Kolom

SAMURAI 3

Pagi-pagi, sebelum Amat tuntas menyeruput kopi, Pak Sandi muncul lagi. Wajahnya tambah berantakan. Jelas tampak tak sempat tidur semalaman. Di luar kebiasaanya, ia panik.
“Pak Amat, saya bingung sekali.”
“Tenang. Ada apa Pak Sandi?”
“Empat saudara tiri saya, semalam datang bersama dua orang debt collector.”
“O,ya? Mereka mau apa?”
“Mereka bilang, kalau saya tidak mau melunasi hutang-hutang adik-adik tiri saya itu, dia tidak mau menanggung keselamatannya.”
Amat bingung.
“Maksudnya, adik-adik tiri Pak Sandi itu dililit utang?”
“Katanya begitu. Tidak itu saja. Debt collector yang lain mengatakan bapak angkat saya, paman saya yang baru meninggal itu, ternyata juga punya hutang Rp 10 M. Kalau itu juga tak dilunasi, dia juga tak menanggung keselamatan adik-adik saya.”
Amat bingung.
“O, ya? Kenapa? Terus?”
“Kedua debt collector itu mengaku, dia datang dengan damai dan berharap saya akan memberikan respons juga yang damai.”
“Maksudnya?”
“Ya meminta saya melunasi utang-utang adik saya. Termasuk utang perusahaan bapak angkat saya yang di luar pengetahuan saya sudah dikelola adik-adik tiri saya. Dalam surat wasiatnya, bapak angkat saya menunjuk saya sebagai ahli warisnya. Jadi menurut logika mereka, utang perusahaannya tanggungan saya. Lalu saya iseng menanyakan, rumah saya kalau dijual laku berapa? Jangankan Rp 10 M, Rp 1 M pun belum ada yang mau. Tapi kata debt collector itu, asal dilunasi, dicicil juga bisa.”
Amat termenung.
“Jadi Pak Sandi mau membayar?”
Sandi bingung.
“Menurut Pak Amat, baiknya bagaimana?”
“Pak Sandi sudah berunding dengan keluarga? Maksud saya, istri dan anak-anak?”
Pak Sandi terdiam.
“Belum? Kenapa?”
“Saya tak mau menyusahkan mereka, Pak Amat”
“Kenapa?”
“Mereka menyangka saya dapat warisan besar. Mereka sedang sibuk bermimpi, bikin rencana mau beli rumah yang lebih baik dan piknik ke luar negeri. Jadi kasihan kalau saya hancurkan mimpi mereka. Soalnya mereka ikhlas sudah lama dengan setia menemani saya hidup sederhana.”
Amat terharu. Ia marah, karena merasa lelaki yang baik itu tak pantas dapat perlakuan sekeji itu. Keempat adik tirinya itu pasti bandit. Dan debt collector yang bertopeng damai itu, jangan-jangan sandiwara.
“Baiknya bagaimana ya, Pak Amat?”
Amat bingung, tak tahu harus bilang apa. Waktu itu Bu Amat masuk. Ia membawa samurai palsu yang sempat membuat suaminya jadi pahlawan.
Amat terperanjat. Pak Sandi juga heran. Bu Amat dengan tenang duduk di samping suaminya.
“Pak Sandi, maaf saya tahu apa yang Pak Sandi hadapi sekarang. Kami ibu-ibu tidak akan membiarkan Bapak-Bapak menghadapi kesulitan sendirian. Anak muda yang dulu menjual samurai ini kepada suami saya bilang: untuk menjaga perdamaian, diperlukan senjata, kata presiden pertama Amerika Serikat, George Washington. Ya kan, pak?”
Amat tak sempat menjawab.
“Jadi, ternyata sejak kejadian perampok malam itu, tidak ada lagi pencurian. Hunian kita terus damai sampai sekarang. Jadi, pak Sandi, silakan,  Bapak bawa saja samurai ini, siapa tahu membantu.”
Bu Amat lalu menyerahkan samurai palsu itu ke tangan Pak Sandi. Karena Bu Amat sangat bersungguh-sungguh, Pak Sandi tak berani menolaknya.
“Bapak sebetulnya mau ketawa melihat kelakuan ibu kamu, Ami,” kata Amat, 3 minggu kemudian menceritakan peristiwa itu pada Ami. “Tapi boleh percaya, boleh tidak, keempat adik tiri Pak Sandi dan kedua debt collector-nya tak berani lagi nongol!”
Ami terpesona.
“O, ya? Masak? Jadi samurai itu sakti?”
“Orang menganggap begitu. Biar saja. Hidup kan perlu dongeng. Tapi sebenarnya, bapak diam-diam berunding dengan para warga RT 9, lalu melapor ke polisi. Bapak yakin hukum harus ditegakkan kalau sudah ada yang mau main kayu. Lalu sekarang ketahuan bapak angkat Pak Sandi ternyata mewariskan Rp 15 M untuk anak angkatnya!”

To Top