Sehat

Kenali Kanker Usus Besar lebih Awal dengan Kolonoskopi

dr. Pande Made Gunawan Adiputra, SpB.KBD.

Kanker usus besar merupakan keganasan ketiga dan merupakan penyebab kematian urutan empat di seluruh dunia. Di Indonesia kejadian kanker usus besar sekitar 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa dengan angka kematian 9,5% dari seluruh kasus kanker. Dari data juga didapatkan sebanyak 8,5% ditemukan kasus kanker usus besar baru setiap tahunnya.

Menurut dr. Pande Made Gunawan Adiputra, SpB.KBD., seperti jenis kanker lainnya, kanker usus besar memerlukan penanganan multimodalitas dan pembiayaan yang cukup besar. Meskipun perkembangan teknik pengobatan akhir-akhir ini berkembang secara cepat dan sangat maju, namun hanya sedikit yang mampu meningkatkan harapan hidup penderita kanker usus besar apabila ditemukan pada stadium lanjut.

“Kunci utama keberhasilan penanganan kanker usus besar adalah dengan menemukan kanker ini pada stadium awal sehingga terapi dapat dilaksanakan secara bedah kuratif,” ujar dokter spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif RSUD Sanjiwani Gianyar ini.  Terapi pembedahan merupakan pilihan terapi paling efektif bila dilakukan pada kanker yang masih terlokalisir. Namun,  sebagian besar penderita di Indonesia datang pada stadium lanjut sehingga angka harapan hidup menjadi rendah. Penderita yang datang ke rumah sakit pada stadium lanjut umumnya karena gejala awal yang tidak jelas dan tidak mengetahui atau menganggap gejala awal sebagai hal yang biasa terjadi.

Ia menyatakan, skrining kanker usus besar memegang peranan penting. Skrining yang baik terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker usus besar karena melalui skrining akan lebih banyak ditemukan kanker pada stadium dini sehingga terapi dapat secara kuratif. “Kolonoskopi adalah  suatu tindakan yang dilakukan dokter dengan menggunakan tabung panjang lentur berkamera yang dihubungkan dengan layar. Alat ini dimasukkan dari anus sampai dengan seluruh usus besar. Kolonoskopi akan memberikan gambaran dari dinding usus besar yang disalurkan melalui layar monitor yang selanjutnya  dokter akan menganalisis kelainan yang ditemukan terutama ada tidaknya pertumbuhan kanker,” jelasnya.

Kolonoskopi memberikan beberapa keunggulan dibandingkan dengan pemeriksaan lainnya diantaranya akurasi mendiagnosis kanker usus besar mencapai 95%, bisa sebagai alat diagnostik karena mampu melakukan pengambilan contoh jaringan (biopsi) dan juga sebagai terapi pada kasus polip. Prosedur kolonoskopi berlangsung rata-rata 30 menit atau lebih bila disertai dengan prosedur tindakan lain.

Ia mengatakan, kolonoskopi perlu dilakukan pada individu yang dikatagorikan  mempunyai risiko tinggi untuk terkena kanker usus besar seperti individu dengan riwayat polip adenomatosa, individu dengan riwayat keluarga tingkat pertama menderita kanker usus,  individu dengan dengan diagnosis atau kecurigaan syndrome hereditary non-polyposis colorectal cancer (HNPCC) atau syndrome Lynch atau familial adenomatous polyposis (FAP) serta indvidu dengan riwayat infeksi usus besar lama (inflammatory bowel disease).

Beberapa gejala klinis yang memerlukan pertimbangan untuk dilakukan kolonoskopi antara lain terdapat darah pada saat BAB, nyeri perut yang tidak tertahankan, diare yang tidak kunjung sembuh (lebih dari 6 minggu), mengalami anemia dengan penyebab yang tidak jelas, mengalami penuruan berat badan yang drastis dalam 2 bulan terakhir.

Kolonoskopi sebagai skrining kanker usus besar sangat bermanfaat dalam penanganan kanker usus besar sehingga diperolah hasil yang optimal yaitu meningkatkan ketahan hidup, menurunkan tingkat kecacatan dan angka kematian penderita kanker usus besar. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

 

To Top