Sehat

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

dr. Ayu Witriasih, M.Kes.

Dikutip dari situs kemkes.go.id, saat ini, Indonesia tengah menghadapi tantangan serius berupa beban ganda penyakit. Perubahan gaya hidup masyarakat ditengarai menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit.

Pada era 1990-an, penyebab kematian dan kesakitan terbesar adalah penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), tuberkulosis (TBC), dan diare. Namun, sejak 2010, penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan kencing manis memiliki proposi lebih besar di pelayanan kesehatan. Karena itu, Gerakan  Masyarakat Hidup Sehat  (Germas)  menjadi momentum bagi masyarakat guna membudayakan pola hidup sehat.

Menurut dr. Ayu Witriasih, M.Kes., Kabid Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Denpasar, Germas merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa  dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan  berperilaku sehat  untuk meningkatkan kualitas hidup.

Tujuan dari Germas  adalah menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular, baik kematian maupun kecacatan, menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk, menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan karena meningkatnya penyakit,  dan menghindarkan peningkatan beban finansial penduduk untuk pengeluaran kesehatan.

Prinsip Germas, kerjasama multisektor. “Sektor kesehatan tidak dapat melakukan ini sendiri. Untuk itu kita perlu bergerak bersama-sama melakukan ini. Masyarakat tidak bisa bergerak kalau keluarga dan individu tidak bergerak. Keseimbangan ini harus dilakukan bersama.  Dimulai dari individu, dilanjutkan ke keluarga dan akhirnya ke masyarakat,” ujar dr. Ayu.

Pemberdayaan masyarakat dilakukan dalam rangka menciptakan kesadaran, kemauan, serta kemampuan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat. Target Germas, perubahan tingkah laku dan pola pikir  individu, keluarga, dan masyarakat.

Menurut Permenkes No. 74 Tahun 2015, ada tiga strategi yang dapat dilakukan dalam  Germas,  yaitu pemberdayaan masyarakat, dilakukan dalam rangka menciptakan kesadaran, kemauan, serta kemampuan individu, keluarga, dan kelompok masyarakat. Strategi kedua, advokasi, dilakukan dalam rangka mendapatkan dukungan dalam bentuk kebijakan dan sumberdaya yang diperlukan. Strategi ketiga, kemitraan, dilakukan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat dan advokasi dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan.

Germas dilaksanakan dengan cara, melakukan aktivitas fisik, konsumsi gizi seimbang, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol, mengelola stres, melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan memeriksa kesehatan secara berkala.

Untuk tahun 2016-2017, Germas difokuskan pada kegiatan, melakukan  aktivitas fisik, makan sayur dan buah, dan memeriksa kesehatan secara berkala.  “Memperbanyak aktivitas fisik,  seperti batasi kegiatan banyak duduk, menonton TV, main game dan komputer.  Aktivitas fisik yang terukur dan teratur untuk meningkatkan kesehatan dan   kebugaran, lakukan  3-5 kali tiap minggu.  Setiap gerakan tubuh yang melibatkan otot rangka dan mengakibatkan pengeluaran energi 30 menit perhari, 150 menit per minggu,” kata dr. Ayu.

Aktivitas fisik di sekolah seperti,  peregangan di antara jam pelajaran, bermain saat istirahat, tingkatkan aktivitas berjalan. Aktivitas fisik di tempat kerja seperti,  peregangan, gunakan tangga, tingkatkan aktivitas berjalan. Aktivitas fisik dalam perjalanan seperti, tingkatkan aktivitas berjalan, berhentilah 1-2 halte sebelum halte yang dituju, parkirlah kendaraan  agak jauh. Aktivitas fisik di tempat umum,  perbanyak  berjalan dari pada duduk, manfaatkan taman kota untuk aktivitas fisik, perbanyak kegiatan di ruang terbuka.  Aktivitas fisik di rumah,   lakukan pekerjaan rumah seperti mencuci, berkebun, menemani anak bermain.

“Porsi makanan yang masuk ke tubuh perlu diatur yaitu pada setiap piring makan terdiri dari 1/3 makanan pokok (nasi, jagung, singkong), 1/3 bagian sayuran dan 1/3 bagian lauk pauk dan buah. Cucilah tangan sebelum makan, batasi makanan yang mengandung gula, garam dan minyak, serta perbanyak air putih. Biasakan makan makanan yang bervariasi sejak usia muda, temasuk buah dan sayur. Manfaatkan buah dan sayuran lokal yang tersedia di daerah masing-masing,” sarannya.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala seperti Indeks Massa Tubuh untuk melihat keseimbangan antara umur, tinggi badan,  dan berat badan. Koleksterol darah, glukosa darah, tekanan darah untuk melihat faktor risiko terjadinya penyakit stroke, tekanan darah tinggi dan kencing manis. Untuk perempuan, lakukan IVA (inpeksi visual asam cuka tes) untuk melihat deteksi dini kanker mulut rahim. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di posyandu, posbindu, dan puskesmas secara gratis dengan memanfaatkan BPJS.

Dengan gerakan ini, ia berharap ke masyarakat, dapat melakukan aktivitas fisik secara rutin setiap hari, makan buah dan sayur setiap hari, manfaatkan halaman rumah untuk menanam sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol dan zat adiktif lainnya, buang air besar pada jamban keluarga, istirahat cukup, luangkan waktu untuk bersantai dengan keluarga, melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin minimal 1 tahun sekali atau sesuai anjuran dokter.

Ia menyatakan, masyarakat harus terlibat dalam gerakan hidup sehat ini.  Pemerintah pusat dan pemerintah daerah membuat kebijakan yang berwawasan kesehatan, mensosialisasikan ke jajarannya, sekaligus melaksanakannya. Menurutnya, di lingkup akademisi, dunia usaha,  ormas, dan LSM perlu dilibatkan juga untuk mensosialisasikan di lingkungan dan jaringannya masing-masing serta melaksanakannya. Sedangkan individu, keluarga, dan masyarakat, menerapkan Germas dengan berperilaku hidup sehat. (wirati.astiti@cybertokoh.com).

To Top