Bunda & Ananda

Perkenalkan Anak: Permainan Non-Gadget yang Mengasyikkan

Gadget kini bukan barang ekslusif yang hanya dipakai pebisnis. Gadget kini sudah seperti “barang wajib” tak hanya bagi remaja, bahkan sampai anak-anak. “Penggunaan gadget ada dampak baik dan dampak buruknya. Semua alat informasi, apalagi gadget ini memuat banyak aspek, yang jika tak diwasi dengan baik, tidak digunakan dengan maksimal justru nanti dampak buruknya yang akan kelihatan. Dan yang terpapar tentunya anak, karena memang kemampuan mereka kurang untuk memilah baik dan tidak baik,” ujar psikolog Dra. Retno IG Kusuma.

Ketika anak sudah tenggelam dalam satu permainan di gadget, biasanya akan tidak bisa dihentikan, karena memang gadget sengaja dibuat agar orang selalu kepo. “Memang ada trik psikologis untuk membuat mereka kecanduan,” tegasnya.

Selain, sisi bisnis sudah pasti ada di belakang semua itu. Tapi kalau sampai tiap anak bisa menghabiskan Rp 100 ribu perhari untuk membeli kuota, ini sudah sangat berbahaya. Inilah perlunya pengawasan. Bagi anak, yang paling bagus untuk mengembangkan perkembangannya secara maksimal, harus bermain dan bergerak dalam dunia nyata, bukan dalam dunia maya, seperti bermain dengan gadget. Lebih baik bermain di luar bersama teman-temannya dibandingkan hanya dengan gadget yang nanti hanya bisa membuat anak semakin egois.

Bermain dengan gadget, si anak beraktivitas pasif. Padahal seharusnya perkembangan psikomotornya yang harus banyak dilatih dengan bergerak. Hal ini nanti akan sangat mempengaruhi anak untuk kontrol diri, baik secara emosi, sosial, terutama kognitif. “Jadi pemakaian gadget yang secara terus-menerus membuat anak pasif. Dan yang paling perlu diperhatikan orangtua adalah kemungkinan adanya keluhan/gejala gangguan pemusatan perhatian,” ingat Kepala Sub Psikologi di Rehabilitasi Medik & Psikolog di Klinik Tumbuh Kembang di RSUP Sanglah ini.

Jika diminta mempersentasekan pemakain gadget, Retno hanya mengatakan seminimal mungkin.  Ia justru menyarankan agar memberikan anak alternatif bahwa lebih asyik main kelereng, lebih asyik main panjat-panjatan atau lebih asyik main sepak bola bersama teman-temannya, dibandingkan main sepak bola dalam gadget itu.

Ia menjelaskan, bermain gadget hanya merangsang satu aspek. “Mungkin di kognitif. Karena ketika anak main games, dia perlu kecepatan dalam mengambil keputusan. Tapi jika bermain sepakbola, ada banyak aspek, baik sosial, kognitif, psikomotor, emosi, semua akan tersimulasi disana,” jelasnya.

Dalam gadget, banyak sekali stimulan yang bisa merangsang kreativitas anak. Namun, sekali lagi, itu di dunia maya, anak perlu aplikasinya dalam kondisi di dunia nyata. “Makanya saya katakan gadget ada banyak aspek keuntungan ketika digunakan sebaik-baiknya. Jangan sampai gadget melingkupi seluruh waktu anak, sampai tidak ingat bermain dengan teman-temannya, karena asyik bermain dengan dirinya sendiri, bermain dengan aplikasi bermacama-macam yang ada di gadget itu,” tegasnya lagi.

Lantas, apa yang harus dilakukan para orangtua? Retno menyarankan agar orangtua semakin memperkenalkan anak dengan aktivitas non-gadget yang lebih asyik dan menyenangkan. Seperti mengikutkan anak les renang, les musik, dan les-les lain yang menyenangkan. Dengan begitu, anak tak akan peduli lagi dengan gadget.

Jadi, dibalik banyak keuntungannya juga sangat banyak kerugian gadget. Ini yang perlu disadari orangtua. Jangan bangga anaknya duduk diam. Anak yang sehat, adalah anak yang bergerak. Memang kendala sekarang dunia makin sempit, areal untuk anak berinteraksi juga semakin menurun. “Di sini pintar-pintarnya orangtua bagaimana mengarahkan anak untuk bisa bergerak beraktivitas yang jauh lebih sehat dibandingkan beraktivitas dalam gadget. Memang kita tak bisa menyetop anak bermain gadget, karena sekarang era digital, tapi ajarilah anak untuk bijak memakai gadget dan mengontrol diri,”tandasnya. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top