Bunda & Ananda

Anak Adalah “Peniru”, Ada Apa dengan Upin & Ipin?

Bunda Agus

Siapa yang tak kenal serial animasi asal Malaysia  “Upin & Ipin”? Ceritanya yang sederhana, mendidik dan menjunjung etika sopan santun, menjadi salah satu tontonan favorit anak-anak, bahkan orang dewasa di Indonesia. Tak pelak, segala tindak-tanduk dua bocah gundul dan tokoh-tokoh dalam film tersebut ditiru oleh anak-anak,  salah satunya logat (gaya bahasanya). Ada apa dengan Upin Ipin?

Psikolog Agus Binti menjelaskan, imitasi adalah cara belajar yang termudah terlebih untuk anak-anak. “Dengan meniru mereka lebih mudah belajar. Meniru mengaktifkan 3 indera yang dimiliki, yakni visual, kinestetik, dan auditori. Salah satu contoh, untuk bisa berbicara maka anak akan meniru kata-kata yang diucapkan oleh kedua orangtuanya,” ucapnya.

Perilaku “meniru” ini mulai tampak di usia 2 sampai 3 tahun, dimana mereka selalu mencoba apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya,  dengan apa yang dilihat dan apa yang didengar. Perilaku meniru atau mengimitasi merupakan suatu kemampuan kognitif pada anak. “Jika di usia tersebut anak bisa meniru, maka kognitif  pada anak tersebut  berkembang,” ujar pemilik Madania Center yang akrab disapa Bunda Agus ini.

Lantas, apa yang membuat film Upin Ipin digandrungi anak-anak? Bunda Agus menyebut, karena media tersebut merangsang kognitif mereka. Disajikan dengan visualisasi yang menarik dan bisa dinikmati oleh anak-anak, sehingga mereka mudah menirunya. “Coba kalau disajikan dalam bentuk tulisan, maka mereka pun pasti tidak akan tertarik menirukan isi tokoh dalam tulisan tersebut,” imbuhnya.

Film adalah salah satu media yang dapat menstimulasi indera kita. Terlebih dibuat menarik dengan gambar yang memiliki warna tajam disertai suara yang asyik didengar dengan musik mengkoneksikan ke neuro kita sehingga terekam di pusat otak manusia yang dapat mengembangkan imajinasi mereka.

Film dapat menjadi sarana bermain dan belajar anak, yang di dalamnya berisi perilaku, emosi, gerakan motorik seperti berjalan, menari, mendengarkan musik dll. “Untuk itu alangkah bijaksana jika orangtua selektif memilih tontonan untuk putra-putrinya,” ujar Bunda Agus.

Dalam aktivitas menonton film tersebut, perkembangan kognitif yang pertama menonjol adalah meniru bahasa, setelah itu baru perilaku. Dalam meniru, anak biasanya melihat dan mengamati terlebih dahulu kemudian menirunya.

Jika melihat dan mengamati perkembangan anak, pada awalnya anak akan meniru ayah bundanya atau orang terdekatnya, kemudian  pengasuh beserta lingkungannya, sehingga semakin luas. Dan seiring bertambahnya usia, maka model peniruannya pun semakin berkembang. Perilaku imitasi bisa menjadi hal positif jika yang diimitasi adalah hal dan perilaku positif. Begitu juga sebaliknya,  menjadi hal negatif jika yang diimitasi perihal negatif. Berikan pemahaman pada anak. Anak akan meniru jika yang mereka lihat, dengar dan yang mereka lakukan adalah sesuatu yang menarik baginya. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top