Advertorial

SATYAGRAHA MINTA WARGA ADAT JENGAH BERUSAHA MINIMARKET : WEDAKARNA MINTA DESA ADAT TOLAK IZIN PENYANDING MINIMARKET BERJARINGAN

SATYAGRAHA – Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III hadir di minimarket Harta Utami di Desa Pedawa, Kabupaten Buleleng

Gerakan Sukla Satyagraha kini merambah ke seluruh Bali. Setelah menyasar warung makan, restoran dan industri makanan, kini Gerakan Satyagraha yang dilakukan oleh orang Bali, kini merambah bisnis minimarket. Gagasan Satyagraha yang ditemukan oleh tokoh muda Bali, Senator DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III adalah gagasan untuk memproteksi ekonomi orang Bali demi kepentingan kelestarian adat dan agama Hindu.

Sebagaimana terekam dalam kunjungan kerja Senator RI asal Bali ke Desa Pedawa di Buleleng yang menyempatkan hadir di mini market yang dimiliki oleh keluarga I Kadek Rizal Prasetya Harta Utama Putra. Kehadiran sosok Senator Arya Wedakarna tentu menjadi kejutan bagi keluarga di Desa Pedawa dan kontan menjadi perhatian masyarakat Desa. “Saya tidak menyangka usaha kami ini dikunjungi oleh pejabat negara. Kami ucapkan terimakasih atas perkenan dari Ratu Ngurah Wedakarna yang sudah hadir disini. Ini tidak akan kami lupakan,”ungkap Kadek Prasetya.

Terhadap hal ini, Gusti Wedakarna minta kepada seluruh masyarakat Bali agar segera mungkin mengambil peluang untuk membuka minimarket di desa, mengingat bisnis grosir adalah bisnis yang menjanjikan, selain itu juga dapat membantu perekonomian desa adat yang dijiwai oleh agama Hindu. “Saya mendukung jika minimarket lokal ini lebih banyak dihidupkan dan diberi izin. Karena bisnis lokal akan membantu kesejahteraan masyarakat desa. Saya cenderung menolak jika bisnis minimarket berjaringan nasional ada di Bali, mengingat belum tentu visinya sama dengan budaya Bali. Untuk itu saya meminta pada desa adat agar memberikan pendidikan pada warganya untuk tidak menyetujui izin penyanding jika ada minimarket berjaringan yang ingin membuka usaha di desanya. Jangan lupa, dari hasil penelitian, satu minimarket akan berpotensi menutup 10 warung orang Bali. Apalagi secara internal gaya hidup didesa masih mendewakan brand-brand minimarket nasional ini. Saya minta proteksi melalui sistem adat. Selain itu agar pemerintah kabupaten banyak mendukung usaha ini dengan izin yang mudah juga asistensi,” ungkap Gusti Wedakarna.

Selain itu, ia juga meminta agar masyarakat Bali selalu membelanjakan uangnya di warung, toko yang ada plangkiran alias milik orang Bali. “Mulailah sayang dengan sesama orang Bali dengan membelanjakan uang kita pada semeton Bali. Jika orang Bali dapat rezeki, maka rezekinya akan dipersembahkan kepada alam lewat banten, yadnya dan juga upacara. Dan belum tentu para pendatang bisa menjadi Parahyangan Bali. Astungkara tiang sendiri sudah memberikan contoh, bahwa semua kebutuhan rumah tangga di Puri, maupun di kantor-kantor serta organisasi kami, selalu berbelanja di warung orang Bali. Mangde sukla dan mangde suci sambil menolong sesama orang Bali,“ ungkap Gusti Wedakarna yang juga Pembina Asosiasi Pengusaha Pribumi Orang Bali (APPB).

To Top