Connect with us

Bunda & Ananda

Kuku bisa Jadi Sumber Segala Penyakit

Published

on

Dr.A.A.Ngr.Gd.Dharmayuda, M.Kes.

“Tugas Hari Minggu kupotong kuku. Satu demi satu bersih kukuku…” Salah satu lagu PAUD tersebut pasti sering kita dengar. Hingga duduk di SD pun anak-anak selalu ingat “tugas Hari Minggu” tersebut. “Kuku merupakan bagian dari tubuh kita yang sangat penting,” ujar Dr.A.A.Ngr.Gd. Dharmayuda, M.Kes.

Kuku adalah bagian terminal lapisan tanduk (stratum korneum) yang menebal. Bagian kuku yang terbenam dalam kulit jari disebut akar kuku (nail root), bagian yang terbuka di atas jaringan lunak kulit pada ujung jari disebut lempeng kuku (nail plate) dan yang paling ujung adalah bagian kuku yang bebas. Kuku tumbuh dari akar kuku keluar dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1 mm per minggu. Sisi kuku agak mencekung membentuk alur kuku (nail groove).

Kuku mempunyai peranan penting yaitu untuk fungsi dan kosmetik, yaitu selain membantu jari-jari untuk memegang juga digunakan sebagai cerminan kecantikan. Kelainan pada kuku dapat menimbulkan rasa nyeri, memengaruhi penampilan dan fungsi kuku. Pemeriksaan kuku harus dilakukan secara rutin, karena seringkali dapat memberikan petunjuk adanya penyakit lain. Warna, bentuk, dan tekstur kuku memiliki arti tersendiri yang menandakan sehat atau tidaknya seseorang. Perawatan kuku secara rutin seminggu sekali juga sangat diperlukan untuk menghindari kita dari berbagai penyakit.

Kepala Puskesmas 1 Denpasar Selatan ini memaparkan berbagai penyakit yang bisa muncul pada kuku kita dan kemungkinan kelainan/penyakit apa saja yang bisa kita deteksi atau ketahui dari kelainan pada kuku. Penyakit yang sering muncul pada kuku antara lain :

  • Paronikia : merupakan infeksi kuku oleh kuman streptokokus, ditandai dengan pembengkakan pada lipatan kuku yang dapat mengeluarkan nanah.
  • Kandidiasis : merupakan infeksi kuku oleh spesies kandida, ditandai dengan kemerahan dan pembengkakan pada lipatan kuku yang selanjutnya diikuti dengan tepi kuku yang tidak teratur dan berubah warna.
  • Onikomikosis : merupakan infeksi kuku oleh karena jamur, ditandai dengan adanyapenebalan kuku ( hiperkeratosissubungual) yang kemudian bisa disertai dengan lepasnya lempeng kuku dari dasar kuku.
BACA  Perlukah Anak Ikut Bimbel?

Kelainan pada kuku juga dapat menandai adanya penyakit sistemik, yaitu :

  • Koilonikia : adalah kondisi saat kuku menjadi melengkung keluar sehingga membentuk seperti sendok. Penyakit kuku ini dapat menjadi gejala terjadinya beberapa penyakit lain seperti: gangguan jantung, lupus, anemia kekurangan besi, dan hipotiroidisme.
  • Clubbing : kuku mengembung dan berbentuk konveks. Kondisi saat kuku jari mengeras dan membulat di sekitar ujung jari. Penyakit ini umumnya dapat terjadi akibat rendahnya kadar oksigen dalam darah. Sering ditemukan pada penyakit sarcoma, bronkiektasis, bronkitiskronis, tuberculosis, emfisema serta pada kelainan jantung bawaan.
  • Sindrom Kuku Kuning (Yellow Nail Syndrome) : Situasi ini terjadi ketika kuku menjadi lebih tebal dan tidak tumbuh secepat biasanya. Pada beberapa kasus, bisa jadi kuku kekurangan kutikula dan bahkan lepas dari jari. Kondisi ini dapat disebabkan oleh keganasan organ-organ di dalam tubuh, limpedema atau pembengkakan pada tangan, rheumatoid arthritis, gangguan pernapasan seperti sinusitis dan bronkitiskronis, serta adanya cairan di antara selubung paru (efusi pleura).
  • Kuku berlekuk (pitting nails) : Lekukan pada kuku umumnya dapat ditemui pada pengidap psoriasis. Psoriasis adalah penyakit yang menyebabkan kulit menjadi kering, memerah, dan teriritasi.
  • Kuku Terry : Penyakit kuku ini terjadi ketika ujung tiap kuku berubah menjadi gelap. Selain akibat penuaan, kondisi ini dapat disebabkan penyakit tertentu seperti gangguan hati, diabetes, dan penyakit jantung.

Selain itu perubahan warna kuku juga bisa mengindikasikan adanya suatu penyakit. Perubahan tersebut sering terjadi dan disebabkan oleh pigmen melanin yang berlebihan atau akibat adanya endapan zat lain pada bagian kuku.

  • Kuku berwarna hijau (Green Nails): terjadi pada kuku yang mengalami onikolisis dan paronikia yang berat. Pigmen yang dihasilkan oleh kuman diendapkan pada lempeng kuku. Kelainan ini dapat mengenai sebagian atau seluruh permukaan kuku. Warna hijau itu disebabkan oleh infeksi kandida albikans atau aspergilus flavus.
  • Kuku berwarna hitam (Black Nails): warna hitam pada kuku sering terjadi pada penyakit pinta, defisiensi vitamin B12 dan juga melanoma malignum. Infeksi jamur oleh kandida albikans juga dapat menyebabkan kuku berwarna hitam.
  • Kuku berwarna cokelat (Brown Nails): sering disebabkan oleh karena obat anti malaria dan pada penyakit Addison.
  • Kuku berwarna biru (Blue Nails): kelainan ini muncul akibat adanya gangguan metabolism tembaga. Ditemukan pada penyakit Wilson dan penderita argiria, pengobatan kemoterapi dan juga pada pengobatan antimalaria.
  • Kuku berwarna putih (Leukonikia): garis atau titik putih tak beraturan pada kuku yang terjadi bisa sebagian atau sampai menyeluruh.
    • Leukonikia pungtata : terjadi pada penyakit tifus, nefritis karena trauma dan infeksi jamur.
    • Leukonikia striata :perubahan warna kuku berupa garis putih akibat kelainan bawaan atau trauma otak yang hebat.
    • Leukonikia totalis :kelainan ini dijumpai pada penyakit sirosis hepatis, penyakit jantung, diabetes mellitus, tuberculosis dan arthritis rematoid.
BACA  KPAI Minta Pemerintah Beri Bantuan pada Anak yang Kehilangan Orangtua Akibat Covid-19

Karena itu, ia menegaskan bahwa kuku, yang walaupun hanya kurang dari 1% dari tubuh kita ternyata memiliki fungsi yang sangat penting. Begitu banyak kelainan yang bisa kita dideteksi dari kuku. Karena itu, khususnya pada anak-anak haruslah melakukan perawatan kuku secara teratur dan rutin. Kuku kita bisa menjadi sumber segala penyakit jika tidak kita rawat dengan baik. Tangan merupakan organ tubuh yang sering sekali digunakan untuk berbagai macam aktivitas, terutama jari-jari kita, seperti mengetik, menulis, menggaruk dan lainnya. Maka dari itu, kebersihan kuku sangatlah penting untuk dijaga, terutama memotong kuku setiap seminggu sekali. Mengapa harus memotong kuku secara rutin? Kita akan terhindar dari berbagai macam penyakit, seperti penyakit pencernaan dan juga penyakit mata. Hal ini dikarenakan kuku yang panjang adalah pusat bersarangnya bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tersebut. Kalau kita memotong kuku seminggu sekali, bakteri yang bersembunyi di balik kuku akan hilang dan kita akan terhindar dari serangan penyakit. Selain itu, kuku yang panjang dan kotor akan bisa menyebabkan infeksi pada kulit dan bisa menularkan penyakit ke orang lain.

BACA  APSAI Kota Denpasar Luncurkan Album “Anak Kreatif”

Sementara, untuk menjaga kesehatan kuku, ada banyak hal yang dapat dilakukan, seperti:

Advertisement
  • Hindari menggigit atau menarik ujung kuku tanpa gunting kuku.
  • Teratur memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku.
  • Gunakan gunting kuku yang tajam. Dianjurkan untuk memotong kuku sehabis mandi, saat kuku dalam kondisi lunak.
  • Jika kuku rapuh, hindari memanjangkan kuku dan potong secara teratur. Jugaoleskanlosionpada kuku kitauntukmembuatnyatetaplembab.

Bagaimana halnya dengan pemakaian pewarna kuku atau kutek? Mengapa orang dewasa boleh memanjangkan kuku dan memakai kutek? Pertanyaan ini juga kerap dilontarkan anak kepada ibunya. Pemanjangan kuku pada orang dewasa tentunya berkaitan dengan faktor perilaku. Pada orang dewasa tentunya akan lebih perhatian dengan kukunya sehingga akan lebih rutin dan teratur dalam memelihara kuku, berbeda dengan anak-anak. Kemudian pemakaian kutek lebih cenderung untuk fungsi kosmetik saja. Memberikan tambahan sentuhan keindahan pada kuku mulai dari membentuk, mengikis dan juga mengecat kuku tersebut, akan membuat kuku semakin menarik dan indah. Namun perlu diingat, pemakaian kutek bukannya tanpa risiko. Bahan yang digunakan untuk cat kuku tersebut mengandung zat kimia yang berbahaya terhadap kesehatan kita. Jadi, diharapkan kita agar lebih bijaksana dalam menggunakan kutek demi menjaga kesehatan tubuh. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

Bunda & Ananda

KPAI Berharap Kemenkes Mempercepat Vaksinasi Anak Usia 6-11 Tahun

Published

on

Anak-anak antusias mengikuti vaksinasi Covid-19 (cybertokoh/dok. BNPB)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Pembukaan sekolah tatap muka secara bertahap akan menjadikan anak berpotensi menjadi pembawa Covid-19 setelah beraktivitas di luar rumah dan menularkannya kepada orang lain. Karenanya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sangat mendorong agar vaksinasi anak usia 6-11 tahun dapat dipercepat.

“KPAI sangat mengapresiasi kerja keras BPOM dan para ahlinya sehingga memberi izin penggunaan vaksin Sinovac untuk anak usia 6-11 tahun. KPAI berharap agar Kementerian Kesehatan bisa segera memberikan vaksinasi tersebut pada anak usia 6-11 tahun,” ujar Retno LIstyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan.

PAUD/TK dan SD, kata Retno, sudah mulai menggelar PTM (pembelajaran tatap muka). Mereka belum divaksin dan sulit dikontrol perilakunya. Karenanya KPAI berharap Kemenkes bisa segera memberi mereka vaksin. Meskipun diketahui bahwa Kemenkes baru bisa memberi mereka vaksin pada awal 2022.

Advertisement

Menurutnya, pandemi Covid-19 berdampak sangat luas terhadap perkembangan anak dalam hal kesehatan (fisik dan mental), aspek sosial juga pendidikan. Saat Juni-Juli 2021, pada saat tingkat infeksi Covid-19 cukup tinggi di Indonesia, kelompok anak yang terinfeksi cukup banyak. Mencapai 2,9% untuk usia 0 – 5 tahun dan 10% untuk usia 6 – 18 tahun.

Sejumlah negara yang mengalami penurunan kasus, saat ini kembali mengalami kenaikan kasus. Kondisi tersebut mungkin sekali dialami juga oleh Indonesia. Oleh karena itu, sangat penting menciptakan sistem pelayanan kesehatan yang dapat mengantisipasi kemungkinan bertambahnya kasus Covid-19 pada anak, termasuk perlunya vaksinasi untuk usia anak.

BACA  Perlukah Anak Ikut Bimbel?

Di bagian lain Retno menjelaskan soal survei singkat persepsi peserta didik tentang vaksinasi anak usia 12-17 Tahun yang dilakukan oleh KPAI. Survei yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi google form ini diikuti oleh 86.286 partisipan/responden dari jenjang pendidian SD/MI/SLB (10%), SMP/MTs/SLB (40%), MA/SMA/SMA/SLB (50%). Adapun asal daerah para partisipan berasal dari 34 Provinsi di Indonesia, bahkan diikuti juga peserta didik dari Sekolah Indonesia Luar negeri (SILN), yaitu SILN Singapura dan SILN Filipina.

Ada beberapa temuan dari hasil survei tersebut, di antaranya 88% anak bersedia menerima vaksin, ragu-ragu 9% dan menolak vaksin 3%. Meskipun bersedia menerima vaksin, namun banyak dari mereka belum ada kesempatan untuk mendapatkannya.

“Baru 36% yang sudah beruntung mendapatkan vaksin, sedangkan 64% di antaranya belum divaksin,” jelas Retno sembari menambahkan, dari data tersebut menggambarkan belum meratanya vaksinasi anak di berbagai daerah di Indonesia.

Advertisement

Sebanyak 3% responden tidak bersedia divaksin dengan berbagai alasan. Di antaranya ada yang menyatakan tidak perlu vaksin yang penting menerapkan protokol kesehatan. Ada juga yang beralasan memiliki komorbid sehingga secara medis tidak bisa divaksin.

“Tapi ada juga yang menolak vaksin karena tidak yakin dengan merk vaksin tertentu. Itu jumlahnya 8%. Ada juga yang bilang, divaksin tidak menjamin tidak tertular Covid-19 (8%) dan tidak diijinkan orangtuanya untuk vaksin (7%),” papar mantan kepala sekolah SMAN 3 Jakarta, ini.

BACA  Tanamkan Sopan Santun sejak Dini

Menurut Retno, meski yang tidak bersedia divaksin hanya 3% dari 86.286 responden, namun hal tersebut tetap perlu menjadi pertimbangan untuk ditindaklanjuti pemerintah, Misalnya melalui pendekatan berbasis sekolah/madrasah yang melibatkan pendidik di sekolah.

Anak-anak yang sudah divaksinasi mengaku pasca divaksin merasakan nyeri ditempat suntikan dilakukan (41%); lapar atau haus (16%); rasa lelah (11%); sakit kepala (4%); demam (3%); mual atau muntah (1%); dan sisanya jawabannya lainnya (24%). Namun begitu, efek dari vaksin yang dirasakan anak, tidak ada yang parah apalagi sampai di rawat di rumah sakit.

Hasil Pengawasan Vaksinasi Anak Usia 12-17 Tahun

Advertisement

Selain melakukan survei tentang program vaksinasi anak dengan sasaran responden anak usia 12-17 tahun, KPAI juga telah melakukan pengawasan langsung ke 7 sekolah terkait program vakinasi anak di sejumlah sentra vaksin sekolah di wilayah DKI Jakarta. Di antaranya di SMPN 161 Jakarta Selatan, SMPN 88 Jakarta Barat, SMPN 270 dan SMPN 30 Jakarta Utara, SMAN 22 Jakarta Timur, SDN Pasar Baru 07 dan SMAN 20 Jakarta Pusat.

Sepanjang pantauan KPAI di media massa, ada sejumlah daerah yang sudah melakukan vaksinasi anak usia 12-17 tahun sejak Juli 2021, di antaranya : Provinsi DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, bahkan Papua . Sementara vaksinasi anak yang baru mulai digelar bulan Agustus 2021, di antaranya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT).

BACA  Dari Evaluasi Jadi Resolusi

Tidak ditemukan kasus vaksinasi anak yang berefek berat di setiap sentra pengawasan vaksinasi anak. Namun di Bali ada 2 kasus anak mengalami pusing dan terjatuh setelah divaksin, tepatnya saat observasi pasca vaksin dan langsung mendapatkan pertolongan.

Setelah diperiksa di IGD oleh dokter, ternyata anak mengaku belum sarapan dan tidur terlalu larut sehingga pasca vaksin mengalami pusing dan jatuh pingsan. KPPAD Bali sebagai mitra KPAI sudah mendatangi sekolah dan kediaman kedua anak tersebut. “Saat bertemu, anak dalam kondisi sudah sangat membaik,” kata Retno.

Terkait dengan permasalahan vaksinasi anak, KPAI mengeluarkan sejumlah rekomendasi. Di antaranya adalah mendorong percepatan vaksinasi anak usia 12-17 tahun karena capaiannya masih rendah yaitu 4,5 juta dari target 26 juta anak.

Advertisement

“Jika pemberian vaksinasi anak usia 12-17 tahun belum dapat dituntaskan pada Desember 2021 ini maka program vaksinasi anak usia 6-11 tahun akan tertunda,” ujarnya.

KPAI mendorong para orangtua yang memiliki anak-anak usia 6-17 tahun segera divaksin. Jangan ditunda, jangan memilih milih merek vaksin. KPAI yakin bahwa vaksin Covid yang ada aman, berkhasiat dan bermutu.

“Ingat, vaksin adalah hak anak-anak Anda. Berikan haknya, izinkan dan antar mereka untuk divaksin. Vaksin Sinovac sudah digunakan untuk anak usia 6-11 tahun di sejumlah negara, seperti China, Chile, Kolumbia dan Kuba,” jelas Retno. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Bunda & Ananda

Peran Orangtua Sangat Penting Dalam Membiasakan Anak Taat Prokes

Published

on

Para pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’ (Tangkapan Layar-Diana Runtu)

Jakarta (cybertokoh.com) –

Mengajarkan anak-anak menerapkan protokol kesehatan (prokes), apalagi yang usianya di bawah lima tahun, bukan hal yang mudah. Namun bukan berarti tidak bisa. Asalkan orangtua mau melakukan pengajaran terus menerus, mengingatkan, juga memberi pengertian, anak-anak akan bisa patuh melaksanakan prokes.

Hal ini disampaikan oleh dr. Grace Hananta, salah satu pembicara dalam Talkshow ‘Vaksin Anak Sayangi Keluarga’, Senin (8/11). Selain Grace, yang juga menjadi narasumber talkshow tersebut adalah dr. Piprin Basarah Yanuarso (Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI), dr. Siti Nadia Tarmizi (Juru Bicara Kemenkes untuk Vaksin Covid-19).

“Saya melihat banyak anak-anak usia 1,5-2 tahun sudah pandai menggunakan masker. Mereka tetap memakainya meskipun tengah bermain dengan teman-temannya. Itu juga terjadi pada anak-anak saya yang masih usia 3,5 tahun dan 5,5 tahun. Mereka sangat disiplin memakai masker, bahkan kadang mengingatkan orangtuanya,” ungkap dr. Grace yang rajin mengkampanyekan prokes di media sosial miliknya.

Advertisement

Menurut Grace, sejak awal pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, dia telah mengajarkan anaknya yang kala itu—anak bungsu—baru berusia 2 tahun untuk memakai masker.Namanya anak-anak, memang tidak mudah. Namun asalkan orangtua telaten mengajarkannya, melakukannya secara berulang-ulang, termasuk memberi pengertian, pasti bisa. Ajaran yang dilakukan berulang kepada anak, akan masuk dalam pikiran mereka dan anak akan menurut orangtua.

“Jadi peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan anak-anaknya yang masih kecil-kecil untuk menaati prokes. Bukan hanya mengajarkan dan memberi pengertian, tapi juga memberi contoh. Jadi orangtua pun harus taat prokes, anak-anak melihatnya,” tutur Grace sembari menyarankan, bahwa yang terbaik adalah memberi pengertian pada anak bukan menakut-nakuti.

Hal senada juga disampaikan oleh dr. Piprin Basarah Yanuarso, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menurutnya, anak-anak jika diajarkan dengan telaten, mereka pasti bisa memakai masker.

BACA  Tegas dan Suka Bercanda, Guru Idola Siswa

“Saya memiliki pasien kecil-kecil, usianya 1-1,5 tahun. Tapi mereka sudah pintar memakai masker. Sampai-sampai saya tanyakan, kok pintar betul anak ibu memakai masker. Para ibu menjawab, itu karena mereka mengajarkan anak secara terus menerus,” jelas Piprin.

Jadi kuncinya ada pada orangtua. Jika anak diajarkan secara terus menerus, juga diberi penjelasan, mereka akan menurut pada orangtuanya. “Kita (orangtua) bisa mengajarkan anak-anaknya untuk menjalani prokes, utamanya ketika berada di luar rumah (outdoor). Tapi saya ingatkan, sebaiknya, kalau tidak perlu sekali, tidak usah keluar rumah.

Advertisement

Vaksinasi Anak Sangat Penting
Selain prokes yang melindungi anak dari penyakit, kata dr Piprin, juga diperlukan vaksinasi Covid-19 untuk anak. Pihak IDAI, ujarnya, sangat menyambut baik keputusan memperluas vaksinasi yang sebelumnya usia 12-17 tahun, menjadi 6-11 tahun.

“Pada prinsipnya anak-anak yang bertubuh sehat tanpa komorbid, dibolehkan untuk vaksinasi. Kecuali, dalam beberapa kasus berat misalnya anak yang sedang infeksi berat, demam akut, sedang dirawat karena pneumonia, kanker dengan pengobatan sitostatiska dosis tinggi. Atau, anak yang menderita penurunan imunitas seperti HIV berat atau imunodefisiensi berat,” paparnya.

Untuk anak-anak yang memiliki masalah kronik, asalkan terkontrol dengan baik, seperti penyakit jantung bawaan misalnya, atau leukemia, itu bisa konsultasi dengan dokter anak yang biasa merawatnya guna mendapatkan surat keterangan layak vaksin.

Jadi, tandas dr Piprin, pada prinsipnya kebanyakan anak bisa divaksin. Karenanya, para orangtua jangan khawatir. “Insyaallah vaksinasi Covid ini aman. Bahkan beberapa studi terkait efek sampingan, itu jauh lebih ringan daripada orangtua. Efektivitasnya pun lebih tinggi dibanding orang dewasa,” jelasnya.

Sempat, kata Piprin ada yang menyebut ‘Buat anak kok coba-coba’. Hal ini tidak benar. Vaksinasi anak bukan coba-coba karena telah melalui uji klinis fase 1 dan 2. “Jadi bukan coba-coba. Justru kalau orangtua tidak membawa anak-anaknya untuk divaksin, malah mereka coba-coba,” katanya.

Advertisement

Efek sampingan pasca vaksin biasanya bersifat local. Seperti; agak demam, nyeri di sekitar bekas suntikan. Berdasarkan survey, sekitar 4-5% mengalami agak demam, 90% nya tidak mengalami efek sampingan.

BACA  Berbagi Bantal Bisa Tularkan Sakit Mata?

“Kalau anak masih ceria saja, masih lari ke sana-kemari. Kemungkinan anak tersebut oke-oke saja. ‘Sumeng’ sedikit, tapi dia masih lincah, orangtua tak perlu terlalu khawatir. Anak memahami bahasa tubuhnya. Karena kalau dia memiliki masalah serius, dia akan diam, tidak aktif,” jelasnya.

Ia mengingatkan agar orangtua melakukan observasi terhadap anaknya sebelum maupun setelah divaksin. Mempersiapkan anak dengan baik. Seperti, mengingatkan anak agar cukup beristirahat dan tidak melakukan aktivitas yang berlebihan baik sebelum dan sesudah vaksin.

Anak Rentan Terhadap Infeksi
Dalam kesempatan itu dr.Grace juga mengingatkan kepada orangtua tentang pentingnya vaksinasi pada anak. “Selain prokes 3 M 5 M, vaksinasi penting sekali. Karenanya saya sangat bersyukur dengan adanya keputusan penggunaan darurat vaksinasi pada anak usia 6-11 tahun. Anak saya belum mencapai usia itu, tapi tahun depan dia akan 6 tahun, jadi sudah bisa mendapatkannya,” kata Grace.

Anak-anak, lanjut Grace, rentan terhadap infeksi. Jika terpapar Covid-19, mereka cenderung menjadi OTG (orang tanpa gejala). Karenanya penting bagi anak untuk bisa segera mengakses vaksinasi, selain untuk melindungi dirinya juga keluarga. Apalagi sekarang ini pembelajaran tatap muka sudah mulai digelar secara bertahap di sekolah-sekolah. “Jadi kami orangtua sangat menunggu adanya vaksinasi anak usia 6-11 tahun,” ucap wanita cantik ini.

Advertisement

Imunitas anak, tambahnya, belumlah sebaik orangtua. Anak usia di bawah 5 tahun yang terkena Covid, memiliki risiko meninggal hingga 50%. Karenanya penting dilakukan antisipasi dengan vaksinasi. Prokes dan vaksinasi adalah cara untuk melindungi diri dan keluarga dari Covid-19.

BACA  Rumitnya Adopsi Anak, Ini Penjelasan Ruben Onsu

“Kita para orangtua bisa menjaga kesehatan anak dengan baik. Yakni dengan mengajarkan anak disiplin prokes. Juga memberi mereka vaksinasi. Masker atau prokes melindungi dari luar dan vaksinasi melindungi dari dalam. Dengan begitu kita juga anak-anak sehat dan bisa melewati pandemic Covid ini dengan baik,” katanya.

Terkait vaksinasi terhadap anak usia 6-11 tahun, Juru Bicara Kemenkes untuk vaksin Covid-19 dr. Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, saat ini tengah dipersiapkan petunjuk teknisnya. Data sementara peserta yang akan divaksin sekitar 26-27 juta anak. Itu artinya diperlukan dosis tambahan.

Nantinya, anak-anak usia 6-11 tahun akan memperoleh vaksin Sinovac dua dosis. IDAI merekomendasikan dosis yang diterima anak-anak sama dengan dosis yang diterima orang dewasa. Rentang waktu antara dosis pertama dan kedua 28 hari. Cara pendaftaranya, sama seperti vaksinasi-vaksinasi yang sudah dijalankan selama ini yaitu, system vaksinasi satu data. Diperlukan nomor induk kependudukan (NIK) anak.

“Jadi mumpung vaksinasi anak 6-11 tahun belum berjalan, para orangtua mulai sekarang melakukan persiapan, khususnya terkait administrasi. NIK anak ada di kartu keluarga. Jika anak belum memiliki NIK, agar segera ke kelurahan atau kecamatan setempat untuk mengurusnya. Karena NIK itu dipakai sebagai identitas saat kita memulai vaksinasi,” jelas Nadia seraya menambahkan kegiatan vaksinasi ini rencananya bekerja sama dengan sekolah-sekolah.

Advertisement

“Biasanya anak akan lebih termotivasi jika dilakukan di sekolah, ketimbang di Puskesmas. Karena di sekolah ada teman-temannya. Anak akan melihat teman-temannya divaksin,” katanya.

Selain itu, lanjut Nadia, vaksinasi juga akan dilakukan pada anak penyandang disabilitas. “Kita akan kerja sama dengan sekolah luar biasa juga komunitas-komunitasnya. Sedang untuk anak yang tidak berada di bangku sekolah, kita akan kerja sama dengan Dinas Sosial. Misalnya anak jalanan, dsb,” paparnya panjang lebar. (Diana Runtu)

Continue Reading

Bunda & Ananda

Ny. Putri Koster Ingatkan Pentingnya Tumbuh Kembang Anak Sejak dalam Kandungan

Published

on

Denpasar (cybertokoh.com) –

Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny. Putri Koster menekankan pentingnya fase tumbuh kembang anak-anak sejak dalam kandungan, sehingga hendaknya bukan hanya saat anak lahir baru dipersiapkan oleh orang tua. Karena, hal ini juga menjadi indikator pertumbuhan kesehatan fisik dan mental anak-anak sejak dini.

Hal tersebut disampaikan Ny. Putri Koster saat menjadi keynote speaker dalam acara webinar yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Prov Bali yang bertemakan ‘Melindungi Anak-Anak Bangsa Menuju Indonesia Maju’ secara virtual dari Jayasabha, Denpasar, Sabtu (31/7).

Pada webinar mengangkat topik ‘Peranan Keluarga di Masa Pandemi dalam Membangun Indonesia Maju’ ini, Ny. Putri Koster bahkan mengatakan jika dalam mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas, cerdas, berakhlak mulia serta berbudi pakerti yang luhur, sejatinya juga harus disiapkan oleh calon orang tua sejak remaja. “Nah ini seperti rantai, kita menyiapkan para remaja putra dan putri kita untuk siap menjadi orang tua yang bisa mencetak generasi penerus yang sehat jasmani dan rohani. Jika rantai ini terus terjaga tanpa jeda, niscaya Indonesia akan dipenuhi oleh generasi bangsa yang berkualitas,” ujarnya.

Advertisement

Pendamping orang nomor satu di Bali itu juga mengatakan, TP PKK yang diketuainya juga sedang menggalakkan program pencegahan stunting pada anak-anak. Dalam webinar ini juga sangat berkaitan dengan program tersebut.

BACA  Tegas dan Suka Bercanda, Guru Idola Siswa

“Webinar ini sangat berkaitan dengan program kerja kami. Karena, ketika kita bisa menyiapkan sedini mungkin bahkan selama dalam kandungan anak-anak kita, secara bersamaan juga bisa mencegah stunting,” ungkapnya.

Ia pun menegaskan, ini menjadi peranan seluruh komponen dalam menyiapkan tumbuh kembang anak-anak, baik orang tua, aparat desa hingga pemerintah demi menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang mereka.

“Terutama bagi orang tua, sejak anak-anak remaja persiapkan mereka menjadi orang tua yang baik bagi calon anak mereka. Untuk aparat desa, pantau terus lingkungan sekitar, jika memang dirasa ada yang aneh terutama anak-anak kita, laporkan dan ambil tindakan. Jangan pikir anak-anak sudah di rumah aman-aman saja. Kekerasan juga terkadang ada di rumah,” imbuhnya.

Selain tumbuh kembang anak, Ny. Putri Koster juga berpesan tentang bahaya narkoba serta ancaman pedofilia pada anak-anak. “Ini pentingnya peranan dari orang tua serta keterlibatan lingkungan anak-anak dala menjaga generasi penerus kita,” tambahnya dalam acara webinar yang turut dihadiri sekitar 400 peserta. Ia mengatakan penting sekali juga para orang tua untuk mendapat edukasi, agar bisa menghindarkan anak-anak dari ancaman-ancaman tersebut.

Advertisement

Sementara Ketua PDSKJI Bali dr. Ida Bagus Wisnu Wardana mengatakan webinar kali ini bertujuan untuk mengedukasi para orang tua serta lingkungan tempat tinggal anak supaya bisa menjaga serta membesarkan anak-anak dengan baik di tengah pandemi. Ia mengakui, memang banyak tantangan dalam menghadapi anak-anak apalagi selama pandemi ini. Ia pun berharap melalui webinar kali ini bisa memberikan inspirasi dan masukan bagi para orang tua.

BACA  Perlukah Anak Ikut Bimbel?

Webinar pagi itu menghadirkan narasumber Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ(K), MARS; dr. Dewa Ayu Shinta Widari, SpKJ, MARS; dr. I Dewa Gede Basudewa, SpKJ; dan Dr. dr.  Anak Ayu Sri Wahyuni, SpKJ.

Sebagai penutup, tak lupa Ny. Putri Koster menyimpulkan ujung dari pembentukan karakter adalah keluarga. Sehingga ia mengajak para orang tua, terutama para ibu untuk mulai memperhatikan tumbuh kembang mental anak-anak. Ia juga berharap agar acara seperti ini bisa sering diadakan karena sangat berguna bagi keluarga.

Pada akhir acara, Ny Putri Koster juga berkesempatan menampilkan puisi bertajuk ‘Aku Melihat Indonesia’ yang ia bacakan di panggung terbuka Ardha Candra, Art Center. (Ngurah Budi)

Advertisement
Continue Reading

Tren