Kreasi

Youtube Satire Kreatif dari Sacha Stevenson

Sacha Stevenson

Media sosial saat ini memang tengah gencarnya digunakan oleh banyak kalangan. Mulai anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Keberadaan media sosial mendatangkan manfaat yang beragam bagi penggunanya. Mereka cenderung mencari informasi sesuai dengan selera mereka. Mereka pun tidak tsayat untuk mengutarakan pendapatnya tentang suatu fenomena. Hal itu sungguh menarik jika kita mampu melihat media sosial sebagai lahan untuk menebar informasi yang kreatif, inovatif, dan inspiratif. Orang-orang akan mendapat manfaat dari informasi yang diberikan, dan kita pun mendapat saran, kritik, dan pujian untuk menjadi lebih baik.

Setelah facebook, twitter, instagram, kini youtube tidak kalah penting. Banyak sekali orang-orang ingin mendapatkan informasi dengan kemasan visual dan tampilan yang digital. Mereka perlu hiburan yang dipilih secara langsung oleh mereka. Berbeda dengan televisi yang menyuguhkan tontonan yang tidak ingin kita lihat. Nampaknya, keadaan seperti ini dimanfaatkan dengan baik oleh Sacha Stevenson.

Perempuan kelahiran Kanada 1982 itu melihat bahwa membuat video, mengunggah video di youtube merupakan suatu peluang pekerjaan. Youtuber bisa jadi sebuah profesi. Saya ingin menjadi youtuber sejak 2010. Orang di negara Barat sudah main youtube dan sudah menjadi profesi. Tapi waktu itu saya belum lihat youtube terkenal di Indonesia. Setelah youtube dipakai banyak orang, saya pun coba-coba buat video. Lama-kelamaan akhirnya bisa jadi profesi juga. Saya tidak suka kerja yang ada bosnya. Kalau youtuber saya sendiri bosnya,” tutur istri dari Angga Prasetya tersebut.

Berkat video How to Act Indonesian nama Scaha Stvenson mulai mendapat banyak respons dari penikmat youtube. Hingga kini sebanyak 287.751 subscriber  telah menjadi penonton setia video-videonya. Genre komedi mendominasi video Scaha. “Awalnya iseng-iseng aja buat video, ternyata semakin lama, semakin banyak. Dan saya juga cenderung komedian sih. Saya pikir Indonesia belum siap dengan komedi seperti itu. Gaya komedi saya sedikit satire, tapi setelah melihat respons dari pengguna youtube ternyata mereka suka juga,” jelasnya. (Wulan)

 

Mau jadi Artis TV, Buktikan Dulu di Youtube

Di balik kesuksesannya saat ini, Sacha belajar dari pengalamannya. Dulu Ia sempat mengikuti casting di berbagai televisi namun ditolak. “Yah, dulu saya pernah ikut casting tapi sulit dan sering ditolak. Pernah dulu main beberapa kali tapi tidak lagi. Kalau ikut seperti itu yang memilih kan sutradaranya, kalua buat video di youtube ya tidak ada. Jadi siapa saja bisa jadi artis sekarang. Malahan bagus, kalau mau jadi artis TV, buktikan dulu di youtube,” terangnya.

Bagi Sacha, untuk membuktikan bakatnya di dunia akting tidak perlu hanya di TV. Karena seniman itu perlu wadah untuk berkreativitas. Harus ada wadah untuk menyalurkan bakatnya. Dan youtube mampu menjadi ruang kreativitas yang baik. Tidak hanya itu, kegiatan ini pun merupakan pekerjaan baginya sekarang.

Ketika sudah mampu membuktikan kepiawaiannya di youtube berkat banyolan yang cerdik, banyak tawaran untuk menjadi pemain di TV atau film, namun ditolaknya. “Tahun 2013 banyak tawaran untuk main di TV, saya pun pikir-pikir lagi ya. Karena saya sedang asik urus channel youtube. Di sini saya bisa tulis naskah, bisa akting, bisa bebas berkreativitas.

Walau bisa dibilang tidak punya atasan, namun ibu satu anak itu pun harus konsisten untuk unggah video sekali seminggu. Proses menulis naskah, rekaman, editing, memakan waktu satu sampai dua hari. Bila video itu gagal, itu merupakan kesalahannya sendiri. “Kalau video itu tidak menarik penonton, saya akan menyalahkan diri saya karena video itu gagal karena saya. Itu saya harus bisa, menerima kesalahan sendiri. Tantangannya juga saya harus tahu apa yang penonton inginkan. Itu cukup sulit. Yang saya mau, belum tentu penonton juga mau kan, jadi itu tantangannya,” tuturnya.

Pengikut Sacha di youtube berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari orang Indonesia yang tinggal di desa, yang kuliah di luar negeri, sampai orang asing. Mulanya dia memang membuat video ini untuk orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri yang sedang rindu dengan negaranya. Namun, penonton semakin meluas dan dari berbagai profesi. “Pernah suatu ketika saya lihat bapak-bapak di pompa bensin, dia tanya ini Sacha yang ngomong bahasa Sunda di youtube ya? Saya jadi senang, karena di daerah pelosok pun mereka masih suka nonton saya,” ungkap penggemar olahraga kettlebel itu.

Banyak penggemar berbanding lurus dengan banyak penghujat, atau kini lebih dikenal dengan hater. Menanggapi soal orang yang tidak suka video Sacha, kini Sacha tidak ambil pusing. Baginya, di mana pun pasti ada saja yang tidak suka. “Siapa saja bisa punya hater, punya facebook saja juga ada kok yang gak suka. Kalau yang tidak suka video saya, gampang aja ya tidak perlu nonton video saya,” tukasnya.  

Ditanya soal pengalaman menariknya selama menjadi youtuber, dia mengsaya pertemuannya dengan Iwan Fals adalah pengalaman tak terlupakan. “Waktu itu saya diminta oleh Iwan Fals untuk datang ke rumahnya dan menjadi MC di salah satu konsernya. Wah, itu pengalaman yang menarik. Saya pikir saya diundang oleh Iwan Fals karena anaknya suka nonton video saya ehehe.. harusnya saya yang minta ketemu Iwan Fals ya..,” katanya.

Tidak sedikit orang-orang tertarik dengan tema yang segar dan kemasan yang unik dari melihat channel Sacha Stevenson di youtube. Ide-ide tersebut didapatkan dari lingkungan sekitar “Dimana saja saya dapat ide. Misalnya kelakauan orang asing di Indonesia. Di Bali saya lihat banyak bule lecet. Saya pikir hanya satu dua orang, ternyata banyak. Orang asing itu beda dengan yang di Jakarta dan Pengandaran. Ketika saya tanya, mereka bilang jatuh dari sepeda motor. Ya di Bali kan bisa sewa motor, jadi mereka tidak terbiasa pakai sepeda motor. Kejadian seperti itu unik, dan saya jadikan tema untuk video saya.”

Ketika tema dan topik sudah ditentukan, langkah selanjutnya adalah memikirkan konsep. “Biasanya sambil duduk ngopi setengah jam satu jam. Lalu buat brainstorm dulu, seleksi, tulis naskah, rekam, dan edit. Bisa satu hari atau dua hari selesai. Yang diperlukan biasanya kamera, clip on, softfile untuk edit, saya sekarang pakai final cut 10,” ujarnya.

Menurut perempuan yang sudah 16 tahun tinggal di Indonesia, youtube bukan sekadar tempat untuk berkreativitas. Youtube baginya adalah sejarah. Sejarah Indonesia dari sudut pandang dia. Ditanya tentang tokoh idola, Sacha menggemari alm. Bob Sadino yang sederhana tetapi karirnya selalu bernas.

Sebagai perempuan yang aktif mengikuti isu-isu sosial, Sacha menyampaikan pandangannya. “Kesetaraan gender itu untuk siapa aja. Untuk perempuan, jangan jadi victim. Berhenti menyalahkan orang lain. Saya tidak suka perempuan dipukulin, ya saya pun tidak suka laki-laki dipukulin. Kalau mau kesetaraan gender ya harus semua. Tidak menutup laki-laki atau perempuan,” tukasnya menutup perbincangan. (Wulan)

To Top