Kolom

Reuni, Yes or No?

Made Diah Lestari

Reuni menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pertemuan kembali (bekas teman sekolah, kawan seperjuangan, dan sebagainya) setelah berpisah cukup lama. Ahli lainnya mengungkapkan bahwa reuni berasal dari kata re yang berarti kembali dan uni yang berarti bersatu, sehingga reuni berarti kembali bersatu. Sejatinya reuni adalah sebuah aktivitas yang bertujuan untuk menyatukan dua orang atau lebih yang terpisah dalam kurun waktu tertentu. Dalam kebudayaan Indonesia, reuni berkaitan dengan perilaku berkumpul dan bersilaturahmi antar sesama, sehingga dalam budaya kita, reuni dapat diterima sebagai sebuah tradisi yang memiliki nilai positif dalam kehidupan.

Budaya Indonesia yang mengedepankan kolektivitas kelompok, menilai reuni sebagai sebuah tradisi yang mampu meningkatkan kelekatan antar anggota. Kelekatan antar pribadi dan kelompok menjadi sebuah kebutuhan yang utama dalam masyarakat kolektif, sehingga berkembang sebuah motto hidup dalam masyarakat kita, yakni, “mangan ora mangan yang penting ngumpul”. Sejak reuni dikenal dan menjadi tradisi, reuni telah menghadirkan rasa kebersamaan dan kelekatan antar sesama.

Media sosial memiliki peranan besar dalam aktivitas reuni dewasa ini. Beberapa media sosial yang bersifat membangun jejaring pertemanan, telah berhasil mempertemukan teman dan kerabat yang telah jauh terpisah selama sekian lama. Media sosial layaknya sebuah desa global (global village) yang mempertemukan sekian juta invidu dari berbagai belahan dunia dan zona waktu dalam satu media. Kemudahan akses inilah yang kemudian membuat individu menjadi semakin mudah untuk menemukan teman dan kerabat di masa lalunya.

Penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap pensiunan dan kelompok lansia, reuni dengan teman di masa sekolah memberikan dampak positif bagi kebahagiaan dan kesehatan di masa tua. Reuni mampu menghadirkan relatedness kemandirian, dan juga menghadirkan perasaan kompeten bagi lansia. Catatan paling penting adalah, setelah reuni, perlu dilakukan kegiatan follow up lainnya sehingga reuni tidak hanya berhenti hanya pada satu pertemuan saja. Bentuk kegiatan seperti berbagi pengalaman, bercerita terkait masalah yang dihadapi, menjenguk teman, dan menghadiri acara penting teman adalah bentuk kegiatan yang mampu menghadirkan kebersamaan. Melakukan hobi dan aktivitas fisik bersama seperti tracking, yoga, dan menari mampu meningkatkan kemandirian dan perasaan kompeten secara fisik pada lansia yang melakukan kegiatan bersama-sama dengan teman.

Melalui uraian di atas terlihat bahwa reuni memiliki dampak yang positif bagi seseorang, terutama pada kelompok lansia. Namun, perlu diingat beberapa hal agar reuni tidak berubah fungsi menjadi ajang untuk pamer dan justru mengurangi kadar kebersamaan antar teman, yakni hindari kecenderungan untuk melakukan perbandingan akan hal-hal yang bersifat material, menyapa setiap teman dengan tulus dan bercerita kenangan indah masa lalu, no gossip dan mengungkit kesalahan masa lalu, tampil apa adanya tanpa harus memaksakan diri untuk tampil sesuai dengan standar ideal kita, dan yang terakhir yang paling penting adalah menghindari cinta lama bersemi kembali, percayalah pada masa saat ini dan masa depan kita.

Pada akhirnya, bagaimana reuni mampu memberikan dampak yang positif, tergantung pada bagaimana seseorang memaknainya. Reuni akan semakin memberikan dampak positif jika tujuannya adalah untuk kebersamaan dan bagaimana setelah reuni tersebut, setiap orang yang hadir mampu menjaga kebersamaan yang ada. Reuni akan memberikan dampak negatif di saat pamer material dan terjebak pada kisah masa lalu yang menjadi tujuannya.

 

Made Diah Lestari

Dosen Ilmu Psikologi Univeraitas Udayana

To Top