Kolom

SAMURAI 6

Pak Sandi dengan warisannya rencana membeli rumah baru dan pindah. Ia nyicil pamitan pada seluruh warga. Terakhir  Pak Sandi sekeluarga mengunjungi keluarga Amat. Mereka membawa samurai palsu itu untuk dikembalikan.

“Kalau boleh terus terang saya keberatan Pak Sandi pindah,” kata Amat.

“Betul,” sambung Bu Amat,”tidak mudah mencari orang seperti Bapak dan Ibu untuk jadi ketua kelompok tetangga meniru-niru RT di Jawa di lingkungan kita ini. Itu kan juga atas usulan Pak Sandi sendiri untuk mengawasi orang masuk, supaya kita aman dari teroris, ya, kan Pak?!

Amat membenarkan..

“Betul. Beberapa blok lain juga sudah ikut bikin RT dalam rangka pertahanan wilayah! Pak Sani sebagai ketua RT mampu mengemong kita yang beraneka ragam suku, agama dan aliran politik ini.”

“Betul. Meskipun bukan putra daerah sini dan berlainan keyakinan dengan kami, Pak Sandi sama sekali diterima baik dan dipatuhi seluruh warga. Pak Sandi dan ibu sudah seperti saudara sendiri. Kenapa mesti pindah?”

Pak Sandi nampak kikuk lalu istrinya yang menjawab.

“Maaf, kalau saya boleh menjawab itu, Pak dan Bu Amat. Boleh kan, Mas?

Sandi mengangguk.

“Jadi begini Pak dan Bu Amat yang sangat kami segani. Sebetulnya berat buat kami sebelum memutuskan ini. Kami sangat mencintai hunian kita yang beragam tapi selalu kompak. Semua hari raya kita rayakan bersama yang di banyak tempat lain jadi masalah…. .”

Pak Sandi memotong.

“Maaf. Hanya tiba-tiba kami kejatuhan warisan besar sekali. Yang sama sekali tak terbayangkan. Uang memang berbahaya. Adik-adik tiri saya,  jadi berubah wataknya karena warisan itu. Saya jadi takut. Itu pasti juga akan berpotensi menyebabkan banyak perubahan dalam hidup kami. Kami takut, perubahan itu akan menjadi bibit yang bisa mengubah kami dan pasti akan menjadi masalah di sini.”

Bu Sandi memotong:

“Jadi, kalau kami pergi kami akan tetap bahkan makin mempererat hubungan kita. Kan begitu, Mas?”

Pak Sandi mengangguk.

“Betul sekali. Kami pamit Pak, Bu, maafkan kalau kami ada kesalahan. Dan ini samurai yang sudah menyelamat kami, kami kembalikan. Terimakasih atas saran Pak Amat. Betul sekali, untuk mencegah hal-hak tak diinginkan sesuai dengan saran Pak Amat warisan akan saya bagi dua untuk … .”

Bu Sandi memotong.

“Ya itu nanti saja, Mas, yang penting samurai penolong kita ini kita haturkan kembali, serta sedikit tanda mata, ya seratus juta begitu, mohon nanti di . .. .”

Dipotong Pak Sandi

“Ya, betul, kami sudah diselamatkan samurai ini. Kalau ini tidak ada, kedua debt collector kriminal itu sudah berhasil menipu kami. Jadi seperti saran Pak Amat, warisan saya berikan sebagian … . ”

Dipotong istrinya lagi

“Saya kira, begitu saja dulu, nanti kami terlambat ke travel cari tiket, itu mau ke Singapura dulu, rencananya nanti langsung naik kapal laut, kapal  wisata kapal pesiar ke Bangkok, ayo Mas, buruan nanti … . ”

“Sebentar kita selesaikan dulu .. .”

“Nanti terlambat. Permisi dulu, Pak, Bu Amat, ayo Mas!”

Bu Sandi menarik suaminya kasar.

“Sebentar. Jeng!”

“Terlambat! Ayo!”

Bu Sandi menarik suaminya sampai keluar dari kursi. Kursi jatuh. Amat dan istrinya bengong.

“Ayo!”

“Sebentar! Maaf Pak, Bu!”

“Ayo!”

Mereka bertengkar. Amat dan istrinya bingung. Bu Sandi menarik suaminya keluar. Pak Sandi terseret tapi bertahan di pintu.

“Tunggu, tunggu!”

“Kamu sudah ngaco, Mas!”

“Ini untuk perdamaian masa depan kita!”

“Kamu sudah kena pengaruh mereka! Kamu tidak berhak bertindak sendiri begitu!”

“Mereka adik-adikku!”

“Adik angkatmu penipu semua! Kamu dikerjain, ngerti!! Aku istrimu lebih berhak dari mereka!”

“Kamu tidak pernah mengerti!”

“Kamu yang tak punya perasaan, adik apa yang berani menipu begitu, adik setan!”

“Diam!”

Pak Sandi menampar istrinya. Bu Sandi menjerit! Lari. Pak Sandi nongol.

“Pak, Bu Amat, maaf ada konsleting sedikit!”

Amat mencoba menenangkan, tapi Bu Amat nyikut Amat.

“Ini yang saya takutkan. Biar miskin, kita tenang! Lihat, begitu ada uang mereka jadi berperang!”

Bu Sandi datang lagi.

“Aku nuntut harta goni-gini!”

Pak Sandi mau menampar lagi. Tapi duluan ditampar. Karena kaget Pak Sandi jatuh. Amat mau membantu tapi ditahan istrinya. Bu Sandi lari. Pak Sandi bangun mengejar istrinya.

Amat mau menyusul. Tapi ditahan Bu Amat.

“Jangan ikut campur urusan dalam negeri negara tetangga, Pak!”

“Mereka berantem!”

“Ya itu gara-gara Bapak menyarankan warisan dibagi dua sama saudara tirinya, kan?!”

“Ya tapi soalnya tak kira hanya 10 juta jebulnya M-Man!”

“Tak kira, tak kira apa?”

Amat bergerak mau nyusul. Ditahan.

“Hee, mau ke mana?”

“Sesama warga, kita harus damaikan mereka! Masak baru saja kita banggakan pendamai perbedaan warga, kok malah berkelahi sendiri?”

“Tidak usah, Pak! Bandel! Nanti dikira bantu Bu Sandi supaya dikasih seratus juta, ya? Dengar tadi apa kata Bu Sandi? Itu pasti salah omong atau telinga kita maunya begitu! Pasti bukan seratus juta, tapi seratus ribu! Uang itu berbahaya lebih dari bom, Pak!”

To Top