Connect with us

Bunda & Ananda

Berbagi Bantal Bisa Tularkan Sakit Mata?

Published

on

dr. I Wayan Dediyana

Belakangan ini banyak anak terkena penyakit mata merah. Apakah penyakit mata ini bisa menular? “Penyakit mata merah ini sering terjadi serta menyebar dengan mudah, terutama di kalangan anak-anak, di sekolah, apalagi lingkungan asrama, dan biasanya menyerang pada musim-musim tertentu,” ujar dr. I Wayan Dediyana.

Penyakit mata merah atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan nama konjungtivitis adalah suatu peradangan atau infeksi pada konjungtiva. Konjungtiva adalah selaput bening pada mata yang menutupi bagian mata berwarna putih serta permukaan dalam pada kelopak mata. Apabila pembuluh darah yang berada dalam konjungtiva meradang, maka pembuluh darah ini akan nampak. Itulah sebabnya mengapa bola mata yang berwarna putih menunjukkan warna merah.

Ia  menjelaskan, konjungtivitis dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya, yakni infeksi, bakteri, dan racun/toksin.

Infeksi

Advertisement
  • Viral Conjunctivitis (Konjungtivitis Virus). Disebabkan oleh adenovirus. Jenis konjungtivitis ini dapat menular dengan cepat dari satu orang ke orang lain.
  • Bacterial Conjunctivitis (Konjungtivitis Bakteri). Konjungtivitis bakteri adalah infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri, seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumonia, Haemophilus. Konjungtivitis bakteri lebih sering terjadi pada penderita anak-anak
  • Chlamydial Conjunctivitis (konjungtivitis klamidia). Jenis lain konjungtivitis yang disebabkan oleh mikroorganisme yang disebut Chlamydia trachomatis.

Alergi

  • Allergic Conjunctivitis (konjungtivitis alergi). Konjungtivitis alergi umum terjadi pada orang yang memiliki gejala-gejala lain dari penyakit alergi, seperti asma dan eksim. Konjungtivitis jenis ini dapat mengenai kedua mata sebagai respons adanya reaksi alergi. Maka akan timbul gejala rasa gatal, pengeluaran air mata, mata yang meradang, bersin dan hidung berlendir pada penderita.

Toksik atau racun, misalnya akibat zat kimia

  • Reactive Conjunctivitis (Konjungtivitis Kimia atau Iritan ). Usaha untuk membersihkan benda asing atau zat kimia ini menyebabkan mata menjadi merah dan mengalami iritasi. Keadaan ini memberikan gejala pengeluaran air mata, yang biasanya akan berhenti dengan sendirinya dalam waktu 1 hari

Penularan penyakit ini bisa melalui kontak langsung dengan penderita melalui cairan mata yang mengandung kuman penyebabnya. Yang paling sering terjadi adalah penularan antar anggota keluarga karena berbagi bantal. Misalnya ketika penderita tidur, air mata keluar dan menempel di sarung bantal, anggota keluarga lainnya yang menggunakan bantal tersebut berisiko tertular. Oleh karena itu, sebaiknya jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit mata, ganti sarung bantal setiap hari. Atau bisa juga penularan terjadi melalui barang-barang bekas dipakai penderita penyakit mata merah (konjungtivitis) seperti handuk, kacamata atau lainnya. Atau saat penderita menggosok matanya dan memegang berbagai permukaan benda (pulpen, pegangan pintu, meja), kita dapat memindahkan kuman tersebut ke tangan kita bila menyentuh permukaan yang sama.

BACA  KPAI Berharap Kemenkes Mempercepat Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Bila kita tidak mencuci tangan kemudian kebetulan kita menyentuh mata, bukan tidak mungkin kita memindahkan kuman tersebut ke mata kita sendiri dan akhirnya terjadi konjungtivitis. “Kontak mata atau mengobrol tidak akan menyebabkan terjadinya penularan seperti yang disangka sebagian orang,” tegasnya. Penyakit mata merah (konjungtivitis) yang disebabkan oleh karena alergi terhadap sesuatu seperti serbuk sari bunga. Atau konjungtivitis akibat iritasi, biasanya disebabkan oleh zat kimia atau benda asing (debu, asap rokok, asap kendaran dan lain-lain), maka penyakit mata merah (konjungtivitis) ini bukan termasuk penyakit menular.

Konjungtivitis bisa saja hanya menyerang sebagian mata kanan saja atau bagian kiri saja.Tetapi biasanya konjungtivitis ini menyerang dua-duanya baik mata sebelah kanan maupun mata sebelah kiri dikarenakan infeksi menular. Penyakit mata merah pada umumnya tidak akan berdampak pada penurunan ketajaman pada penglihatan seseorang. Namun apabila dibiarkan, peradangan bisa berlanjut mengenai bagian mata yang lebih dalam. Gejala konjungtivitis secara umum dapat berupa mata merah, gatal, bengkak, mata berair, nyeri atau perih pada mata, sensasi mata berpasir atau terasa ada yang mengganjal, mata akan terasa silau ketika terkena cahaya, banyaknya kotoran mata yang keluar (belekan)  yang dapat membentuk kerak pada malam hari sehingga pada pagi hari kelopak mata tidak dapat dibuka.

Untuk membedakan konjungtivitis yang disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri, biasanya dapat dilihat dari kotoran (belekan) yang terjadi. Konjungtivitis virus biasanya belekan yang berwarna bening dan jernih, sedangkan konjungtivitis bakteri biasanya mengeluarkan cairan seperti lendir yang lengket, berwarna kuning kehijauan. Kondisi ini dapat dibantu ringankan dengan cara kompres mata dengan air hangat.Konjungtivitis sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya atau bisa diatasi dengan obat tetes mata biasa.

Tetapi, pada beberapa orang gangguan konjungtivitis justru bisa bertambah parah. Hal itu karena saat mata dalam keadaan gatal, jari-jari tangan justru menguceknya. Padahal jari belum tentu dalam keadaan bersih, bahkan terdapat bakteri atau virus yang memperparah kondisi mata.

Sakit mata mudah sekali menularnya. Satu orang saja yang di ruangan ada yang terkena sakit mata, risiko tertularnya sangat tinggi. Jika Anda atau ada orang yang menderita sakit mata seharusnya berada dirumah dan tidak melakukan aktivitas di luar agar tidak menulari orang lain. Penggunaan kaca mata hitam bisa dianjurkan bagi penderita konjungtivitis sebatas untuk melindungi matanya. Bisa jadi, selama sakit mata mereka akan menjadi sensitif dengan cahaya dan angin. Dengan kacamata hitam, matanya yang sakit akan terasa lebih nyaman. Selain itu, dengan menggunakan kacamata, penderita lebih sulit mengucek mata.

Advertisement

Kalau terkena sakit mata, sebaiknya segera periksakan ke dokter. Hindari penggunaan sembarang obat tetes yang dibeli di apotek tanpa resep dokter. Mata sama-sama merah belum tentu penyebabnya sama. Mengobati mata merah harus berdasarkan penyebabnya. Seringkali di masyarakat masih menggunakan obat tetes tradisional, seperti air daun sirih yang sterilitasnya tidak terjamin. Jika itu dilakukan, bukan kesembuhan yang akan didapat, malah akan memunculkan penyakit lain. Pengobatan konjungtivitis yang diberikan tergantung penyebabnya, sebagai contoh pada kasus konjungtivitis yang disebabkan oleh infeksi virus tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik akan, dapat sembuh sendiri dengan tetap menjaga kebersihan mata, seperti mencuci tangan serta wajah dan tidak menggunakan handuk secara bersama-sama. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri dapat diterapi dengan obat tetes mata atau salep yang mengandung antibiotik.Salep mata antibiotika biasanya diberikan untuk penderita anak-anak. Mata juga harus dibersihkan dengan kapas yang dibasahi dengan air masak yang didinginkan untuk menghilangkan kotoran (belekan) yang lengket. Bila terdapat mata merah pada satu mata, jangan pergunakan kapas itu untuk membersihkan mata yang lainnya. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi resiko penyebaran mata merah.Pengobatan untuk penderita konjungtivitis oleh karena alergi dapat diobati dengan menggunakan obat tetes antihistamin topikal.Tetes kortikosteroid terkadang juga diperlukan, namun hanya boleh diberikan di bawah pengawasan dokter spesialis mata.

BACA  Perawatan Kulit untuk Anak

Penyakit dapat diredakan dengan menghindari penyebab keadaan alergi, bila memungkinkan dan diketahui penyebabnya.Pada mata yang terkena paparan terhadap bahan kimia, harus segera dibilas dengan air bersih yang mengalir agar bahan kimia tersebut hilang dari mata. Keluhan biasanya membaik setelah beberapa jam, apabila konjungtivitis masih terus berlanjut harus segera mengunjungi dokter.

Pada pasien yang mengalami konjungtivitis akibat pemakaian lensa kontak, untuk sementara tidak boleh menggunakan lensa kontak sampai kondisi mata benar-benar pulih. Ikuti petunjuk cara menggunakan dan membersihkan lensa kontak yang baik dan benar.

TIPS BAGI PENDERITA MATA

Seseorang yang menderita konjungtivitis perlu memperhatikan serta menjaga kondisinya agar tidak memperparah penyakitnya sehingga mengakibatkan lamanya proses penyembuhan. Langkah-langkah yang harus diperhatikan agar mata merah yang dideritanya tidak meluas serta agar lebih efektif dalam masa pemulihan :

Advertisement
  • Usahakan tetap berdiam diri di rumah, banyak istirahat serta jangan dulu beraktivitas agar tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain
  • Cuci tangan lebih sering. Selalu mencuci tangan sebelum dan setelah Anda menyentuh mata yang sakit atau wajah
  • Untuk mengurangi rasa gatal pada mata, bisa dengan memercikkan air hangat pada mata merah tersebut, serta jangan digaruk atau dikucek
  • Cairan yang biasanya keluar dari mata bisa dibersihkan dengan kapas lembab atau kain basah yang bersih. Usap dari sudut dalam mata ke luar.
  • Untuk mencegah iritasi lebih parah, bersihkan terlebih dahulu tangan yang akan digunakan untuk meneteskan obat tetes mata atau salep antibiotik
  • Membuang tisu atau sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata di tempat yang aman
  • Sebaiknya mengganti sarung bantal dan handuk yang kotor dengan yang bersih setiap hari
  • Gunakan kacamata hitam untuk mengatasi keluhan sensitif terhadap cahaya dan juga untuk mencegah mata yang sakit terkena debu atau kotoran lain
BACA  Bangun Karakter Anak dalam Pramuka

Bagi orang lain, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar terhindar dari sakit mata, yaitu : jangan dulu melakukan kontak langsung dengan penderita mata merah baik menyentuhnya secara langsung maupun meminjam barang-barang bekas dipakai penderita, agar tidak tertular penyakitnya. Sebaiknya tidak mengucek-ucek mata tanpa mencuci tangan terlebih dahulu untuk mencegah goresan mata dan infeksi dari kuman yang mungkin menempel di tangan, karena tangan tidak selalu berada dalam keadaan steril. Menggunakan pelindung mata seperti kacamata jika berada di tempat-tempat yang berisiko tertular sakit mata atau jika sedang mengendarai sepeda motor agar tidak terkena debu atau angin yang dapat menyebabkan iritasi. Memperhatikan kebersihan dari kacamata atau lensa kontak yang digunakan. Dan usahakanlah senantiasa menjaga tubuh agar tetap segar dengan melakukan rutinitas olahraga serta memperbanyak asupan sayur-sayuran dan buah-buahan sehingga daya tahan tubuh meningkat serta tidak mudah terserang penyakit. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

Bunda & Ananda

KPAI Berharap Kemenkes Mempercepat Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Published

on

Anak-anak antusias mengikuti vaksinasi Covid-19 (cybertokoh/dok. BNPB)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap akan menjadikan anak berpotensi menjadi pembawa Covid-19 setelah beraktivitas di luar rumah dan menularkannya kepada orang lain. Karenanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sangat mendorong agar vaksinasi anak usia 6-11 tahun dapat dipercepat.

“KPAI sangat mengapresiasi kerja keras BPOM dan para ahlinya sehingga memberi izin penggunaan vaksin Sinovac untuk anak usia 6-11 tahun. KPAI berharap agar Kementerian Kesehatan bisa segera memberikan vaksinasi tersebut pada anak usia 6-11 tahun,” ujar Retno LIstyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan.

PAUD/TK dan SD, kata Retno, sudah mulai menggelar PTM (pembelajaran tatap muka). Mereka belum divaksin dan sulit dikontrol perilakunya. Karenanya KPAI berharap Kemenkes bisa segera memberi mereka vaksin. Meskipun diketahui bahwa Kemenkes baru bisa memberi mereka vaksin pada awal 2022.

Advertisement

Menurutnya, pandemi Covid-19 berdampak sangat luas terhadap perkembangan anak dalam hal kesehatan (fisik dan mental), aspek sosial juga pendidikan. Saat Juni-Juli 2021, pada saat tingkat infeksi Covid-19 cukup tinggi di Indonesia, kelompok anak yang terinfeksi cukup banyak. Mencapai 2,9% untuk usia 0 – 5 tahun dan 10% untuk usia 6 – 18 tahun.

Sejumlah negara yang mengalami penurunan kasus, saat ini kembali mengalami kenaikan kasus. Kondisi tersebut mungkin sekali dialami juga oleh Indonesia. Oleh karena itu, sangat penting menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang dapat mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus Covid-19 pada anak, termasuk perlunya vaksinasi untuk usia anak.

BACA  KPAI Berharap Kemenkes Mempercepat Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Di bagian lain Retno menjelaskan soal survei singkat persepsi peserta didik tentang vaksinasi anak usia 12-17 Tahun yang dilakukan oleh KPAI. Survei yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi google form ini diikuti oleh 86.286 partisipan/responden dari jenjang pendidian SD/MI/SLB (10%), SMP/MTs/SLB (40%), MA/SMA/SMA/SLB (50%). Adapun asal daerah para partisipan berasal dari 34 Provinsi di Indonesia, bahkan diikuti juga peserta didik dari Sekolah Indonesia Luar negeri (SILN), yaitu SILN Singapura dan SILN Filipina.

Ada beberapa temuan dari hasil survei tersebut, di antaranya 88% anak bersedia menerima vaksin, ragu-ragu 9% dan menolak vaksin 3%. Meskipun bersedia menerima vaksin, namun banyak dari mereka belum ada kesempatan untuk mendapatkannya.

“Baru 36% yang sudah beruntung mendapatkan vaksin, sedangkan 64% di antaranya belum divaksin,” jelas Retno sembari menambahkan, dari data tersebut menggambarkan belum meratanya vaksinasi anak di berbagai daerah di Indonesia.

Advertisement

Sebanyak 3% responden tidak bersedia divaksin dengan berbagai alasan. Di antaranya ada yang menyatakan tidak perlu vaksin yang penting menerapkan protokol kesehatan. Ada juga yang beralasan memiliki komorbid sehingga secara medis tidak bisa divaksin.

“Tapi ada juga yang menolak vaksin karena tidak yakin dengan merk vaksin tertentu. Itu jumlahnya 8%. Ada juga yang bilang, divaksin tidak menjamin tidak tertular Covid-19 (8%) dan tidak diijinkan orangtuanya untuk vaksin (7%),” papar mantan kepala sekolah SMAN 3 Jakarta, ini.

BACA  Perawatan Kulit untuk Anak

Menurut Retno, meski yang tidak bersedia divaksin hanya 3% dari 86.286 responden, namun hal tersebut tetap perlu menjadi pertimbangan untuk ditindaklanjuti pemerintah, Misalnya melalui pendekatan berbasis sekolah/madrasah yang melibatkan pendidik di sekolah.

Anak-anak yang sudah divaksinasi mengaku pasca divaksin merasakan nyeri ditempat suntikan dilakukan (41%); lapar atau haus (16%); rasa lelah (11%); sakit kepala (4%); demam (3%); mual atau muntah (1%); dan sisanya jawabannya lainnya (24%). Namun begitu, efek dari vaksin yang dirasakan anak, tidak ada yang parah apalagi sampai di rawat di rumah sakit.

Hasil Pengawasan Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun

Advertisement

Selain melakukan survei tentang program vaksinasi anak dengan sasaran responden anak usia 12-17 tahun, KPAI juga telah melakukan pengawasan langsung ke 7 sekolah terkait program vakinasi anak di sejumlah sentra vaksin sekolah di wilayah DKI Jakarta. Di antaranya di SMPN 161 Jakarta Selatan, SMPN 88 Jakarta Barat, SMPN 270 dan SMPN 30 Jakarta Utara, SMAN 22 Jakarta Timur, SDN Pasar Baru 07 dan SMAN 20 Jakarta Pusat.

Sepanjang pantauan KPAI di media massa, ada sejumlah daerah yang sudah melakukan vaksinasi anak usia 12-17 tahun sejak Juli 2021, di antaranya : Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, bahkan Papua . Sementara vaksinasi anak yang baru mulai digelar bulan Agustus 2021, di antaranya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

BACA  Korban bisa jadi Pelaku Baru Pedofilia

Tidak ditemukan kasus vaksinasi anak yang berefek berat di setiap sentra pengawasan vaksinasi anak. Namun di Bali ada 2 kasus anak mengalami pusing dan terjatuh setelah divaksin, tepatnya saat observasi pasca vaksin dan langsung mendapatkan pertolongan.

Setelah diperiksa di IGD oleh dokter, ternyata anak mengaku belum sarapan dan tidur terlalu larut sehingga pasca vaksin mengalami pusing dan jatuh pingsan. KPPAD Bali sebagai mitra KPAI sudah mendatangi sekolah dan kediaman kedua anak tersebut. “Saat bertemu, anak dalam kondisi sudah sangat membaik,” kata Retno.

Terkait dengan permasalahan vaksinasi anak, KPAI mengeluarkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya adalah mendorong percepatan vaksinasi anak usia 12-17 tahun karena capaiannya masih rendah yaitu 4,5 juta dari target 26 juta anak.

Advertisement

“Jika pemberian vaksinasi anak usia 12-17 tahun belum dapat dituntaskan pada Desember 2021 ini maka program vaksinasi anak usia 6-11 tahun akan tertunda,” ujarnya.

KPAI mendorong para orangtua yang memiliki anak-anak usia 6-17 tahun segera divaksin. Jangan ditunda, jangan memilih milih merek vaksin. KPAI yakin bahwa vaksin Covid yang ada aman, berkhasiat dan bermutu.

“Ingat, vaksin adalah hak anak-anak Anda. Berikan haknya, izinkan dan antar mereka untuk divaksin. Vaksin Sinovac sudah digunakan untuk anak usia 6-11 tahun di sejumlah negara, seperti China, Chile, Kolumbia dan Kuba,” jelas Retno. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Bunda & Ananda

Peran Orangtua Sangat Penting Dalam Membiasakan Anak Taat Prokes

Published

on

Para pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’ (Tangkapan Layar-Diana Runtu)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Mengajarkan anak-anak menerapkan protokol kesehatan (prokes), apalagi yang usianya di bawah lima tahun, bukan hal yang mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Asalkan orangtua mau melakukan pengajaran terus menerus, mengingatkan, juga memberi pengertian, anak-anak akan bisa patuh melaksanakan prokes.

Hal ini disampaikan oleh dr. Grace Hananta, salah satu pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’, Senin (8/11). Selain Grace, yang juga menjadi narasumber talkshow tersebut adalah dr. Piprin Basarah Yanuarso (Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI), dr. Siti Nadia Tarmizi (Juru Bicara Kemenkes untuk Vaksin Covid-19).

“Saya melihat banyak anak-anak usia 1,5-2 tahun sudah pandai menggunakan masker. Mereka tetap memakainya meskipun tengah bermain dengan teman-temannya. Itu juga terjadi pada anak-anak saya yang masih usia 3,5 tahun dan 5,5 tahun. Mereka sangat disiplin memakai masker, bahkan kadang mengingatkan orangtuanya,” ungkap dr. Grace yang rajin mengkampanyekan prokes di media sosial miliknya.

Advertisement

Menurut Grace, sejak awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, dia telah mengajarkan anaknya yang kala itu—anak bungsu—baru berusia 2 tahun untuk memakai masker.Namanya anak-anak, memang tidak mudah. Namun asalkan orangtua telaten mengajarkannya, melakukannya secara berulang-ulang, termasuk memberi pengertian, pasti bisa. Ajaran yang dilakukan berulang kepada anak, akan masuk dalam pikiran mereka dan anak akan menurut orangtua.

“Jadi peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk menaati prokes. Bukan hanya mengajarkan dan memberi pengertian, tapi juga memberi contoh. Jadi orangtua pun harus taat prokes, anak-anak melihatnya,” tutur Grace sembari menyarankan, bahwa yang terbaik adalah memberi pengertian pada anak bukan menakut-nakuti.

Hal senada juga disampaikan oleh dr. Piprin Basarah Yanuarso, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menurutnya, anak-anak jika diajarkan dengan telaten, mereka pasti bisa memakai masker.

BACA  Anak Wajib bisa Menari

“Saya memiliki pasien kecil-kecil, usianya 1-1,5 tahun. Tapi mereka sudah pintar memakai masker. Sampai-sampai saya tanyakan, kok pintar betul anak ibu memakai masker. Para ibu menjawab, itu karena mereka mengajarkan anak secara terus menerus,” jelas Piprin.

Jadi kuncinya ada pada orangtua. Jika anak diajarkan secara terus menerus, juga diberi penjelasan, mereka akan menurut pada orangtuanya. “Kita (orangtua) bisa mengajarkan anak-anaknya untuk menjalani prokes, utamanya ketika berada di luar rumah (outdoor). Tapi saya ingatkan, sebaiknya, kalau tidak perlu sekali, tidak usah keluar rumah.

Advertisement

Vaksinasi Anak Sangat Penting
Selain prokes yang melindungi anak dari penyakit, kata dr Piprin, juga diperlukan vaksinasi Covid-19 untuk anak. Pihak IDAI, ujarnya, sangat menyambut baik keputusan memperluas vaksinasi yang sebelumnya usia 12-17 tahun, menjadi 6-11 tahun.

“Pada prinsipnya anak-anak yang bertubuh sehat tanpa komorbid, dibolehkan untuk vaksinasi. Kecuali, dalam beberapa kasus berat misalnya anak yang sedang infeksi berat, demam akut, sedang dirawat karena pneumonia, kanker dengan pengobatan sitostatiska dosis tinggi. Atau, anak yang menderita penurunan imunitas seperti HIV berat atau imunodefisiensi berat,” paparnya.

Untuk anak-anak yang memiliki masalah kronik, asalkan terkontrol dengan baik, seperti penyakit jantung bawaan misalnya, atau leukemia, itu bisa konsultasi dengan dokter anak yang biasa merawatnya guna mendapatkan surat keterangan layak vaksin.

Jadi, tandas dr Piprin, pada prinsipnya kebanyakan anak bisa divaksin. Karenanya, para orangtua jangan khawatir. “Insyaallah vaksinasi Covid ini aman. Bahkan beberapa studi terkait efek sampingan, itu jauh lebih ringan daripada orangtua. Efektivitasnya pun lebih tinggi dibanding orang dewasa,” jelasnya.

Sempat, kata Piprin ada yang menyebut ‘Buat anak kok coba-coba’. Hal ini tidak benar. Vaksinasi anak bukan coba-coba karena telah melalui uji klinis fase 1 dan 2. “Jadi bukan coba-coba. Justru kalau orangtua tidak membawa anak-anaknya untuk divaksin, malah mereka coba-coba,” katanya.

Advertisement

Efek sampingan pasca vaksin biasanya bersifat local. Seperti; agak demam, nyeri di sekitar bekas suntikan. Berdasarkan survey, sekitar 4-5% mengalami agak demam, 90% nya tidak mengalami efek sampingan.

BACA  Belajar Bahasa Inggris yang Menyenangkan: 50 Persen Speaking, 50 Persen Grammar

“Kalau anak masih ceria saja, masih lari ke sana-kemari. Kemungkinan anak tersebut oke-oke saja. ‘Sumeng’ sedikit, tapi dia masih lincah, orangtua tak perlu terlalu khawatir. Anak memahami bahasa tubuhnya. Karena kalau dia memiliki masalah serius, dia akan diam, tidak aktif,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar orangtua melakukan observasi terhadap anaknya sebelum maupun setelah divaksin. Mempersiapkan anak dengan baik. Seperti, mengingatkan anak agar cukup beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berlebihan baik sebelum dan sesudah vaksin.

Anak Rentan Terhadap Infeksi
Dalam kesempatan itu dr.Grace juga mengingatkan kepada orangtua tentang pentingnya vaksinasi pada anak. “Selain prokes 3 M 5 M, vaksinasi penting sekali. Karenanya saya sangat bersyukur dengan adanya keputusan penggunaan darurat vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun. Anak saya belum mencapai usia itu, tapi tahun depan dia akan 6 tahun, jadi sudah bisa mendapatkannya,” kata Grace.

Anak-anak, lanjut Grace, rentan terhadap infeksi. Jika terpapar Covid-19, mereka cenderung menjadi OTG (orang tanpa gejala). Karenanya penting bagi anak untuk bisa segera mengakses vaksinasi, selain untuk melindungi dirinya juga keluarga. Apalagi sekarang ini pembelajaran tatap muka sudah mulai digelar secara bertahap di sekolah-sekolah. “Jadi kami orangtua sangat menunggu adanya vaksinasi anak usia 6-11 tahun,” ucap wanita cantik ini.

Advertisement

Imunitas anak, tambahnya, belumlah sebaik orangtua. Anak usia di bawah 5 tahun yang terkena Covid, memiliki risiko meninggal hingga 50%. Karenanya penting dilakukan antisipasi dengan vaksinasi. Prokes dan vaksinasi adalah cara untuk melindungi diri dan keluarga dari Covid-19.

BACA  Kenali Kunci Parenting di Era Milenial

“Kita para orangtua bisa menjaga kesehatan anak dengan baik. Yakni dengan mengajarkan anak disiplin prokes. Juga memberi mereka vaksinasi. Masker atau prokes melindungi dari luar dan vaksinasi melindungi dari dalam. Dengan begitu kita juga anak-anak sehat dan bisa melewati pandemic Covid ini dengan baik,” katanya.

Terkait vaksinasi terhadap anak usia 6-11 tahun, Juru Bicara Kemenkes untuk vaksin Covid-19 dr. Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, saat ini tengah dipersiapkan petunjuk teknisnya. Data sementara peserta yang akan divaksin sekitar 26-27 juta anak. Itu artinya diperlukan dosis tambahan.

Nantinya, anak-anak usia 6-11 tahun akan memperoleh vaksin Sinovac dua dosis. IDAI merekomendasikan dosis yang diterima anak-anak sama dengan dosis yang diterima orang dewasa. Rentang waktu antara dosis pertama dan kedua 28 hari. Cara pendaftaranya, sama seperti vaksinasi-vaksinasi yang sudah dijalankan selama ini yaitu, system vaksinasi satu data. Diperlukan nomor induk kependudukan (NIK) anak.

“Jadi mumpung vaksinasi anak 6-11 tahun belum berjalan, para orangtua mulai sekarang melakukan persiapan, khususnya terkait administrasi. NIK anak ada di kartu keluarga. Jika anak belum memiliki NIK, agar segera ke kelurahan atau kecamatan setempat untuk mengurusnya. Karena NIK itu dipakai sebagai identitas saat kita memulai vaksinasi,” jelas Nadia seraya menambahkan kegiatan vaksinasi ini rencananya bekerja sama dengan sekolah-sekolah.

Advertisement

“Biasanya anak akan lebih termotivasi jika dilakukan di sekolah, ketimbang di Puskesmas. Karena di sekolah ada teman-temannya. Anak akan melihat teman-temannya divaksin,” katanya.

Selain itu, lanjut Nadia, vaksinasi juga akan dilakukan pada anak penyandang disabilitas. “Kita akan kerja sama dengan sekolah luar biasa juga komunitas-komunitasnya. Sedang untuk anak yang tidak berada di bangku sekolah, kita akan kerja sama dengan Dinas Sosial. Misalnya anak jalanan, dsb,” paparnya panjang lebar. (Diana Runtu)

Continue Reading

Bunda & Ananda

Ny. Putri Koster Ingatkan Pentingnya Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menekankan pentingnya fase tumbuh kembang anak-anak sejak dalam kandungan, sehingga hendaknya bukan hanya saat anak lahir baru dipersiapkan oleh orang tua. Karena, hal ini juga menjadi indikator pertumbuhan kesehatan fisik dan mental anak-anak sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Ny. Putri Koster saat menjadi keynote speaker dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Prov Bali yang bertemakan ‘Melindungi Anak-Anak Bangsa Menuju Indonesia Maju’ secara virtual dari Jayasabha, Denpasar, Sabtu (31/7).

Pada webinar mengangkat topik ‘Peranan Keluarga di Masa Pandemi dalam Membangun Indonesia Maju’ ini, Ny. Putri Koster bahkan mengatakan jika dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas, cerdas, berakhlak mulia serta berbudi pakerti yang luhur, sejatinya juga harus disiapkan oleh calon orang tua sejak remaja. “Nah ini seperti rantai, kita menyiapkan para remaja putra dan putri kita untuk siap menjadi orang tua yang bisa mencetak generasi penerus yang sehat jasmani dan rohani. Jika rantai ini terus terjaga tanpa jeda, niscaya Indonesia akan dipenuhi oleh generasi bangsa yang berkualitas,” ujarnya.

Advertisement

Pendamping orang nomor satu di Bali itu juga mengatakan, TP PKK yang diketuainya juga sedang menggalakkan program pencegahan stunting pada anak-anak. Dalam webinar ini juga sangat berkaitan dengan program tersebut.

BACA  Rumitnya Adopsi Anak, Ini Penjelasan Ruben Onsu

“Webinar ini sangat berkaitan dengan program kerja kami. Karena, ketika kita bisa menyiapkan sedini mungkin bahkan selama dalam kandungan anak-anak kita, secara bersamaan juga bisa mencegah stunting,” ungkapnya.

Ia pun menegaskan, ini menjadi peranan seluruh komponen dalam menyiapkan tumbuh kembang anak-anak, baik orang tua, aparat desa hingga pemerintah demi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang mereka.

“Terutama bagi orang tua, sejak anak-anak remaja persiapkan mereka menjadi orang tua yang baik bagi calon anak mereka. Untuk aparat desa, pantau terus lingkungan sekitar, jika memang dirasa ada yang aneh terutama anak-anak kita, laporkan dan ambil tindakan. Jangan pikir anak-anak sudah di rumah aman-aman saja. Kekerasan juga terkadang ada di rumah,” imbuhnya.

Selain tumbuh kembang anak, Ny. Putri Koster juga berpesan tentang bahaya narkoba serta ancaman pedofilia pada anak-anak. “Ini pentingnya peranan dari orang tua serta keterlibatan lingkungan anak-anak dala menjaga generasi penerus kita,” tambahnya dalam acara webinar yang turut dihadiri sekitar 400 peserta. Ia mengatakan penting sekali juga para orang tua untuk mendapat edukasi, agar bisa menghindarkan anak-anak dari ancaman-ancaman tersebut.

Advertisement

Sementara Ketua PDSKJI Bali dr. Ida Bagus Wisnu Wardana mengatakan webinar kali ini bertujuan untuk mengedukasi para orang tua serta lingkungan tempat tinggal anak supaya bisa menjaga serta membesarkan anak-anak dengan baik di tengah pandemi. Ia mengakui, memang banyak tantangan dalam menghadapi anak-anak apalagi selama pandemi ini. Ia pun berharap melalui webinar kali ini bisa memberikan inspirasi dan masukan bagi para orang tua.

BACA  “Belajar sambil Bernyanyi”

Webinar pagi itu menghadirkan narasumber Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS; dr. Dewa Ayu Shinta Widari, SpKJ, MARS; dr. I Dewa Gede Basudewa, SpKJ; dan Dr. dr.  Anak Ayu Sri Wahyuni, SpKJ.

Sebagai penutup, tak lupa Ny. Putri Koster menyimpulkan ujung dari pembentukan karakter adalah keluarga. Sehingga ia mengajak para orang tua, terutama para ibu untuk mulai memperhatikan tumbuh kembang mental anak-anak. Ia juga berharap agar acara seperti ini bisa sering diadakan karena sangat berguna bagi keluarga.

Pada akhir acara, Ny Putri Koster juga berkesempatan menampilkan puisi bertajuk ‘Aku Melihat Indonesia’ yang ia bacakan di panggung terbuka Ardha Candra, Art Center. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Tren