Buleleng

Disperindag Inisiatif Kembangkan Minyak Curah Lokal

Drs. Ketut Suparto, MMA.

Sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 80 tahun 2014 tentang minyak goreng wajib kemasan, jajaran Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Buleleng gencar melakukan sidak ke pasar-pasar tradisional.

Menurut Kepala Disperindag Drs. Ketut Suparto, MMA., larangan terhadap peredaran minyak curah di Kabupaten Buleleng merupakan hal baru yang belum terlalu banyak diketahui oleh masyarakat baik konsumen maupun pedagang. Akan tetapi, pihaknya selalu rutin menggelar sidak untuk mengetahui produk-produk ilegal yang beredar di pasaran. Salah satunya peredaran minyak curah yang selama ini dianggap dapat memengaruhi kesehatan penggunanya. “Kami rutin lakukan sidak di pasar tradisional maupun modern dengan sasaran produk-produk illegal,” jelasnya.

Kata dia, minyak curah yang dilarang dalam peredaran adalah produk yang tidak mencatumkan tanggal produksi dan kadaluarsa serta tidak dikemas sesuai SNI. Ia menegaskan jika minyak curah sampai beredar di pasaran merupakan ulah distributor tanpa sepengetahuan pihaknya. “Dikatakan minyak curah jika tidak memiliki sertifikasi dari BPOM baik dari label, pencantuman nilai gizi dan masa kadaluarsa. Kalau ada yang tidak memenuhi itu kami akan cabut dari peredaran,” lengkapnya. Pihaknya tidak menampik jika harga minyak goreng curah relatif lebih murah dari minyak goreng kemasan sehingga banyak diburu konsumen. Bukan tidak mungkin jika tidak disosialisasikan peredaran minyak curah akan terus marak di pasaran. Harga minyak goreng curah itu murah karena memang tidak mengandung vitamin A. Terlebih kata dia, minyak goreng yang disimpan dalam drum yang terlalu lama dikhawatirkan akan mengundang banyak bakteri yang membahayakan terhadap kesehatan.

Mengatasi hal tersebut pihaknya akan segera mengambil langkah preventif dengan alternatif mengembangkan produk minyak curah lokal. Ia menambahkan, di Buleleng produksi minyak curah lokal (read: lengis bali)  selama ini hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal saja. Padahal dari segi rasa, minyak curah lokal memiliki cita rasa khas yang dapat menambah kelezatan masakan.  Dirinya menambahkan jika minyak curah lokal yang dijual mengedepankan kualitas dan hieginis maka tidak mungkin akan dilarang dalam peredarannya. “Ini yang perlu kita bina, bagaimana cara pengemasannya, cara membuat agar tahan lama tanpa menggunakan bahan kimia, dan sesuai standar BPOM,” ujarnya.

Persoalan selama ini, produksi minyak curah lokal hanya untuk memenuhi kebetuhan pribadi. Belum banyak masyarakat yang tertarik menggunakan minyak curah lokal. Hal inilah yang akan mendapat perhatian khusus pemerintah untuk membina dan mengembangkan para produsen minyak curah lokal. Lebih lanjut, menjawab ketakutan pedagang akan mengalami penurunan omset, dijelaskan, jika nantinya peraturan tersebut sudah diterapkan otomatis konsumen akan beralih membeli minyak goreng yang sudah ada labelisasi maupun minyak curah lokal. “Kalau kwalitasnya bagus, saya kira masyarakat secara otomastis beralih ke minyak dalam kemasan maupun minyak produksi lokal,” tandasnya. (wiwinmelianan22@cybertokoh.com).

To Top