Connect with us

Bunda & Ananda

Kesgilut Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

Published

on

drg. Ni Made Agustini Dewi Rinjani

Semua yang berkaitan dengan kesehatan anak menjadi hal penting dan menarik untuk dipelajari, sebagai bekal dalam mengasuh dan membesarkan anak, termasuk kesehatan gigi dan mulut. “Penyakit gigi dan mulut berdampak pada proses tumbuh kembang anak. Mereka yang terkena penyakit gigi dan mulut menjadikannya rawan kekurangan gizi. Rasa sakit pada gigi dan mulut menurunkan selera makan, kemampuan belajar juga menurun sehingga akan berpengaruh pada prestasi belajar. Anak pun menjadi enggan beraktivitas fisik,” ungkap drg. Ni Made Agustini Dewi Rinjani.

Ia menyebut ada beberapa masalah gigi susu yang sering dijumpai pada anak. Pertama, gigi berlubang. Lubang gigi/karies gigi, disebabkan karena infeksi bakteri. Jika tidak dirawat, lubang gigi akan semakin besar dan dalam, berakibat infeksi mencapai persarafan gigi bahkan gigi menjadi mati (non-vital).

Jika gigi berlubang,  anak mengalami kesulitan mengunyah makanan. Jika berlanjut, dapat berujung pada penurunan nafsu makan, yang dalam jangka panjang, anak menjadi kurang gizi. Infeksi gigi yang berlanjut ke jaringan lunak dapat menyebabkan terjadinya abses (seperti bisul berisi nanah). “Untuk itu, periksakan ke dokter gigi sedini mungkin. Meski akan digantikan dengan gigi tetap, gigi susu yang berlubang harus tetap dirawat karena gigi susu berfungsi sebagai panduan untuk pertumbuhan gigi tetapnya,” jelas drg. Agustini.

Perawatannya berupa tindakan pencegahan, penambalan, atau perawatan saraf jika infeksi sudah mencapai rongga saraf gigi (pulpa gigi). Pencabutan dilakukan jika gigi sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

Advertisement

Kedua, gigi tidak rata. Gigi menjadi tidak rata jika ada gigi susu yang tanggal secara dini, sehingga gigi kehilangan panduan untuk tumbuh. Akhirnya gigi tumbuh di luar posisi normal. Dapat juga terjadi gigi tetap tumbuh di belakang/depan gigi susu yang seharusnya sudah tanggal. “Gigi menjadi berjejal dan makanan terjebak. Jika tidak dibersihkan, daerah ini berisiko mengalami karies gigi,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jika gigi susu tanggal secara dini, ruangan bekas gigi yang dicabut harus tetap dipertahankan untuk tempat pertumbuhan gigi tetapnya nanti. “Dokter gigi akan membuatkan alat yang disebut “space maintainer”. Gigi tidak rata juga dapat diperbaiki dengan perawatan orthodontik menggunakan kawat gigi (behel). Untuk pasien anak sebaiknya perawatan orthodontik dilakukan oleh dokter gigi spesialis gigi anak (drg. Sp.KGA),” ucapnya.

BACA  Rumitnya Adopsi Anak, Ini Penjelasan Ruben Onsu

Ketiga, gigi susu tanggal akar. Anak yang terbiasa minum susu botol untuk pengantar tidur, umumnya mengalami karies rampan. Ciri khasnya adalah hampir seluruh mahkota gigi depan rusak dan tinggal akarnya saja. Akar ini sebaiknya dicabut, sebab berpotensi menjadi tempat berkumpulnya kuman yang menyebabkan pembengkakan gusi (abses) yang berisi nanah penuh kuman, dan dapat menyebar lewat pembuluh darah menuju organ-organ vital seperti ginjal, jantung, hingga ke otak (focal infection). “Anak dengan karies rampan harus diobservasi oleh dokter gigi. Apabila dilakukan pencabutan, dianjurkan pembuatan space maintainer,” ucapnya.

Keempat, gigi maju (tonggos). Anak dengan kebiasaan buruk seperti menghisap jari, bibir bawah atau dot berisiko memiliki gigi tonggos. Saat gerakan menghisap, jari akan memberi tekanan pada langit-langit mulut serta menyebabkan gigi terdorong ke depan. Tingkat keparahannya bergantung pada berapa lama, posisi jari, dan frekuensinya. Jika kebiasaan buruk ini cepat dihentikan, kemungkinan posisi gigi akan baik dengan sendirinya (self-correction). Makin lama kebiasaan ini dilakukan, kemungkinan dibutuhkan perawatan khusus. “Setelah pemeriksaan yang menyeluruh, baru dapat dipastikan apakah diperlukan perawatan orthodontik untuk memperbaiki posisi gigi depan yang maju,” ujarnya.

Lalu, usia berapakah anak harus mulai membersihkan gigi dan mulutnya? Sebaiknya anak mulai membersihkan gigi dan mulutnya sejak dini. Bersihkan mulut bayi usai menyusu, terutama bila minum susu formula (kaleng). Atau sejak gigi susu mulai tumbuh pada usia 6 bulan. Caranya, jari telunjuk si ibu dibungkus kasa  (perban) yang telah dicelup air hangat atau menggunakan sikat gigi khusus bayi.           Apabila gigi bayi sudah terbiasa dibersihkan, perkenalan terhadap sikat gigi pada anak menjadi mudah. “Ketika masih bayi tidak perlu menggunakan pasta atau obat kumur, ditakutkan ada bahaya tertelannya bahan-nahan tersebut,” ingat drg. Agustini.

Advertisement

Selain pada gigi, terdapat juga permasalahan pada mulut. Jika diperhatikan dengan seksama, terkadang muncul lapisan putih pada bagian dalam mulut anak. Itu kemungkinan “candidiasis”, sejenis jamur bernama “candida albicans”. Jamur ini bisa mengenai pipi bagian dalam, lidah, gusi dan langit-langit. Bentuknya berupa selaput putih seperti susu. Jika lapisan putih ini diangkat secara paksa dengan cara digosok atau dikerok, akan meninggalkan jaringan kemerahan.

BACA  Komunikasi Face to Face

Sebenarnya dalam rongga mulut orang sehat terdapat jamur ini sekitar 30-60 %, namun tanpa keluhan. Ketika daya tahan tubuh menurun karena sakit atau karena kurangnya asupan gizi, jamur ini akan tumbuh aktif dan meluas. Bisa juga dikarenakan penggunaan obat kumur atau minum antibiotik dalam jangka lama, juga jika anak kurang menjaga kebersihan gigi dan mulutnya. “Karena itu, sebaiknya anak dibawa ke dokter gigi untuk diobati dengan anti jamur,” sarannya.

Anak juga sering mengalami sariawan di sudut mulutnya. Faktor penyebab, di antaranya kekurangan vitamin C. Karena itu, beri anak buah-buahan dan sayur-mayur. Selain itu bisa diberi tambahan suplemen vitamin C. Sariawan juga bisa terjadi karena terluka oleh suatu goresan. Misalnya pemakaian sikat gigi yang bulu sikatnya terlalu kasar/rusak atau ukuran sikat gigi terlalu besar, serta tekanan yang terlalu keras ketika menyikat gigi.

Perbaikan pola makan dan asupan gizi akan meningkatkan daya tahan tubuh anak sehingga mampu terhindar dari sariawan. Sariawan akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Jika keadaan tidak membaik bahkan bertambah parah, sebaiknya bawa anak ke dokter gigi.

Penanganan pertama yang bisa dilakukan, berkumur dengan air hangat. Jika sariawan selalu hilang muncul, pergilah ke dokter gigi untuk meminta obat yang tepat. Untuk pencegahan, anak diajak menjaga kebersihan rongga mulut, asupan nutrisi yang cukup, yang mengandung vitamin B12 dan zat besi.

Advertisement

Untuk mengatasi, hendaknya dicari penyebabnya. Bila penyebabnya gigi berlubang (caries), maka gigi harus ditambal. “Karena itu, sebaiknya diperlukan kontrol ke dokter gigi tiap 3 bulan sekali,” ingatnya.

 

MUNGKINKAH ANAK MENDERITA BAU MULUT?

Bau mulut atau halitosis, penyebabnya kemungkinan karena keadaan gigi yang tidak terawat, dan cara menyikat gigi yang tidak benar. Timbunan sisa makanan karena kesalahan menyikat gigi dapat menyebabkan radang gusi  (gingivitis), yang menimbulkan bau kurang sedap pada mulut.

BACA  APSAI Kota Denpasar Luncurkan Album “Anak Kreatif”

Gigi berlubang yang tidak ditambal, dapat menjadi wadah timbunan sisa makanan, sehingga  terjadipembusukan yang menimbulkan bau mulut. Gigi berlubang yang tidak dirawat, lama-kelamaan akan mati (gangraen), menimbulkan bau akibat adanya gas gangraen.

Advertisement

Tidak  hanya masalah pada gigi, bau mulut juga dapat disebabkan oleh adanya kelainan pada lambung. Untuk mencegah bau mulut, sebaiknya gigi yang berlubang segera ditambal dan menyikat gigi dengan benar untuk menghindari munculnya plak (plaque). (inten.indrawati@cybertokoh.com)

 

TIPS MERAWAT GIGI ANAK SEJAK DINI

  1. Minum susu dengan gelas. Selesai menyusu, bersihkan sisa susu pada gigi bayi dengan air putih untuk mencegah karies gigi. Biasakan anak minum susu dengan gelas atau sendok jika sudah memasuki usia dua tahun.
  2. Hindari isap ibu jari. Alihkan perhatian anak setiap kali ia mengisap ibu jari atau memasukkan benda asing ke rongga mulutnya. Sembarangan menggigit benda bisa menyebabkan gangguan susunan gigi atau maloklusi dan mengganggu pencernaan anak.
  3. Latihan mengunyah. Latih anak untuk mengonsumsi makanan padat sesuai tahapan perkembangan usianya. Proses ini membuat anak mengenali berbagai tekstur makanan dan merangsang tumbuh kembang rahang dan gigi geligi.
  4. Kurangi ngemil. Banyak mengonsumsi makanan manis dan minum soda memicu terjadinya plak dan produksi asam yang mengakibatkan demineralisasi email. Beri anak alternatif makanan kecil lain yang sehat seperti buah-buahan.
  5. Sikat gigi dengan benar. Menurut survei, 93,8% masyarakat Indonesia sudah menyikat gigi dua kali sehari. Sayangnya, 77,1% di antaranya masih belum benar melakukannya. Ajarkan dan dampingi anak menyikat gigi dengan benar dari arah gusi ke gigi selama minimal dua menit. Alih-alih saat mandi, waktu ideal sikat gigi yakni pagi hari sesudah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
  6. Biasakan ke dokter gigi. Sejak masih berusia satu tahun, ajak anak mengunjungi dokter gigi tiap enam bulan sekali. Jangan takut terkena biaya mahal karena kini telah banyak layanan berkualitas yang terjangkau di Puskesmas dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM).

Bunda & Ananda

KPAI Berharap Kemenkes Mempercepat Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Published

on

Anak-anak antusias mengikuti vaksinasi Covid-19 (cybertokoh/dok. BNPB)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap akan menjadikan anak berpotensi menjadi pembawa Covid-19 setelah beraktivitas di luar rumah dan menularkannya kepada orang lain. Karenanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sangat mendorong agar vaksinasi anak usia 6-11 tahun dapat dipercepat.

“KPAI sangat mengapresiasi kerja keras BPOM dan para ahlinya sehingga memberi izin penggunaan vaksin Sinovac untuk anak usia 6-11 tahun. KPAI berharap agar Kementerian Kesehatan bisa segera memberikan vaksinasi tersebut pada anak usia 6-11 tahun,” ujar Retno LIstyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan.

PAUD/TK dan SD, kata Retno, sudah mulai menggelar PTM (pembelajaran tatap muka). Mereka belum divaksin dan sulit dikontrol perilakunya. Karenanya KPAI berharap Kemenkes bisa segera memberi mereka vaksin. Meskipun diketahui bahwa Kemenkes baru bisa memberi mereka vaksin pada awal 2022.

Advertisement

Menurutnya, pandemi Covid-19 berdampak sangat luas terhadap perkembangan anak dalam hal kesehatan (fisik dan mental), aspek sosial juga pendidikan. Saat Juni-Juli 2021, pada saat tingkat infeksi Covid-19 cukup tinggi di Indonesia, kelompok anak yang terinfeksi cukup banyak. Mencapai 2,9% untuk usia 0 – 5 tahun dan 10% untuk usia 6 – 18 tahun.

Sejumlah negara yang mengalami penurunan kasus, saat ini kembali mengalami kenaikan kasus. Kondisi tersebut mungkin sekali dialami juga oleh Indonesia. Oleh karena itu, sangat penting menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang dapat mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus Covid-19 pada anak, termasuk perlunya vaksinasi untuk usia anak.

BACA  Kenalkan Anak dengan Tradisi melalui Lomba

Di bagian lain Retno menjelaskan soal survei singkat persepsi peserta didik tentang vaksinasi anak usia 12-17 Tahun yang dilakukan oleh KPAI. Survei yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi google form ini diikuti oleh 86.286 partisipan/responden dari jenjang pendidian SD/MI/SLB (10%), SMP/MTs/SLB (40%), MA/SMA/SMA/SLB (50%). Adapun asal daerah para partisipan berasal dari 34 Provinsi di Indonesia, bahkan diikuti juga peserta didik dari Sekolah Indonesia Luar negeri (SILN), yaitu SILN Singapura dan SILN Filipina.

Ada beberapa temuan dari hasil survei tersebut, di antaranya 88% anak bersedia menerima vaksin, ragu-ragu 9% dan menolak vaksin 3%. Meskipun bersedia menerima vaksin, namun banyak dari mereka belum ada kesempatan untuk mendapatkannya.

“Baru 36% yang sudah beruntung mendapatkan vaksin, sedangkan 64% di antaranya belum divaksin,” jelas Retno sembari menambahkan, dari data tersebut menggambarkan belum meratanya vaksinasi anak di berbagai daerah di Indonesia.

Advertisement

Sebanyak 3% responden tidak bersedia divaksin dengan berbagai alasan. Di antaranya ada yang menyatakan tidak perlu vaksin yang penting menerapkan protokol kesehatan. Ada juga yang beralasan memiliki komorbid sehingga secara medis tidak bisa divaksin.

“Tapi ada juga yang menolak vaksin karena tidak yakin dengan merk vaksin tertentu. Itu jumlahnya 8%. Ada juga yang bilang, divaksin tidak menjamin tidak tertular Covid-19 (8%) dan tidak diijinkan orangtuanya untuk vaksin (7%),” papar mantan kepala sekolah SMAN 3 Jakarta, ini.

BACA  Berbagi Bantal Bisa Tularkan Sakit Mata?

Menurut Retno, meski yang tidak bersedia divaksin hanya 3% dari 86.286 responden, namun hal tersebut tetap perlu menjadi pertimbangan untuk ditindaklanjuti pemerintah, Misalnya melalui pendekatan berbasis sekolah/madrasah yang melibatkan pendidik di sekolah.

Anak-anak yang sudah divaksinasi mengaku pasca divaksin merasakan nyeri ditempat suntikan dilakukan (41%); lapar atau haus (16%); rasa lelah (11%); sakit kepala (4%); demam (3%); mual atau muntah (1%); dan sisanya jawabannya lainnya (24%). Namun begitu, efek dari vaksin yang dirasakan anak, tidak ada yang parah apalagi sampai di rawat di rumah sakit.

Hasil Pengawasan Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun

Advertisement

Selain melakukan survei tentang program vaksinasi anak dengan sasaran responden anak usia 12-17 tahun, KPAI juga telah melakukan pengawasan langsung ke 7 sekolah terkait program vakinasi anak di sejumlah sentra vaksin sekolah di wilayah DKI Jakarta. Di antaranya di SMPN 161 Jakarta Selatan, SMPN 88 Jakarta Barat, SMPN 270 dan SMPN 30 Jakarta Utara, SMAN 22 Jakarta Timur, SDN Pasar Baru 07 dan SMAN 20 Jakarta Pusat.

Sepanjang pantauan KPAI di media massa, ada sejumlah daerah yang sudah melakukan vaksinasi anak usia 12-17 tahun sejak Juli 2021, di antaranya : Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, bahkan Papua . Sementara vaksinasi anak yang baru mulai digelar bulan Agustus 2021, di antaranya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

BACA  APSAI Kota Denpasar Luncurkan Album “Anak Kreatif”

Tidak ditemukan kasus vaksinasi anak yang berefek berat di setiap sentra pengawasan vaksinasi anak. Namun di Bali ada 2 kasus anak mengalami pusing dan terjatuh setelah divaksin, tepatnya saat observasi pasca vaksin dan langsung mendapatkan pertolongan.

Setelah diperiksa di IGD oleh dokter, ternyata anak mengaku belum sarapan dan tidur terlalu larut sehingga pasca vaksin mengalami pusing dan jatuh pingsan. KPPAD Bali sebagai mitra KPAI sudah mendatangi sekolah dan kediaman kedua anak tersebut. “Saat bertemu, anak dalam kondisi sudah sangat membaik,” kata Retno.

Terkait dengan permasalahan vaksinasi anak, KPAI mengeluarkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya adalah mendorong percepatan vaksinasi anak usia 12-17 tahun karena capaiannya masih rendah yaitu 4,5 juta dari target 26 juta anak.

Advertisement

“Jika pemberian vaksinasi anak usia 12-17 tahun belum dapat dituntaskan pada Desember 2021 ini maka program vaksinasi anak usia 6-11 tahun akan tertunda,” ujarnya.

KPAI mendorong para orangtua yang memiliki anak-anak usia 6-17 tahun segera divaksin. Jangan ditunda, jangan memilih milih merek vaksin. KPAI yakin bahwa vaksin Covid yang ada aman, berkhasiat dan bermutu.

“Ingat, vaksin adalah hak anak-anak Anda. Berikan haknya, izinkan dan antar mereka untuk divaksin. Vaksin Sinovac sudah digunakan untuk anak usia 6-11 tahun di sejumlah negara, seperti China, Chile, Kolumbia dan Kuba,” jelas Retno. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Bunda & Ananda

Peran Orangtua Sangat Penting Dalam Membiasakan Anak Taat Prokes

Published

on

Para pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’ (Tangkapan Layar-Diana Runtu)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Mengajarkan anak-anak menerapkan protokol kesehatan (prokes), apalagi yang usianya di bawah lima tahun, bukan hal yang mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Asalkan orangtua mau melakukan pengajaran terus menerus, mengingatkan, juga memberi pengertian, anak-anak akan bisa patuh melaksanakan prokes.

Hal ini disampaikan oleh dr. Grace Hananta, salah satu pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’, Senin (8/11). Selain Grace, yang juga menjadi narasumber talkshow tersebut adalah dr. Piprin Basarah Yanuarso (Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI), dr. Siti Nadia Tarmizi (Juru Bicara Kemenkes untuk Vaksin Covid-19).

“Saya melihat banyak anak-anak usia 1,5-2 tahun sudah pandai menggunakan masker. Mereka tetap memakainya meskipun tengah bermain dengan teman-temannya. Itu juga terjadi pada anak-anak saya yang masih usia 3,5 tahun dan 5,5 tahun. Mereka sangat disiplin memakai masker, bahkan kadang mengingatkan orangtuanya,” ungkap dr. Grace yang rajin mengkampanyekan prokes di media sosial miliknya.

Advertisement

Menurut Grace, sejak awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, dia telah mengajarkan anaknya yang kala itu—anak bungsu—baru berusia 2 tahun untuk memakai masker.Namanya anak-anak, memang tidak mudah. Namun asalkan orangtua telaten mengajarkannya, melakukannya secara berulang-ulang, termasuk memberi pengertian, pasti bisa. Ajaran yang dilakukan berulang kepada anak, akan masuk dalam pikiran mereka dan anak akan menurut orangtua.

“Jadi peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk menaati prokes. Bukan hanya mengajarkan dan memberi pengertian, tapi juga memberi contoh. Jadi orangtua pun harus taat prokes, anak-anak melihatnya,” tutur Grace sembari menyarankan, bahwa yang terbaik adalah memberi pengertian pada anak bukan menakut-nakuti.

Hal senada juga disampaikan oleh dr. Piprin Basarah Yanuarso, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menurutnya, anak-anak jika diajarkan dengan telaten, mereka pasti bisa memakai masker.

BACA  Perkenalkan Anak: Permainan Non-Gadget yang Mengasyikkan

“Saya memiliki pasien kecil-kecil, usianya 1-1,5 tahun. Tapi mereka sudah pintar memakai masker. Sampai-sampai saya tanyakan, kok pintar betul anak ibu memakai masker. Para ibu menjawab, itu karena mereka mengajarkan anak secara terus menerus,” jelas Piprin.

Jadi kuncinya ada pada orangtua. Jika anak diajarkan secara terus menerus, juga diberi penjelasan, mereka akan menurut pada orangtuanya. “Kita (orangtua) bisa mengajarkan anak-anaknya untuk menjalani prokes, utamanya ketika berada di luar rumah (outdoor). Tapi saya ingatkan, sebaiknya, kalau tidak perlu sekali, tidak usah keluar rumah.

Advertisement

Vaksinasi Anak Sangat Penting
Selain prokes yang melindungi anak dari penyakit, kata dr Piprin, juga diperlukan vaksinasi Covid-19 untuk anak. Pihak IDAI, ujarnya, sangat menyambut baik keputusan memperluas vaksinasi yang sebelumnya usia 12-17 tahun, menjadi 6-11 tahun.

“Pada prinsipnya anak-anak yang bertubuh sehat tanpa komorbid, dibolehkan untuk vaksinasi. Kecuali, dalam beberapa kasus berat misalnya anak yang sedang infeksi berat, demam akut, sedang dirawat karena pneumonia, kanker dengan pengobatan sitostatiska dosis tinggi. Atau, anak yang menderita penurunan imunitas seperti HIV berat atau imunodefisiensi berat,” paparnya.

Untuk anak-anak yang memiliki masalah kronik, asalkan terkontrol dengan baik, seperti penyakit jantung bawaan misalnya, atau leukemia, itu bisa konsultasi dengan dokter anak yang biasa merawatnya guna mendapatkan surat keterangan layak vaksin.

Jadi, tandas dr Piprin, pada prinsipnya kebanyakan anak bisa divaksin. Karenanya, para orangtua jangan khawatir. “Insyaallah vaksinasi Covid ini aman. Bahkan beberapa studi terkait efek sampingan, itu jauh lebih ringan daripada orangtua. Efektivitasnya pun lebih tinggi dibanding orang dewasa,” jelasnya.

Sempat, kata Piprin ada yang menyebut ‘Buat anak kok coba-coba’. Hal ini tidak benar. Vaksinasi anak bukan coba-coba karena telah melalui uji klinis fase 1 dan 2. “Jadi bukan coba-coba. Justru kalau orangtua tidak membawa anak-anaknya untuk divaksin, malah mereka coba-coba,” katanya.

Advertisement

Efek sampingan pasca vaksin biasanya bersifat local. Seperti; agak demam, nyeri di sekitar bekas suntikan. Berdasarkan survey, sekitar 4-5% mengalami agak demam, 90% nya tidak mengalami efek sampingan.

BACA  Perbedaan Bersatu dalam Permainan

“Kalau anak masih ceria saja, masih lari ke sana-kemari. Kemungkinan anak tersebut oke-oke saja. ‘Sumeng’ sedikit, tapi dia masih lincah, orangtua tak perlu terlalu khawatir. Anak memahami bahasa tubuhnya. Karena kalau dia memiliki masalah serius, dia akan diam, tidak aktif,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar orangtua melakukan observasi terhadap anaknya sebelum maupun setelah divaksin. Mempersiapkan anak dengan baik. Seperti, mengingatkan anak agar cukup beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berlebihan baik sebelum dan sesudah vaksin.

Anak Rentan Terhadap Infeksi
Dalam kesempatan itu dr.Grace juga mengingatkan kepada orangtua tentang pentingnya vaksinasi pada anak. “Selain prokes 3 M 5 M, vaksinasi penting sekali. Karenanya saya sangat bersyukur dengan adanya keputusan penggunaan darurat vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun. Anak saya belum mencapai usia itu, tapi tahun depan dia akan 6 tahun, jadi sudah bisa mendapatkannya,” kata Grace.

Anak-anak, lanjut Grace, rentan terhadap infeksi. Jika terpapar Covid-19, mereka cenderung menjadi OTG (orang tanpa gejala). Karenanya penting bagi anak untuk bisa segera mengakses vaksinasi, selain untuk melindungi dirinya juga keluarga. Apalagi sekarang ini pembelajaran tatap muka sudah mulai digelar secara bertahap di sekolah-sekolah. “Jadi kami orangtua sangat menunggu adanya vaksinasi anak usia 6-11 tahun,” ucap wanita cantik ini.

Advertisement

Imunitas anak, tambahnya, belumlah sebaik orangtua. Anak usia di bawah 5 tahun yang terkena Covid, memiliki risiko meninggal hingga 50%. Karenanya penting dilakukan antisipasi dengan vaksinasi. Prokes dan vaksinasi adalah cara untuk melindungi diri dan keluarga dari Covid-19.

BACA  Ayudia: Jago IT yang Juara Nulis Aksara Bali

“Kita para orangtua bisa menjaga kesehatan anak dengan baik. Yakni dengan mengajarkan anak disiplin prokes. Juga memberi mereka vaksinasi. Masker atau prokes melindungi dari luar dan vaksinasi melindungi dari dalam. Dengan begitu kita juga anak-anak sehat dan bisa melewati pandemic Covid ini dengan baik,” katanya.

Terkait vaksinasi terhadap anak usia 6-11 tahun, Juru Bicara Kemenkes untuk vaksin Covid-19 dr. Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, saat ini tengah dipersiapkan petunjuk teknisnya. Data sementara peserta yang akan divaksin sekitar 26-27 juta anak. Itu artinya diperlukan dosis tambahan.

Nantinya, anak-anak usia 6-11 tahun akan memperoleh vaksin Sinovac dua dosis. IDAI merekomendasikan dosis yang diterima anak-anak sama dengan dosis yang diterima orang dewasa. Rentang waktu antara dosis pertama dan kedua 28 hari. Cara pendaftaranya, sama seperti vaksinasi-vaksinasi yang sudah dijalankan selama ini yaitu, system vaksinasi satu data. Diperlukan nomor induk kependudukan (NIK) anak.

“Jadi mumpung vaksinasi anak 6-11 tahun belum berjalan, para orangtua mulai sekarang melakukan persiapan, khususnya terkait administrasi. NIK anak ada di kartu keluarga. Jika anak belum memiliki NIK, agar segera ke kelurahan atau kecamatan setempat untuk mengurusnya. Karena NIK itu dipakai sebagai identitas saat kita memulai vaksinasi,” jelas Nadia seraya menambahkan kegiatan vaksinasi ini rencananya bekerja sama dengan sekolah-sekolah.

Advertisement

“Biasanya anak akan lebih termotivasi jika dilakukan di sekolah, ketimbang di Puskesmas. Karena di sekolah ada teman-temannya. Anak akan melihat teman-temannya divaksin,” katanya.

Selain itu, lanjut Nadia, vaksinasi juga akan dilakukan pada anak penyandang disabilitas. “Kita akan kerja sama dengan sekolah luar biasa juga komunitas-komunitasnya. Sedang untuk anak yang tidak berada di bangku sekolah, kita akan kerja sama dengan Dinas Sosial. Misalnya anak jalanan, dsb,” paparnya panjang lebar. (Diana Runtu)

Continue Reading

Bunda & Ananda

Ny. Putri Koster Ingatkan Pentingnya Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menekankan pentingnya fase tumbuh kembang anak-anak sejak dalam kandungan, sehingga hendaknya bukan hanya saat anak lahir baru dipersiapkan oleh orang tua. Karena, hal ini juga menjadi indikator pertumbuhan kesehatan fisik dan mental anak-anak sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Ny. Putri Koster saat menjadi keynote speaker dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Prov Bali yang bertemakan ‘Melindungi Anak-Anak Bangsa Menuju Indonesia Maju’ secara virtual dari Jayasabha, Denpasar, Sabtu (31/7).

Pada webinar mengangkat topik ‘Peranan Keluarga di Masa Pandemi dalam Membangun Indonesia Maju’ ini, Ny. Putri Koster bahkan mengatakan jika dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas, cerdas, berakhlak mulia serta berbudi pakerti yang luhur, sejatinya juga harus disiapkan oleh calon orang tua sejak remaja. “Nah ini seperti rantai, kita menyiapkan para remaja putra dan putri kita untuk siap menjadi orang tua yang bisa mencetak generasi penerus yang sehat jasmani dan rohani. Jika rantai ini terus terjaga tanpa jeda, niscaya Indonesia akan dipenuhi oleh generasi bangsa yang berkualitas,” ujarnya.

Advertisement

Pendamping orang nomor satu di Bali itu juga mengatakan, TP PKK yang diketuainya juga sedang menggalakkan program pencegahan stunting pada anak-anak. Dalam webinar ini juga sangat berkaitan dengan program tersebut.

BACA  Pererat Hubungan Anak dan Orangtua dengan Membaca Bersama

“Webinar ini sangat berkaitan dengan program kerja kami. Karena, ketika kita bisa menyiapkan sedini mungkin bahkan selama dalam kandungan anak-anak kita, secara bersamaan juga bisa mencegah stunting,” ungkapnya.

Ia pun menegaskan, ini menjadi peranan seluruh komponen dalam menyiapkan tumbuh kembang anak-anak, baik orang tua, aparat desa hingga pemerintah demi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang mereka.

“Terutama bagi orang tua, sejak anak-anak remaja persiapkan mereka menjadi orang tua yang baik bagi calon anak mereka. Untuk aparat desa, pantau terus lingkungan sekitar, jika memang dirasa ada yang aneh terutama anak-anak kita, laporkan dan ambil tindakan. Jangan pikir anak-anak sudah di rumah aman-aman saja. Kekerasan juga terkadang ada di rumah,” imbuhnya.

Selain tumbuh kembang anak, Ny. Putri Koster juga berpesan tentang bahaya narkoba serta ancaman pedofilia pada anak-anak. “Ini pentingnya peranan dari orang tua serta keterlibatan lingkungan anak-anak dala menjaga generasi penerus kita,” tambahnya dalam acara webinar yang turut dihadiri sekitar 400 peserta. Ia mengatakan penting sekali juga para orang tua untuk mendapat edukasi, agar bisa menghindarkan anak-anak dari ancaman-ancaman tersebut.

Advertisement

Sementara Ketua PDSKJI Bali dr. Ida Bagus Wisnu Wardana mengatakan webinar kali ini bertujuan untuk mengedukasi para orang tua serta lingkungan tempat tinggal anak supaya bisa menjaga serta membesarkan anak-anak dengan baik di tengah pandemi. Ia mengakui, memang banyak tantangan dalam menghadapi anak-anak apalagi selama pandemi ini. Ia pun berharap melalui webinar kali ini bisa memberikan inspirasi dan masukan bagi para orang tua.

BACA  Fleksibilitas Tubuh sangat Mendukung

Webinar pagi itu menghadirkan narasumber Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS; dr. Dewa Ayu Shinta Widari, SpKJ, MARS; dr. I Dewa Gede Basudewa, SpKJ; dan Dr. dr.  Anak Ayu Sri Wahyuni, SpKJ.

Sebagai penutup, tak lupa Ny. Putri Koster menyimpulkan ujung dari pembentukan karakter adalah keluarga. Sehingga ia mengajak para orang tua, terutama para ibu untuk mulai memperhatikan tumbuh kembang mental anak-anak. Ia juga berharap agar acara seperti ini bisa sering diadakan karena sangat berguna bagi keluarga.

Pada akhir acara, Ny Putri Koster juga berkesempatan menampilkan puisi bertajuk ‘Aku Melihat Indonesia’ yang ia bacakan di panggung terbuka Ardha Candra, Art Center. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Tren