Dara

The Error Project: Taruh Perhatian Terhadap ODHA

Diskriminasi terhadap ODHA (Orang dengan HIV AIDS) akan terus-menerus marak jika tidak diimbangi dengan informasi dan pengetahuan yang memadai. Stigma negatif selalu dijadikan senjata utama untuk mengucilkan para penderita AIDS, sehingga membuat jurang diskriminasi semakin dalam.

Rupanya hal ini juga yang menjadi perhatian bagi para personil The Error Project (TEP) . Melalui single pertamanya Dunia Dalam Harapan, mereka ingin mengedukasi para pendengar bahwa ODHA bukan untuk dikucilkan atau diasingkan. Band yang didukung penuh oleh Ari KCX di Vokal dan Gitar, Gus Yana di Bass, Krisnha di Lead Gitar, dan Iwak Qyong di Drum mengaku bahwa seseorang yang mengidap virus mematikan tersebut masih tetap memiliki hak yang sama dengan  orang pada umumnya. “Mereka bukan pelaku mereka hanyalah korban dan hak mereka masih sama,” ujar Ari KCX.

Hal serupa juga disampaikan oleh Krisnantara selaku manajer band, bahwa penyakit AIDS tidak akan menular melalui berbicara maupun interaksi sosial. Justru ketika ODHA dikucilkan akan membawa beban psikis yang tentunya membuat sakitnya semakin parah. “Dari lagu itu, mudah-mudahan orang tidak lagi mengucilkan orang yang terjangkit penyakit itu,” tambahnya.

Bukan hanya mengkritisi keadaan sosial, Para personil TEP juga tak sungkan berbagi motivasi kepada pendengarnya. Ini terbukti dari single kedua yang berjudul Optimisme Positif yang dikemas secara luas bahwa setiap perjuangan akan memeroleh hasil akhir yang indah. “Lagu ini kami dedikasikan untuk orang-orang yang selalu berjuang dalam keadaan apapun tanpa mengenal lelah,” ujar sang vokalis.

Band asal desa Tamblang yang terbentuk Maret 2015 ini juga lebih suka menciptakan lagu-lagu dengan mengambil tema sosial dan kehidupan yang riil. Rencananya, TEP akan menggarap album pertama yang terdiri atas 10 lagu. “Masih ada lima lagu yang perlu kami garap lagi. Kami berharap bulan Juli bisa rampung, kalau bisa lebih cepat lebih baik,” imbuhnya.

Ditambahkan Krisnantara dalam waktu dekat TEP akan menggarap video klip kedua dari lagu kedua. Ia berharap lagu-lagu TEP dapat diterima di berbagai kalangan tidak hanya sebagai sebuah karya seni melainkan juga sebagai media untuk penyampaian pesan moral. Sejauh ini para personil masih terkendala persoalan klasik yaitu waktu. Maklum, masing-masing personil memiliki kesibukan yang berbeda sehingga waktu kumpul bersama minim sekali. “Kesibukannya beda-beda, tetapi kalau urusan latihan kami komitmen luangkan waktu untuk itu,” tandas sang manajer. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top