Kreasi

Latte Art: Kombinasi Good Taste dan Good Visual

Vikki sedang menunjukkan cara membuat latte art

Bagi pecinta kopi yang sering minum di kafe atau restoran, pasti terbiasa melihat “kopi bergambar” atau yang dikenal dengan istilah latte art. Untuk membuat latte art, selain perlu kepiawaian barista juga perlu racikan espresso dan susu yang tepat.

“Saya sering bertanya kepada konsumen, apakah latte art penting atau tidak. Ternyata jawaban yang saya dapatkan, latte art penting. Ada konsumen yang begitu disajikan latte art langsung motret dan posting ke media sosial. Ada juga yang bilang latte art adalah bonus dari espresso,” ungkap Vikki Raharja, seorang barista Indonesia dalam acara “Taste Your Temperatur” bersama Toffin.

Vikki menuturkan bagi seorang barista, latte art merupakan takdir untuk bisa menyajikan minuman yang good taste dan seni yang good visual. Kombinasi good taste dan good visual ini juga menjadi parameter penilaian di ajang lomba. “Kekontrasan warna dan kesimetrisan gambar yang disajikan sangat penting,” ujar Vikki.

Pria yang berlatar belakang sarjana teknik nuklir ini menceritakan pengalamannya ikut lomba latte art. Tahun 2012 ia ikut di sebuah kompetisi di Jakarta. Hanya bermodal keahlian membuat gambar tulip tiga slice, Vikki berhasil meraih juara 3. Dua tahun kemudian, ia ikut event di Bali. Di babak kualifikasi, pria yang menjadi barista sejak 2008 ini menjadi juara 1. Tetapi di babak final ia gagal.

“Barista bukan hanya jago membuat latte art tetapi harus membuat espresso yang enak. Sayang sekali, waktu itu, gambar saya bagus tetapi, rasa espressonya jelek. Saya malu. Saya pun menjadikan itu sebagai pengalaman,” kenangnya.

Vikki menjelaskan latte art adalah cara menyiapkan kopi dengan menuangkan susu panas ke secangkir espresso dan menciptakan pola atau desain di permukaan latte. Selain itu bisa pula dengan langung “menggambar” di lapisan atas busa. Hiasan khas yang memperindah kopi ini disebut latte art. Ada yang membuat gambar cemara, jantung, bebek, naga, dan berbagai kreasi lainnya.

Saat barista beraksi, pengunjung biasanya menonton dan tertegun takjub. Ada juga yang langsung mengabadikan dengan ponsel lalu mengunggah ke media sosial. Betapa dengan mudahnya para barista ini memeragakan ‘melukis’ kopi dengan susu yang dibuat sedemikian rupa. Memang diperlukan ketrampilan khusus agar latte art lahir dengan sempurna. “Saya dulu belajar dari YouTube. Satu hari bisa menghabiskan 10 karton susu untuk belajar,” ujar barista yang pernah bekerja di Kroasia ini.

Dari pengalamannya, Vikki akhirnya berhasil menemukan formula yang sesuai untuk membuat latte art. Racikan espresso dan susu yang sudah di-steam ini juga dipengaruhi ketepatan mengatur temperatur mesin. Ia menambahkan, sekarang dengan mesin kopi yang canggih, barista sangat terbantu untuk membuat bahan latte art. Kadang kala, ia berguyon, kalau kombinasi espresso dan susu sudah tepat, tinggal tuang saja sudah menghasilkan latte art.

BARISTA IBARAT PELUKIS

Latte art terjadi karena bantuan susu yang dipanaskan dengan steamer dan membentuk microfoam. Kehadiran microfoam ini mengubah karakteristik dari susu cair biasa. Dalam bahasa ilmiah proses ini disebut denaturasi. Susu terdiri dari lemak, gula dan protein. Ketika susu diuapkan maka lemak mengurai dan memecah gula yang ada padanya dan membuat susu terasa lebih manis. Susu yang telah menghasilkan microfoam inilah yang dituangkan barista ke dalam espresso dan bisa dibentuk menjadi berbagai desain. Vikki mengaku latar belakangnya sebagai sarjana teknik nuklir membantunya untuk memahami proses latte art ini.

Barista yang akan membuat latte art ibarat pelukis yang akan melukis. Jika seorang pelukis memerlukan kuas dan kanvas, maka barista memerlukan milk jug sebagai kuas dan secangkir espresso sebagai kanvas. Tuangan susu yang diatur sedemikian rupa bisa menghasilkan kreasi yang luar biasa.

Vikki juga pernah ikut kompetisi di Jepang dan Singapura. Baginya kalah dan menang hal biasa. Yang penting, bisa mendapatkan pengalaman dan mengukur kemampuan. “Bekerja dan berkreasi di industri kopi membuat saya memiliki banyak teman, banyak pengalaman, dan merasakan hidup lebih hidup. Saya tidak suka bekerja monoton, selalu ingin suasana berbeda,” ujar pria yang pernah bekerja di sebuah perusahaan minyak multinasional selama setahun kemudian banting stir dan memilih fokus di industri kopi. Ia pun selalu meng-update pengetahuannya tentang kopi.

Menurut Vikki ada tanggung jawab besar yang diemban seorang barista. Barista merupakan level terakhir yang menyajikan perjalanan panjang kopi dari petani hingga ke konsumen. “Barista tidak hanya membuat kopi untuk disajikan kepada konsumen. Ada tanggung jawab besar dari sebuah proses panjang. Kalau kopi yang disajikan tidak enak, kan kasihan petani yang sudah bersusah payah untuk menanam dan merawat kopinya. Kasihan juga roaster-nya. Karena itu, menjadi barista merupakan pekerjaan yang penuh tanggung jawab dan memerlukan sentuhan hati,” ungkap Vikki.

Perkembangan industri kopi juga membuat kopi tak lagi menjadi menu tambahan tetapi menjadi menu utama. Hal ini membuat banyak yang berkiprah di industri kopi. Ada yang menggunakan manual brew sampai memakai mesin canggih. Kopi pun tak hanya dijual di restoran dan kafe, beberapa barbershop dan distro pun memasukkan kopi sebagai produk yang dijual. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top