Kreasi

Dunia Sekar: Memahami Nilai-Nilai Hindu Sekaligus Berbagi

Selamat datang di Dunia Sekar, dunia anak-anak yang penuh keceriaan, yang disajikan dalam cerita-cerita yang dibalut kenakalan dan kelucuan perilaku mereka dalam menyikapi setiap persoalan sehari-hari. Ini adalah salam pembuka yang disampaikan tim Dunia Sekar.

Dunia Sekar merupakan dunia belajar karena disinilah anak-anak belajar mengenai Hindu dan mengetahui bagaimana Hindu memandang setiap permasalahan hidup. Dunia Sekar adalah juga dunia impian karena Dunia Sekar adalah dunia yang mencari kedamaian di tengah konflik, dunia yang mencoba mendalami makna kehidupan dan peran yang harus dijalankan oleh masing-masing anak di dunia ini.

“Dunia Sekar  lahir dari keinginan menghadirkan bacaan berkualitas untuk anak Hindu Indonesia. Sebagai umat Hindu yang lahir dan besar di Jakarta, saya merasakan kesulitan mengajarkan anak-anak konsep Hindu dengan cara sederhana dan merasakan betul bagaimana pelajaran agama Hindu diisi lebih banyak dengan menghapal ajaran,” ungkap Ninet Wardhana, penulis Dunia Sekar.

Ninet lalu mengajak beberapa alumni Keluarga Mahasiswa Hindu Universitas Indonesia untuk bergabung dalam tim ini. Ada 4 orang di Jakarta dan 3 orang di Bali. Tim inilah yang menggodok ide sampai menjadi buku. Mereka adalah Indra Adyana yang berkutat dengan media sosial juga ahli IT, Erica Pramesty yang sibuk dengan pemasaran, Panca Wiadnyana, seorang story teller  berbakat sekaligus sebagai public relations, Puput S. dan Diah Lestari sebagai psikolog yang memberikan advise bagaimana tulisan harus disesuaikan sehingga bisa memberikan parenting tip yang baik, Bagus Pietra yang aktif dalam pemasaran dan distribusi. Tim ini kemudian menunjuk Made Marthana Yusa, sebagai ilustrator yang menjadi pewarna manis bagi buku Dunia Sekar.

Team work itu sangat penting dan memiliki tim dengan komitmen dan spirit yang sama itu sungguh luar biasa. Kerja Dunia Sekar adalah kerja tim, bukan kerja individu. Karya seorang penulis akan menjadi sia-sia jika keseluruhan fungsi-fungsi dalam tim itu tidak dijalankan. Mereka mencoba membuatnya seprofesional mungkin di tengah kesibukan sebagai karyawan kantor  dan karena mereka ingin karya ini bermanfaat untuk orang banyak.

Ninet sebagai penulis memiliki pengalaman menulis cerita anak-anak di majalah anak-anak di masa lalu. Idenya pun mengalir begitu saja. Awalnya dari permasalahan anak-anak. Kini sudah ada dua buku yang dihasilkan, Dunia Sekar: Tat Twam Asi dan Dunia Sekar: Guru Rupaka. “Tat twam asi merupakan konsep dasar yang harus diketahui anak-anak Hindu. Tentang bagaimana kita harus menyayangi sesama karena aku dan engkau adalah sama. Kami prihatin melihat empati, simpati, respect, tenggang rasa mulai pudar. Sedangkan Guru Rupaka lahir dari keprihatinan makin banyak anak-anak tidak menghormati orangtua. Kami mengajak anak-anak untuk kembali menyayangi orangtua karena itu merupakan ajaran Hindu yang harus kita pegang supaya hidup kita damai,” jelasnya.

Konsep Dunia Sekar pada dasarnya mengingatkan nilai-nilai universal Hindu yang begitu indah dan harus dipahami untuk membuat anak-anak Hindu menjadi lebih baik. Ninet menambahkan anak menjadi penting  karena fondasi nilai yang kuat harus ada sejak kecil. Anak adalah generasi penerus. Jika tidak dibina sejak dini, yang ada adalah chaotic society ketika mereka beranjak dewasa.

Selama proses pengerjaan Dunia Sekar, tim ini mengaku lebih banyak sukanya karena ketika menjalankan niat baik dan fokus pada pelayanan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, anugerah dan karunia-Nya melimpah kepada tim  ini. “Kami bahagia bisa berbagi dengan anak-anak di desa.  Kami bahagia melihat respons yang begitu baik dari umat. Kami bahagia melihat anak-anak semangat mendengarkan sang dalang beraksi menceritakan tentang Dunia Sekar dan menyelipkan nilai-nilai moral dalam dongengnya,” ungkap Ninet.

BELI SATU SUMBANG SATU

Melalui buku ini, Ninet memiliki harapan membuat anak-anak memahami nilai-nilai dasar Hindu dan membuat mereka menjadi insan yang baik. Pesan kedua selain membaca dan membuat anak memahami nilai dasar Hindu adalah mengajak mereka berbagi.

Konsep buku Dunia Sekar ini “Beli Satu Sumbang Satu”. “Kami ingin tidak hanya mereka yang mampu yang bisa memiliki akses terhadap bacaan ini. Namun juga mereka yang di pelosok yang mungkin secara ekonomi tidak mampu atau tidak tahu bagaimana mengakses buku yang baik. Tiap penjualan satu buku ada komitmen tim Dunia Sekar menyalurkan buku gratis ke pelosok. Terima kasih kepada pembeli buku ataupun donatur. Lebih dari 1000 buku telah kami salurkan ke Kalimantan, Lampung, Lombok, Bali, dan Jawa Timur,” ujar Ninet.

Harapan lain dari tim Dunia Sekar tentunya ingin buku ini bisa menjangkau seluruh pelosok tanah air karena ingin buku ini berguna untuk anak-anak Hindu Indonesia. Hal yang mengharukan ketika Dunia Sekar: Tat Twam Asi diluncurkan, banyak sahabat non Hindu ingin ikut berbagi. “Mereka membeli buku dan disumbangkan  untuk umat Hindu tanah air. Dengan tulus mereka mengucapkan terimakasih kepada Dunia Sekar karena memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbagi. Itu kebahagiaan dan rasa haru kami yang tak terhingga,” kenangnya.

Ninet juga menuturkan banyak sahabat Hindu yang tidak dikenal secara pribadi tapi membeli buku dalam jumlah besar dan hanya meminta mengirimkan 1 atau 2 buku saja karena mereka ingin berbagi. Selama ini mereka tidak tahu kemana harus menyalurkan bantuan untuk umat Hindu. Dunia Sekar berhasil memfasilitasi mereka yang ingin berbagi untuk saudara-saudaranya di pelosok. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top