Buleleng

Sosialisasikan Uang Rupiah Emisi Terbaru

Sejumlah masyarakat tampak mengantre untuk menukarkan uang baru

Sehubungan dengan penerbitan uang NKRI yang baru, BI terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat.  Untuk memperkenalkan uang baru, Bank Indonesia perwakilan Denpasar, Kamis (2/2)  berkeliling di sejumlah desa di Kabupaten Buleleng. Perkenalan uang pecahan baru itu dilakukan mulai di Desa Desa Tejekula, Tamblang, Tajun,Pasar Sangsit, Pasar Banyuasri, Pasar Anyar dan beberapa lokasi yang dinilai sebagai tempat peredaran uang.

Menurut Ketua Kas Keliling  Bank Indonesia Perwakilan Denpasar Kadek Budi Arsana, bukan hanya melayani penukaran uang lama ke uang pecahan baru namun kehadiran para perwakilan bank itu juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait penerbitan uang NKRI yang baru. Ia menilai selama ini masyarakat hanya melihat uang terbaru dalam pemberitaan media sehingga dengan kedatangannya masyarakat dapat melihat secara langsung fisik dari uang baru tersebut.

Pelaksanaan penukaran uang pecahan baru dilakukan agar uang rupiah emisi baru lebih cepat dikenal oleh masyarakat, hingga ke pedesaan. “Kami ingin agar uang rupiah emisi baru ini dikenal sampai ke desa-desa. Kami juga sampaikan, uang emisi lama tetap berlaku selama belum ada pengumuman ditarik oleh Bank Indonesia,” ujar Budi Arsana.

Selain itu Bank Indonesia juga menarik uang-uang yang kategorinya tidak layak edar, sebagai bentuk clean money policy. Para pedagang juga antusias menukarkan uang mereka yang sudah lusuh, bahkan yang sudah rusak. Baik uang yang robek maupun terbakar tetap diterima. Namun dengan syarat tertentu, uang yang tersisa, panjangnya lebih dari dua pertiga, dari ukuran aslinya.

Ia menambahkan kebanyakan masyrakat meminta agar Bank Indonesia memberikan uang dalam pecahan emisi terbaru. Hanya saja Bank Indonesia tak bisa memberikannya dalam jumlah besar, karena uang emisi baru yang dibawa jumlahnya sangat terbatas. Kebanyakan menerima maksimal hanya sepuluh lembar uang emisi baru. “Kami batasi karena memang jumlahnya terbatas dan ini juga masih dalam tahap sosialisasi,” ujarnya.

Kata dia, dari 11 uang pecahan emisi terbaru yang terdiri atas 7 uang kertas dan 4 uang logam telah diedarkan kepada masyarakat Buleleng. Masyarakat yang menukarkan uang lebih dominan meminta uang emisi terbaru dengan pecahan 50 ribu, 20 ribu, dan 10 ribu. “Banyak juga yang menukar dengan pecahan lebih kecil sehingga bisa memberikan kembalian kepada pembeli,” tambahnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com).

To Top