Kolom

SAMURAI 5

“Bapak sebetulnya mau ketawa melihat kelakuan ibu kamu, Ami,” kata Amat, 3 minggu kemudian menceritakan peristiwa itu pada Ami, di rumah Ami.

“Tapi boleh percaya, boleh tidak, keempat adik tiri Pak Sandi dan kedua debt collectornya tak berani lagi nongol, sejak Pak Sandi dibekali samurai oleh Ibu kamu. Jangan-jangan samurai itu memang sakti!!”

Ami pura-pura terpesona.

“O, ya? Masak? Jadi samurai itu sakti?”

“Mau tak mau, orang, kita, akan terpaksa menganggap begitu. Biar saja.  Apakah itu betul? Sudahlah, hidup kan perlu dongeng. Tapi sebenarnya, bapak diam-diam berunding dengan para warga RT 9, lalu melapor ke polisi. Bapak yakin hukum harus ditegakkan kalau sudah ada yang mau main kayu. Paling tidak sekarang ketahuan bapak angkat Pak Sandi ternyata mewariskan 15 miliar untuk anak angkatnya! Jangankan 15 M, warisan setengah M saja orang sekarang bisa bunuh-bunuhan dengan saudara sendiri. Apalagi hanya saudara tiri. Rasa kekerabatan kita memang  sudah kropos Ami, karena sudah digerus budaya matre!”

Ami termenung.

“Untung anak Bapak cuma satu. Kamu saja, Ami! Untung Bapak sejak dulu sudah bertekad hanya punya istri satu. Jadi tidak pusing ngurus anak-anak dan istri-istri berkelahi, karena dalam poligami tidak akan mungkin ada keadilan. Yang ada cuma nafsu, dengki-dengkian dan kekacauan!”

Ami tersenyum.

“Kamu kok senyum?”

“Apa perlu bagian monolog Bapak itu, Ami sampaikan ke Ibu?”

Amat terkejut.

“O, jangan!”

“Ibu pasti senang mendengarnya!”

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Sebab itu sebenarnya sebagian besar kuliah ibu kamu sendiri!”

Ami tertawa.

“Ami sudah tahu! Ami juga sudah diceritain ibu soal samurai palsu itu!”

Amat menatap Ami.

“O, ya? Apa kata ibu kamu?”

“Kata ibu, Bapak menyalahi pepatah: orang tua tidak akan 2 kali kehilangan tongkat.”

“Ah, apa maksudnya?”

“Bapak sudah berkali-kali kena tipu, sekarang kok masih saja tertipu lagi, beli samurai palsu, gara-gara mai sakti! Masak katanya Bapak percaya samurai itu sakti, padahal jelas palsu? Baru digertak sedikit Bapak sudah jatuh! Padahal pencurinya bukan mau menyerang tapi lari karena melihat warga datang menyerang! Ya kan?!”

Amat tertegun.

“O, begitu? Jadi ibu kamu lihat waktu itu?”

“Lihat banget!”

Lalu kenapa dia tak membantah waktu warga muji-muji Bapak sebagai pahlawan samurai pengusir pencuri?”

Ami tersenyum.

“Bapak harus tanyakan itu sendiri langsung pada ibu.”

“Ibu kamu tidak akan mau menjawab.”

“Memang!”

Amat kembali menatap Ami.

“Kenapa?”

“Itu rahasia kami kaum ibu, Pak. Tidak semua harus dikatakan!”

“Dan juga tidak semua harus dilakukan?”

Nah, kalau itu khas watak kaum bapak-bapak. Coba tanya nanti Bu Sandi, pasti setuju. Kenapa Pak Sandi membiarkan saja dirinya disatroni oleh adik-adik angkatnya yang menurut saya ingin menendang Pak Sandi agar bisa merebut warisan itu!”

Amat terhenyak. Ia berpilkir mendalam. Tak menyangka sama sekali Ami diam-diam selalu memperhatikan kehidupan orang tuanya. Itu pastilah buah dari pendidikan yang sudah Amat dan istrinya berikan.

“Bagaimana Ami dan Kadek, Pak?” sapa Bu Amat ketika Amat sampai di rumah.

“Sehat-sehat saja.”

“Bapak sudah bilang samurainya sudah kita berikan Pak Sandi? Soalnya dia mau pinjam sebentar, katanya di rumahnya banyak tikus?!”

Amat nyengir, tapi tak menjawab sindiran istrinya. Ia malah lapor sentilan Ami.

“Ami protes kenapa dulu waktu minta dibelikan motor di SMA dan indekos waktu kuliah, Ibu tolak, jadi baru sekarang megap-megap belajar mandiri?!”

Bu Amat tersenyum.

“O, masih ingat terus itu? Jawaban Bapak apa?”

Lho Bapak mana tahu, kan ibu yang menolak!”

Lho kok saya, kita! Ami mau motor mau indekos waktu itu bukan untuk belajar mandiri, tapi mau bebas hura-hura! Bapak mau anakmu bablas? Dasar bapak-bapak, kurang peka! Sama seperti Pak Sandi!”

Amat tertegun.

“Pak Sandi? Kenapa dia?”

“Istrinya sudah berkali-kali bilangin dia, saudara-saudara angkatnya itu ngerjain dia, tapi dia terus saja bela-belain mereka. Salah Bapak juga ngasih nasihat supaya warisannya dibagi! Ya, tidak?!”

To Top