Buleleng

Tingkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia

I Wayan Lasmawan dan Nyoman Sugawa Korry

Ada empat indikator untuk melihat keberhasilan sebuah pembangunan ekonomi, di antaranya kemiskinan, tingkat pengangguran, indeks pembangunan manusia, dan tingkat pendapatan per kapita. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Sugawa Korry.

Tingkat keberhasilan pencapaian indikator juga harus melihat dari cara-cara pengukurannya. Di samping melihat perkembangan angka per tahun namun juga dilihat dari perbandingan tingkat kabupaten kota se-Bali. “Dengan begitu kita akan dapat melihat pembangunan Ekonomi mengalami kemajuan, stagnasi atau malah mengalami kemunduran,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan pembangunan ekonomi di Buleleng masih stagna dan dari beberapa indikator di atas mengalami kemunduran sehingga untuk membangkitkan perekonomian dibutuhkan kebijakan yang komprehensif. Meminimalisir angka kemiskinan di Buleleng dapat ditunjang dengan mendorong adanya investasi lebih besar ke wilayah Bali Utara. “Perlu kembali mendorong investasi dan kesempatan kerja lebih besar di Buleleng. Harus mengubah tata cara pelayanan kepada investor. Lakukan pemerataan infrastruktur, terobosan pembenahan jalan selatan ke utara (Denpasar-Singaraja) serta pemanfaatan Pelabuhan Celukan Bawang,” ujarnya.

Politisi asal Desa Banyuatis Kecamatan Banjar ini memaparkan terobosan baru yang dibutuhkan untuk menghindari stagnasi perekonomian di Buleleng adalah peningkatan Sumber Daya Manusia melalui jalur pendidikan. Ia melihat kualitas dan skill SDM cerdas di bidangnya amatlah dibutuhkan. Jika ternyata tenaga kerja mumpuni sulit dicari, maka praktis berdampak kepada investasi dan tenaga kerja lokal di daerah. “Pemimpin harus mulai dari awal dan tidak bisa terakhir (masa kepemimpinan) baru sadar. Untuk itu, diperlukan visi misi kuat dan RPJMD disusun berkaitan erat dengan strategi kebijakan pembangunan. Peningkatkan kemajuan harus lebih baik dari Kabupaten Kota lain,” ucapnya yang juga sekretaris DPD I Golkar Bali ini.

Sementara itu, pengamat ekonomi sekaligus menjabat Wakil Rektor II Undiksha Singaraja, Prof. Dr. I Wayan Lasmawan, M.Pd., mengatakan, menakar keberhasilan pembangunan ekonomi di Buleleng tidak hanya dilihat dari berkurangnya masyarakat miskin. “Bisa jadi pendapatan per kapita naik tetapi masih ada masyarakat yang bertambah miskin. Hal ini terletak pada pemerataan pendapatan per kapita,” jelasnya. Ia menambahkan selama ini pendapatan per kapita  sudah mengalami peningkatan namun masih ditemui masyarakat miskin.

Menyikapi hal ini, menurutnya kemiskinan suatu masyarakat bukan semata-mata dikarenakan kebijakan lokal melainkan kebijakan nasional, nilai inflasi, dan kebijakan nilai global. Kata dia, ke depan ekonomi Buleleng harus dikemas untuk direkontruksi melalui empat pemetaan. Pemetaan potensi diperlukan untuk mengetahui potensi yang akan diprioritaskan menjadi unggulan. Infrastruktur juga perlu dipetakan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sumber Daya Manusia juga harus disiapkan sebagai penggerak sistem manakala potensi dan infrastruktur baik jika penggerak sistem tidak bagus akan menimbulkan kesia-siaan. Terakhir, niat baik dari regulator penguasa juga harus diperhatikan. “Jika ke empat hal ini bisa dilakukan secara bersinergi niscaya apapun yang dinginkan akan tercapai dengan baik,” ungkapnya.

Lasmawan menambahkan, dilihat dari topografinya Buleleng memiliki potensi utamanya di bidang pertanian. Dilihat dari APBD Buleleng, ternyata hampir 62 persen didukung dari sektor pertanian. “Jika memang ekonomi di Buleleng ingin dikemas lebih maju mulailah dengan pengoptimalan di sektor pertanian,” ujarnya. Lanjutnya, membangun di sektor pertanian pendekatannya tidak bisa hanya di hilir saja melainkan dengan pendekatan hulu-hilir dengan model partisipatif. “Pendampingan dari soal pembibitan, penanaman, instrumen pertanian, dan termasuk kestabilan harga jual panen tani,” tandas alumni S2 dan S3 UPI Bandung ini. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

 

To Top