Kreasi

Mandala Art: Dari Terapi Spiritual jadi Benda Artistik

Anthi

Pernah melihat gambar lingkaran berpola yang memunculkan kesan artistik? Membuat pola itu tidak mudah. Bahkan membuat kepala pusing. Namun, ada yang menjadikan kegiatan menggambar pola atau pattern ini mengasyikkan bahkan bisa membuat fokus.

Pola lingkaran yang artistik ini dikenal dengan mandala art. Dari penelusuran di internet, mandala art ini memiliki filosofi hubungan antara dunia batin dan realistis.   Mandala adalah suatu bentuk pola desain (simbol) yang umumnya berbentuk lingkaran yang dibuat untuk merepresentasikan keutuhan secara personal maupun secara kosmologis. Pola lingkaran pusat yang kemudian melebar ke arah luar melalui berbagai lapisan untuk mencapai sebuah keutuhan yang indah pada akhirnya merupakan tema universal yang bergaung di seluruh budaya dan konsep spiritual.

Salah satu seniman yang menekuni mandala art adalah Ni Luh Putu Sri Wijayanthi. Perempuan yang akrab disapa Anthi ini mengaku awalnya hanya iseng. “Ada tantangan untuk membuat mandala art, bikin mata seperti bonar. Dulu saya kurang kerjaan, daripada melakukan hal negatif, sepertinya menggambar adalah hal yang lebih positif,” ujarnya.

Anthi pun belajar sendiri. Ia mempelajari tutorial di Youtube, mencari rekomendasi dari seniman-seniman yang memajang karyanya di Instagram, “mencontek” pattern orang-orang, ditambah membuat kreasi pattern sendiri. Dengan merancang mandala art sendiri, Anthi mendapat inspirasi dan terapi spiritual. “Menurut saya mandala art itu lingkaran dimana saat kita menggambar kita bisa memusatkan pikiran, bisa berkonsentrasi,” ungkap perempuan yang juga hobi bernyanyi dan main gitar ini.

Awalnya Anthi menggambar saat malam hari, karena suasana sepi. Ia pun lebih tenang berkreasi. Saking asyiknya, ia bisa menggambar hingga pukul 3 dini hari. “Tetapi, berhubung saya punya vertigo, jadi sering pusing, Sekarang saya menggambar di bawah pukul 22.00. Intinya tiap ada waktu, saya menggambar,” imbuhnya.

Anthi pun menuturkan proses kreatifnya. Ia menggambar pakai pensil. Setelah itu ditebalkan pakai Boxy kemudian di-scan, dibuat film. Selanjutnya diproses ke media lain. “Suami saya yang biasanya mengaplikasikan mandala art ke kaus, dompet kulit, case hp kayu. Yang penting bisa disablon sama dilaser. Jadilah benda yang artistik,” jelas perempuan yang ulang tahun tiap 16 Desember ini.

Pemasaran produk kreatifnya ini dilakukan melalui media online. Ada juga dititip di distro Rise Tabanan. “Kami juga bekerja sama dengan Malu Dong Community. Tiap penjualan kami donasikan Rp 10 ribu ke komunitas,” ujar Anthi. Ia pun berharap bisa terus menggambar dan mendapat inspirasi untuk membuat mandala art. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top