Kolom

SAMURAI 2

Keperkasaan Amat menghajar perampok menjadi buah bibir. Ia langsung naik peringkat jadi pahlawan. Dan itu bukan tanpa akibat.
Para tetangga jadi menekuk hormat. Mereka bangga di huniannya ada macan kandang yang akan membuat wilayahnya aman. Siapa pun yang berniat jahat tak akan berani mendekat. Mencium bau Amat berarti kiamat.
Bahkan Pak Made, lawan politik Amat, ikut keder. Bu Made bukan saja tak berani lagi mengolok-olok Bu Amat dalam arisan, dia paling santer memujikan Bu Amat pinter memilih suami.  Bahkan mengirim buah-buahan impor, sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.
Tetangga lain, tak mau kalah. Bu Alit kirim buket bunga porselin dari Italia. Tiap hari ada saja yang menghaturkan upeti. Makanan, kue, barang- barang suvenir, sampai tawaran kredit motor lunak tanpa bunga dalam waktu tak terbatas. Wow!
Meja makan Amat, kepenuhan menampung tanda kasih warga itu. Bu Amat pura-pura kesal, kewalahan dihujani makanan. Tapi dalam hatinya bersyukur, sambil berdoa, semoga ada yang kirim hadiah mobil dan rumah.
Tetapi Amat sebaliknya. Ia ketakutan. Ternyata jadi pahlawan banyak tak enaknya, katanya dalam hati, tapi tak berani terus-terang. Takut digebrak istri, tak mampu bersyukur.
Tiap pagi Amat duduk di dekat gunung hadiah di meja makan. Ia terpaksa terus memegang gelas kopinya, karena meja sudah penuh upeti.
“Banjir kiriman ini harus distop!” kata Amat cemas sambil memegang samurai bertuah itu. “Habis gelap terbitlah terang. Tapi habis terang, akan jatuh malam yang lebih kelam, karena mata kita terbiasa silau!”
Bu Amat tidak suka komentar suaminya. Ia memaksa Amat untuk memandang dengan cara lain.
“Ini semua kan tidak dibuat-buat. Bukan juga paksaan. Sama sekali bukan karena kita minta. Mereka melakukannya atas inisiatif sendiri, untuk membahagiakan hati mereka sendiri. Jadi bukan untuk memuliakan kita. Sebagai warga yang baik, Bapak harus bantu mereka, meskipun kita sudah kewalahan ngurus semua ini, kalau nggak ada hujan banjirnya terus saja meluap, ya bukan salah kita toh!”
“Tapi, Bu, terus-terang saja, Bapak kan tidak pantas menerima semua ini. Malam itu, Bapak sebetulnya bukan melawan, apalagi menghajar perampok. Mana mungkin. Terus-terang Bapak justru ketakutan mau lari, tapi kepeleset lalu berteriak sebab pasti akan dibacok. Begini!”
Amat meragakan bagaimana dia hampir jatuh malam itu. Lalu meloncat menghunus samurai.
Terdengar keplok tangan. Amat terkejut. Bu Amat tertawa. Ketika menoleh ke pintu, Amat malu sekali, ternyata para tetangga sudah masuk menonton.
“Jurus apa itu, Pak Amat? Ulang, ulang sekali lagi di-selfie!”
Amat merasa itu sudah terlalu berlebihan. Tapi para tetangga sudah menghunus HP, semua mau menjepret. Amat bingung lalu menoleh istrinya. Ketika Bu Amat mengangguk, Amat terpaksa dengan segala malunya, mengulangi kekonyolannya malam itu.
“Heran Bapak, kenapa para tetangga jadi gila semua, memotret leherku hampir ditebas rampok itu, “gerundel Amat setelah para tetangga pergi.
“Begitulah keadaan kita, Pak. Tandanya semua kita merindukan seorang pahlawan.”
Lha, kok ibu juga ikut-ikutan?”
“Ya. Makanya tadi saya bilang kita. Ya, kita, termasuk saya dan Bapak, semua kita rindu punya pahlawan.”
“Tapi masak bapak yang konyol ini di pahlawan-pahlawankan?”
“Kata pepatah, tidak ada pohon akar pun berguna.”
“Di makam pahlawan Tabanan ada 1000 pahlawan, lho!”
“Itu dulu. Sekarang?”
“Berarti kita sekarang sedang krisis pahlawan? Kasihan amat!”
“Ya tidak! Kan ada Bapak!”

To Top