Indonesia

Diandra Gautama: Si Cantik Jago Balap

Cantik dan rajai sirkuit. Sosok Diandra Gautama memang sudah tidak asing lagi di dunia balap roda empat nasional. Kepiawaiannya mengendalikan setir mobil membuat dara cantik ini melabuhkan hati sebagai pembalap profesional.

Bakat turunan dari sang papa Candra Gautama diwarisi oleh Diandra sejak kecil. Hobi otomotif bukan hal yang asing bagi gadis berambut hitam panjang dan terbilang fotogenik ini, teknik dan trik menguasai sirkuit sudah ia hafal di luar kepala. Speed kencang mampu mengasah adrenalin sulung tiga bersaudara tersebut untuk melibas lawan sesama racer.

“Memang udah kebiasaan di keluarga mengalir seperti ini jadi orang tua nggak was-was lagi,”ucap Diandra.

Diandra mengaku tidak ada paksaan dari orang tua untuk mengikuti jejak, namun karena lingkungannya banyak anak-anak mobil akhirnya ia semakin tertarik untuk total. Cita- cita menjadi racer memang sudah ia impikan sejak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Seru sih nggak sabar pengen jadi pembalap waktu itu, kayak pengen nyetir mobil kenceng gitu,”terang Diandra yang kini dipercaya Nissan untuk menjadi mentor Nissan GT Academy sekaligus Brand Ambassador.

Akhirnya keinginan itu terwujud ketika ia menjadi juara umum dan meraih kemenangan selama enam seri berturut-turut pada event balap Indonesian Series of Motorsport (ISOM) di International Sentul Circuit  2013 silam dengan menggeber mobil Eropa.

“Wah itu aku lumayan seneng dan nggak nyangka, memang itu sih tujuannya menjadi seorang pembalap,”imbuh Diandra yang mengaku doyan makan sampai tujuh kali sehari ini.

Arena balap yang up and down menjadi pembelajaran tersendiri bagi Diandra, munculnya faktor dari luar yang tidak disangka seperti cuaca dan kondisi mobil saat balapan sudah bisa ia antisipasi untuk meminimalisir resiko. Walaupun ia sempat mengalami kecelakaan di sirkuit namun ia tidak pernah kapok. Diandra menyarankan agar hobi balap baiknya tersalur di sirkuit, karena kecelakaan separah apapun bisa lebih ditekan jika berada dalam sirkuit daripada di jalanan.

“Pertama kali balapan turun langsung nggak finish, gara-gara melintir saat nyetir akhirnya nabrak mundur, kan lebih bahaya nih daripada nabrak depan karena kita nggak tahu kita nabrak apa. Tapi itu traumanya cuma sejam kedepan doang, habis itu langsung balapan lagi seri berikutnya,”ulas penyuka nasi Padang ini seraya tertawa renyah.

Akhir 2016 menjadi berkah tersendiri bagi gadis yang juga gemar menembak dan olahraga memanah itu, ia mendapat kesempatan dari PT Nissan Motor Indonesia (NMI) memegang posisi mentor bagi para racer  terpilih dari Indonesia untuk lolos di ajang balapan Internasional Nissan GT Academy 2016 di Inggris pada Oktober lalu.

“Balapan di Indonesia itu kurang disupport ya, memang itu kenyataan dan semua orang juga tahu . Makanya ketika aku mendapat tawaran ini aku seneng banget karena ini salah satu ajang yang aku tunggu-tunggu,”jelasnya penuh semangat. Bagi Diandra seorang pembalap harus memiliki kemampuan serta kendali emosinal yang baik dan juga konsistensi. (Lely Yuana)

(Visited 11 times, 2 visits today)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Terkini

To Top