Advertorial

CIA Pemayun, S.H., M.H. : Pemerhati Perempuan Bali

CIA Pemayun, S.H., M.H.

Melihat fenomena begitu mudahnya perceraian terjadi belakangan ini, membuat pemerhati perempuan CIA Pemayun, S.H., M.H. merasa prihatin. Sebagai wanita Bali yang telah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, ia ingin berbagi pengalaman  dengan sesama wanita Bali untuk menjadi wanita yang tangguh.

“Saya berharap tidak ada kata cerai bagi perempuan Bali. Bila sudah berkomitmen mengarungi hidup berumah tangga, maka itu harus dijaga sampai mati,” ucap Ketua Dharma Wanita Persatuan Provinsi Bali ini. Karena hidup berumah tangga itu bukan sebuah permainan. Sehingga sebelum memutuskan untuk berumah tangga, kedua belah pihak harus benar-benar siap dan yakin bahwa ini adalah pasangan yang tepat. Jangan sampai ditengah jalan, baru diterpa persoalan kecil dengan mudah mengucapkan kata “cerai”.

“Sebelum memutuskan berumah tangga, kita harus bertanya pada diri sudahkah mengerti apa itu berumah tangga,” ucapnya. Sehingga bila sudah berani memutuskan berumah tangga sudah harus bersiap diri dengan segala konsekuensinya. Jangan sampai begitu cepat memutuskan untuk berumah tangga, dan cepat juga memutuskan untuk bercerai.

Karena belakangan ini, ia melihat angka perceraian semakin meningkat. “Saya prihatin melihat ada wanita Bali yang umurnya masih tergolong muda, tapi sudah empat kali kawin cerai. Hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi,” tukasnya. Sebagai dosen hukum di Universitas Udayana, ia berharap wanita Bali yang tangguh mampu mempertahankan rumah tangga hingga akhir hayatnya.

“Wanita Bali itu sangat luar biasa. Mereka mampu menjalankan begitu banyak peran, mulai dari mengurus rumah tangga dan anak-anak, terjun ke adat yang sangat padat dan juga membantu suami mencari nafkah,” ucapnya. Ini adalah keunggulan wanita Bali yang tidak dimiliki oleh yang lain.

“Jadi sebagai wanita yang tangguh, mengapa harus begitu mudahnya menyerah terhadap rumah tangga? Kita dituntut untuk lebih bersabar terhadap berbagai cobaan,” imbuhnya.

Istri dari Cokorda Ngurah Pemayun, S.H., M.H. ini menyadari beratnya cobaan dalam berumah tangga, sehingga ia siap membantu para wanita Bali yang mengalami persoalan rumah tangga.

“Saya ingin membantu saudara saya wanita Bali yang merasa tersakiti dalam kehidupan rumah tangganya. Sehingga tidak mengambil langkah perceraian,” ucapnya. Dengan berkonsultasi atau bercerita sebagai seorang teman, ia berharap dapat membantu wanita Bali yang mengalami persoalan rumah tangga.

“Saya melakukan ini sebagai karma yoga, sebagai bakti saya kepada masyarakat Bali. Saya tidak memungut biaya,” tandasnya. Sehingga ia akan bekerja sama dengan media cetak dan membuat konsultasi, terkait persoalan rumah tangga. Yang sekiranya nanti dapat membantu lebih banyak wanita Bali. Tidak hanya yang mengkonsultasikan persoalannya, namun juga para pembaca yang kemungkinan mengalami persoalan serupa. Dan tentunya dijamin kerahasiaannya. (Purnama/sin)

To Top