Bunda & Ananda

Kesgilut Pengaruhi Tumbuh Kembang Anak

drg. Ni Made Agustini Dewi Rinjani

Semua yang berkaitan dengan kesehatan anak menjadi hal penting dan menarik untuk dipelajari, sebagai bekal dalam mengasuh dan membesarkan anak, termasuk kesehatan gigi dan mulut. “Penyakit gigi dan mulut berdampak pada proses tumbuh kembang anak. Mereka yang terkena penyakit gigi dan mulut menjadikannya rawan kekurangan gizi. Rasa sakit pada gigi dan mulut menurunkan selera makan, kemampuan belajar juga menurun sehingga akan berpengaruh pada prestasi belajar. Anak pun menjadi enggan beraktivitas fisik,” ungkap drg. Ni Made Agustini Dewi Rinjani.

Ia menyebut ada beberapa masalah gigi susu yang sering dijumpai pada anak. Pertama, gigi berlubang. Lubang gigi/karies gigi, disebabkan karena infeksi bakteri. Jika tidak dirawat, lubang gigi akan semakin besar dan dalam, berakibat infeksi mencapai persarafan gigi bahkan gigi menjadi mati (non-vital).

Jika gigi berlubang,  anak mengalami kesulitan mengunyah makanan. Jika berlanjut, dapat berujung pada penurunan nafsu makan, yang dalam jangka panjang, anak menjadi kurang gizi. Infeksi gigi yang berlanjut ke jaringan lunak dapat menyebabkan terjadinya abses (seperti bisul berisi nanah). “Untuk itu, periksakan ke dokter gigi sedini mungkin. Meski akan digantikan dengan gigi tetap, gigi susu yang berlubang harus tetap dirawat karena gigi susu berfungsi sebagai panduan untuk pertumbuhan gigi tetapnya,” jelas drg. Agustini.

Perawatannya berupa tindakan pencegahan, penambalan, atau perawatan saraf jika infeksi sudah mencapai rongga saraf gigi (pulpa gigi). Pencabutan dilakukan jika gigi sudah tidak dapat dipertahankan lagi.

Kedua, gigi tidak rata. Gigi menjadi tidak rata jika ada gigi susu yang tanggal secara dini, sehingga gigi kehilangan panduan untuk tumbuh. Akhirnya gigi tumbuh di luar posisi normal. Dapat juga terjadi gigi tetap tumbuh di belakang/depan gigi susu yang seharusnya sudah tanggal. “Gigi menjadi berjejal dan makanan terjebak. Jika tidak dibersihkan, daerah ini berisiko mengalami karies gigi,” tegasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jika gigi susu tanggal secara dini, ruangan bekas gigi yang dicabut harus tetap dipertahankan untuk tempat pertumbuhan gigi tetapnya nanti. “Dokter gigi akan membuatkan alat yang disebut “space maintainer”. Gigi tidak rata juga dapat diperbaiki dengan perawatan orthodontik menggunakan kawat gigi (behel). Untuk pasien anak sebaiknya perawatan orthodontik dilakukan oleh dokter gigi spesialis gigi anak (drg. Sp.KGA),” ucapnya.

Ketiga, gigi susu tanggal akar. Anak yang terbiasa minum susu botol untuk pengantar tidur, umumnya mengalami karies rampan. Ciri khasnya adalah hampir seluruh mahkota gigi depan rusak dan tinggal akarnya saja. Akar ini sebaiknya dicabut, sebab berpotensi menjadi tempat berkumpulnya kuman yang menyebabkan pembengkakan gusi (abses) yang berisi nanah penuh kuman, dan dapat menyebar lewat pembuluh darah menuju organ-organ vital seperti ginjal, jantung, hingga ke otak (focal infection). “Anak dengan karies rampan harus diobservasi oleh dokter gigi. Apabila dilakukan pencabutan, dianjurkan pembuatan space maintainer,” ucapnya.

Keempat, gigi maju (tonggos). Anak dengan kebiasaan buruk seperti menghisap jari, bibir bawah atau dot berisiko memiliki gigi tonggos. Saat gerakan menghisap, jari akan memberi tekanan pada langit-langit mulut serta menyebabkan gigi terdorong ke depan. Tingkat keparahannya bergantung pada berapa lama, posisi jari, dan frekuensinya. Jika kebiasaan buruk ini cepat dihentikan, kemungkinan posisi gigi akan baik dengan sendirinya (self-correction). Makin lama kebiasaan ini dilakukan, kemungkinan dibutuhkan perawatan khusus. “Setelah pemeriksaan yang menyeluruh, baru dapat dipastikan apakah diperlukan perawatan orthodontik untuk memperbaiki posisi gigi depan yang maju,” ujarnya.

Lalu, usia berapakah anak harus mulai membersihkan gigi dan mulutnya? Sebaiknya anak mulai membersihkan gigi dan mulutnya sejak dini. Bersihkan mulut bayi usai menyusu, terutama bila minum susu formula (kaleng). Atau sejak gigi susu mulai tumbuh pada usia 6 bulan. Caranya, jari telunjuk si ibu dibungkus kasa  (perban) yang telah dicelup air hangat atau menggunakan sikat gigi khusus bayi.           Apabila gigi bayi sudah terbiasa dibersihkan, perkenalan terhadap sikat gigi pada anak menjadi mudah. “Ketika masih bayi tidak perlu menggunakan pasta atau obat kumur, ditakutkan ada bahaya tertelannya bahan-nahan tersebut,” ingat drg. Agustini.

Selain pada gigi, terdapat juga permasalahan pada mulut. Jika diperhatikan dengan seksama, terkadang muncul lapisan putih pada bagian dalam mulut anak. Itu kemungkinan “candidiasis”, sejenis jamur bernama “candida albicans”. Jamur ini bisa mengenai pipi bagian dalam, lidah, gusi dan langit-langit. Bentuknya berupa selaput putih seperti susu. Jika lapisan putih ini diangkat secara paksa dengan cara digosok atau dikerok, akan meninggalkan jaringan kemerahan.

Sebenarnya dalam rongga mulut orang sehat terdapat jamur ini sekitar 30-60 %, namun tanpa keluhan. Ketika daya tahan tubuh menurun karena sakit atau karena kurangnya asupan gizi, jamur ini akan tumbuh aktif dan meluas. Bisa juga dikarenakan penggunaan obat kumur atau minum antibiotik dalam jangka lama, juga jika anak kurang menjaga kebersihan gigi dan mulutnya. “Karena itu, sebaiknya anak dibawa ke dokter gigi untuk diobati dengan anti jamur,” sarannya.

Anak juga sering mengalami sariawan di sudut mulutnya. Faktor penyebab, di antaranya kekurangan vitamin C. Karena itu, beri anak buah-buahan dan sayur-mayur. Selain itu bisa diberi tambahan suplemen vitamin C. Sariawan juga bisa terjadi karena terluka oleh suatu goresan. Misalnya pemakaian sikat gigi yang bulu sikatnya terlalu kasar/rusak atau ukuran sikat gigi terlalu besar, serta tekanan yang terlalu keras ketika menyikat gigi.

Perbaikan pola makan dan asupan gizi akan meningkatkan daya tahan tubuh anak sehingga mampu terhindar dari sariawan. Sariawan akan sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari. Jika keadaan tidak membaik bahkan bertambah parah, sebaiknya bawa anak ke dokter gigi.

Penanganan pertama yang bisa dilakukan, berkumur dengan air hangat. Jika sariawan selalu hilang muncul, pergilah ke dokter gigi untuk meminta obat yang tepat. Untuk pencegahan, anak diajak menjaga kebersihan rongga mulut, asupan nutrisi yang cukup, yang mengandung vitamin B12 dan zat besi.

Untuk mengatasi, hendaknya dicari penyebabnya. Bila penyebabnya gigi berlubang (caries), maka gigi harus ditambal. “Karena itu, sebaiknya diperlukan kontrol ke dokter gigi tiap 3 bulan sekali,” ingatnya.

 

MUNGKINKAH ANAK MENDERITA BAU MULUT?

Bau mulut atau halitosis, penyebabnya kemungkinan karena keadaan gigi yang tidak terawat, dan cara menyikat gigi yang tidak benar. Timbunan sisa makanan karena kesalahan menyikat gigi dapat menyebabkan radang gusi  (gingivitis), yang menimbulkan bau kurang sedap pada mulut.

Gigi berlubang yang tidak ditambal, dapat menjadi wadah timbunan sisa makanan, sehingga  terjadipembusukan yang menimbulkan bau mulut. Gigi berlubang yang tidak dirawat, lama-kelamaan akan mati (gangraen), menimbulkan bau akibat adanya gas gangraen.

Tidak  hanya masalah pada gigi, bau mulut juga dapat disebabkan oleh adanya kelainan pada lambung. Untuk mencegah bau mulut, sebaiknya gigi yang berlubang segera ditambal dan menyikat gigi dengan benar untuk menghindari munculnya plak (plaque). (inten.indrawati@cybertokoh.com)

 

TIPS MERAWAT GIGI ANAK SEJAK DINI

  1. Minum susu dengan gelas. Selesai menyusu, bersihkan sisa susu pada gigi bayi dengan air putih untuk mencegah karies gigi. Biasakan anak minum susu dengan gelas atau sendok jika sudah memasuki usia dua tahun.
  2. Hindari isap ibu jari. Alihkan perhatian anak setiap kali ia mengisap ibu jari atau memasukkan benda asing ke rongga mulutnya. Sembarangan menggigit benda bisa menyebabkan gangguan susunan gigi atau maloklusi dan mengganggu pencernaan anak.
  3. Latihan mengunyah. Latih anak untuk mengonsumsi makanan padat sesuai tahapan perkembangan usianya. Proses ini membuat anak mengenali berbagai tekstur makanan dan merangsang tumbuh kembang rahang dan gigi geligi.
  4. Kurangi ngemil. Banyak mengonsumsi makanan manis dan minum soda memicu terjadinya plak dan produksi asam yang mengakibatkan demineralisasi email. Beri anak alternatif makanan kecil lain yang sehat seperti buah-buahan.
  5. Sikat gigi dengan benar. Menurut survei, 93,8% masyarakat Indonesia sudah menyikat gigi dua kali sehari. Sayangnya, 77,1% di antaranya masih belum benar melakukannya. Ajarkan dan dampingi anak menyikat gigi dengan benar dari arah gusi ke gigi selama minimal dua menit. Alih-alih saat mandi, waktu ideal sikat gigi yakni pagi hari sesudah sarapan dan malam hari sebelum tidur.
  6. Biasakan ke dokter gigi. Sejak masih berusia satu tahun, ajak anak mengunjungi dokter gigi tiap enam bulan sekali. Jangan takut terkena biaya mahal karena kini telah banyak layanan berkualitas yang terjangkau di Puskesmas dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM).
To Top