Griya

Kap Lampu Terinspirasi Topi Petani

Rotan menjadi salah satu material pilihan yang dipakai sebagai mebel maupun kap lampu. Alasannya sederhana, selain ringan, karakter rotan adalah lentur sehingga mudah dibentuk.

Banyak pengerajin lokal kemudian memanfaatkan rotan ini sebagai bahan utama untuk kap lampu. Seperti Widia Lamp, usaha kap lampu yang dijalani pasutri Sudarmaji dan Widia sejak tahun 2005, yang berlokasi di Jalan Pengubengan Kauh, Denpasar, Bali ini.

Widia mengakui, beberapa model kap lampu adalah hasil dari kreasi suaminya. Biasanya Sudarmaji mendapatkan inspirasi dari apa yang dilihatnya di sekitar. Model terbaru adalah caping, yang bentuknya terinspirasi dari topi petani. “Saat ini, model caping dan tudung saji yang paling banyak diorder,” jelas Widia yang customernya kebanyakan bule Perancis dan Spanyol ini. Mereka umumnya menyukai finishing natural dan hitam dop. Kap-kap lampu ini mereka jual kembali di negaranya.

Widia Lamp juga mengerjakan kap lampu dari bahan sintetis. Namun, customer lebih memilih bahan rotan karena lebih natural, meskipun sintetis jauh lebih awet daripada rotan. “Bahan sintetis sifatnya awet dan tahan lama. Bisa ditaruh di dalam maupun di luar ruangan serta kuat kena panas dan hujan. Sedangkan, bahan rotan tidak direkomendasikan terpapar sinar matahari langsung dan juga hujan. Karena itu, sebaiknya apapun yang bermaterial rotan diletakkan di dalam ruangan,” paparnya.

Selain diminati tamu mancanegara, kap lampu rotan juga disukai tamu lokal yang lebih banyak diperuntukkan di vila-vila. Banyak model kap lampu yang bisa menjadi pilihan selain model caping dan tudung saji. Ada model bubu ikan yang terinspirasi dari bawaannya pemancing, ada model rambutan, belimbing, ufo, donat, bola, dll., yang diberi nama sesuai dengan bentuknya.

Widia menjelaskan, proses pembuatan kap lampu ini dimulai dari membuat rangka besi, yang kemudial dimal lalu dilas. Selanjutnya, besi itu dicat sesuai warna akhir yang diinginkan (lebih banyak warna hitam dan natural), kemudian baru rotan dianyam pada rangka besi tersebut. Selesai dianyam, ada proses pembakaran atau istilah mereka “dikomporin” untuk menghilangkan bulu-bulunya. Proses berikutnya diamplas halus dan diakhiri dengan finishing sesuai dengan warna yang dipesan.

Perawatan kap lampu rotan ini sederhana. Cukup disapu bulu (di sapu dengan kemoceng) atau bisa juga dilap dengan kain sedikit basah, namun harus segera dikeringkan. Karena rotan yang basah atau dalam keadaan lembab berisiko jamuran. Sementara untuk kap lampu rotan yang warnanya sudah pudar, solusinya bisa diamplas lagi dan dimelamin. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Terkini

To Top