cukup! Dan jangan bilang perampok tapi Robin Hood!”

Amat memperbaiki.

“Maaf, maksud saya Robin Hood datang ber -…. lari Buuuu!”

Bu Amat membuat gerakan menipu dan berhasil mengecoh lalu melepaskan lehernya dari golok dan mencopot topeng perampok.

Bersamaan dengan itu, Amat menarik samurai dan meletakkan di leher rampok yang sudah tersingkap wajahnya.

Amat berteriak heran. Ternyata rampok itu, adalah anak muda yang menjual samurai itu dulu.

“Gila! Jadi kamu??”

Rampok itu terkejut. Dia berbalik mau menyelamatkan diri, tapi kakinya tidak terangkat. Lantas dia tumbang. Jatuh bergelimpang ke lantai.

“Tolong! Tolonggg! Aku mau dieksekusi…!”

Amat dan istrinya bengong, pandang-pandangan. Rampok itu terus sambat.

“Jangan bunuh aku, Pakkk! Istriku mau melahirkan! Aku tidak punya duit bayar dokterrr. Tolonggg!”

Suaranya memelas dan cadel. Amat cepat menarik istrinya supaya segera lari. Tapi Bu Amat menahan suaminya, seperti terhipnotis oleh suara rampok itu.

“Jangan bilang sama mereka, Pak! Nanti aku digebukindi sini. Aku bisa koit. Kasihan anakku. Aku kan  bukan rampok, aku cuma mau ambil samuraikuuuuu! Betull! Kasihan, Paaaak!! Sudah ada yang nawar satu M! Lumayan, kan?”

Amat kembali menarik istrinya.

“Ayo!”

“Tunggu! Sudah ditawar berapa?”

“Satu M,  Pak.”

Amat dan istrinya terkejut.

“Satu M, Pak!”

“Satu M??”

“Tapi aku maunya 2 M!”

“Tapi ini kan samurai palsu!”

“Orang itu nonton TV, dia kagum sama pengakuan Bapak. Dia percaya samuraiku sakti, dia tidak tahu aku cuma akting lari! Dia aku tipu mentah-mentah ha-ha-ha …”

Perampok itu tertawa geli. Tapi kemudian tak bisa menyetop ketawanya, hingga kesakitan oleh ketawa.

“Teler Bu!”

“Tapi kalau betul satu M?”

“Ha-ha-ha tolongggg, bagaimana caranya berhenti ketawa? Ha-ha-ha  Tolongggg! Tolong, Pakkk! Ha-ha-ha ….”

To Top