Griya

Sulap Kayu Bekas Kapal jadi Mebel Bernilai Jual Tinggi

Di tangan-tangan kreatif, barang-barang bekas bisa disulap menjadi barang bernilai jual tinggi. Salah satunya adalah reclaimed boat furniture, yakni furnitur (mebel) yang bahannya dari kayu bekas kapal nelayan.

Tidak diketahui pasti siapa dan kapan mebel kayu kapal ini mulai booming di Indonesia. Namun, ada cerita yang berkembang di masyarakat bahwa mebel kayu kapal ini mulai tren pasca bencana alam tsunami Aceh 2004 silam. Pasca tragedi itu, konon sangat banyak bangkai kapal yang terdampar di daratan. Oleh orang-orang kreatif, bangkai-bangkai kapal ini kemudian direvolusi menjadi beragam mebel yang kini banyak ditemui di pasaran. Di tangan orang-orang kreatif tentunya dengan ide-ide kreatifnya, berhasil menyulap kayu bekas bangkai kapal ini menjadi furnitur yang memiliki nilai estetis dan bernilai jual tinggi.

Salah seorang anak muda yang baru 2 tahun terjun di usaha ini adalah Ketut Widiana. Di bawah bendera Kokokan Boat Wood Furniture, ia menetapkan dirinya “bermain” dengan kayu kapal ini. “Banyak yang sudah bermain di kayu jati. Sekarang tamu (pebisnis), khususnya warga Negara Belanda, Jerman, Perancis, lebih banyak mencari kayu kapal karena masih limited di negaranya. Di Jerman, barang-barang bekas yang didaur ulang (reclaimed) ini benar-benar dihargai, walau harganya lebih mahal. Makanya terkadang juga saya memakai kayu bekas bak truk, bekas rumah, dll,” ujar Widiana yang pernah bersekolah di Jerman ini.

Ia menuturkan saat memulai bisnisnya ini, ia langsung turun ke pelabuhan di daerah Jawa, memburu kapal-kapal mangkrak untuk dicari kayunya. Untuk satu kapal yang dijagal, ia bisa mendapatkan 1 truk kayu. “Itu dulu. Sekarang sudah tinggal nelpon, tapi susah nyarinya,” imbuhnya.

Karena itu, ia membenarkan bahwa di pasaran sekarang, ada mebel yang memang benar-benar terbuat dari bekas kayu kapal, ada juga mebel yang sengaja difinishing seperti kayu bekas kapal. Karakteristik kayu kapal dijelaskannya umumnya ada lubang-lubang bekas pasak, warna-warna hitam bekas oli, bahkan terkadang masih ada kerang-kerang kecil yang menempel. Dan kesemuanya itu sengaja dibiarkan/dipertahankan agar terlihat alami.

Di tangan kreatif Widiana, kayu-kayu kapal ini disulap menjadi kursi, meja, rak, dll. dengan beberapa model. Seperti, skandinavian, roman chair, five drawer box, . “Tapi lebih sering tamunya yang memberikan desain sendiri. Mereka lebih cenderung minta model retro, modern dari kayu-kayu bekas kapal ini,” ucapnya.

TAKUT MATAHARI

Kayu bekas kapal dikenal memiliki karakteristik yang sangat kuat, sebab kayu-kayu yang dipergunakan untuk membuat kapal tentunya bukan kayu sembarangan, melainkan kayu-kayu pilihan (kuat) yang dapat bertahan ketika diterjang ombak. “Kayu kapal berbeda dengan kayu jukung (perahu). Kalau kayu jukung biasanya saya biarkan bentuknya, dan dijadikan rak (diberi nama rak jukung) yang bisa difungsikan sebagai rak botol wine,” ujar Widiana.

Selain itu, seringnya kapal yang berlayar terendam air laut membuat kayu kapal semakin kuat dan tidak dapat dimakan rayap. Sehingga furniture yang terbuat dari kayu bekas kapal sangatlah kuat dan awet. Berbeda dengan furnitur  berbahan kayu baru. Meski sangat kuat, ternyata kayu bekas kapal ini sangat rapuh jika sering terpapar sinar matahari. Karena itu, Widiana menegaskan bahwa furnitur kayu bekas kapal ini lebih cocok ditempatkan di dalam ruangan. Perawatannya, cukup dilap saja. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

(Visited 3 times, 1 visits today)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Terkini

To Top