Kolom

“MANTRA SANG PENYIHIR 2017“

Salam Senyum

Hai…. Pembaca setia … bertemu lagi di awal tahun 2017… dengan harapan semoga tulisan- tulisan “Sang Penyihir” di tahun ini dapat memberi manfaat untuk pelayanan kepada masyarakat lebih baik lagi dengan mengangkat tema yang relevan dengan situasi dan kondisi yang dihadapi saat ini.  Astungkara… Amiiinn…

Masih ingat dengan judul tulisan saya “Mantra Sang Penyihir” yang pernah dimuat di rubrik ini di tahun lalu? Tulisan kali ini masih dengan judul yang sama, saya ingin “Mantra Sang Penyihir” benar-benar membuat pelanggan menjadi “tersihir” dan tentu mereka akan menjadi pelanggan setia kepada perusahaan kita.

Ide tulisan ini berawal ketika saya membeli bahan bakar di sebuah pompa bensin. Ketika itu saya sedang mengobrol ringan dengan putri saya, tiba-tiba dikejutkan dengan sapaan ramah dari petugas pompa bensin, “Ibu bisa dilihat, angkanya mulai 0 (nol) ya.” Seketika obrolan saya terhenti dan saya langsung melihat angka yang ada di mesin pompa. Seperti tersihir saya melirik, mengikuti pesan yang ditunjukkan petugas pompa ditambah dengan bahasa tubuh yang baik (tangannya menunjuk ke mesin pompa). Hmmmm.. saya yakin.. ketika petugas pompa mengatakan hal itu, banyak pelanggannya tidak serta merta langsung melihat ke mesin pompa. Tapi walaupun seperti itu, kata-kata dari petugas pompa itu terkesan  memberikan “jaminan” keakuratan dari layanan yang diberikan.

Cerita selanjutnya ketika saya berbelanja di sebuah toko obat yang keberadaannya dapat ditemukan dimana-mana. Setelah selesai membayar dan menerima obat yang dibeli, petugas itu mengucapkan “ bla bla bla….. dan semoga lekas sembuh”. Kata orang bijak, ucapan adalah doa. Naaaahhh.. dengan didoakan agar segera lekas sembuh, menjadikan yang menerima ucapan akan merasa senang dan tentu akan terbawa kesan yang baik untuk pelayanan di toko itu.

Cerita lain lagi ketika kita berbelanja di sebuah “mart”… Mengakhiri perhitungan pembayaran pelayan itu berucap seperti ini, “Pembelanjaan seratus lima ribu dua ratus rupiah, diskon dua ribu lima ratus rupiah, jadi total dibayar…………..(sekian)… sambil menyebutkan jumlah pembayaran yang harus dibayarkan. Waaaaahhh.. kesan saya dibacakan seperti itu senang sekali. Malahan nambah ingin tahu barang apa yang dapat diskon. Coba sang pelayan tidak menyebutkan seperti itu, pembelanjaan yang dilakukan seperti biasa saja dan tidak berkesan.

Membaca cerita di atas tentunya ada hal yang menjadi “pengingat” untuk sebuah layanan. Sesuatu yang terucap yang menjadi standar dari layanan dan itu dilaksanakan secara “KONSISTEN” untuk membuat perasaan pelanggan itu senang itulah sebenarnya “MANTRA”. Banyak kita temui standar kalimat yang harus diucapkan oleh pelayan, tetapi malah standar itu kurang “mengena” di hati pelanggan, malahan terkesan dibuat dan sedikit lebay… hehehe.

“Wah.. pilihan menu yang Bapak pesan tepat sekali”… Kalau kalimat ini terlalu berlebihan ya…  atau “Selamat datang dan berbelanja di……. “ atau “Apakah Anda sudah duduk dengan nyaman?” Kalimat-kalimat standar seperti itu akan terdengar biasa- biasa saja dan tidak dapat membuat nilai tambah kepada pelanggan.

Dalam pembentukan budaya layanan dalam suatu perusahaan, semestinyalah didahului dengan tindakan. Tindakan-tindakan itu biasanya sudah disepakati bersama dan dilakukan berulang-ulang secara konsisten. Karena sudah dilakukan berulang-ulang, tentu dengan konsisten dan penuh kesadaran membuat hal ini menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang dilakukan secara masif oleh semua orang dalam jangka waktu yang panjang akan membentuk budaya layanan di instansi/perusahaan tersebut.

Waaaaahh.. kalau kita kaitkan, ternyata “Mantra” yang diciptakan oleh perusahaan akan mampu untuk menjadikan budaya layanan yang mumpuni untuk menjadikan pelanggan setia kepada perusahaan kita. Pelayanan memang sangat memerlukan persaingan. Tanpa persaingan, tidak akan terdorong untuk menghasilkan yang terbaik. Persaingan yang sehat akan menghasilkan produk dan layanan yang “excellence”  bagi seluruh pelanggannya.

Mulai saat ini, mari kita ciptakan “Mantra” yang dapat menjadi jargon bagi perusahaan/instansi kita. “Mantra” yang baik tentunya tidak terlepas dari produk/jasa yang akan kita jual. “Mantra” itu dapat bertujuan untuk pelanggan merasa yakin atas keakuratan produk/jasa yang kita jual, atau “Mantra “ itu bertujuan membuat kenangan yang dapat membahagiakan hati pelanggan.

Ayoooo… marilah kita bertanya…. kenapa kita tidak memulai dari sekarang untuk menciptakan “Mantra” ?  Karena selain PUJIAN,  (Mantra Sang Penyihir 2016),  kalimat yang diciptakan yang sesuai dengan produk/jasa yang kita jual dan dilakukan secara konsisten oleh para pelayan dan membudaya serta dapat memberi nilai tambah bagi nilai layanan kita itulah juga merupakan “MANTRA dari SANG PENYIHIR”.

Ingin mengetahui bagaimana membudayakan layanan dengan baik di perusahaan/instansi yang Bapak/Ibu pimpin? Silakan menghubungi manajemen kami. Atas kesempatan yang diberikan, kami siap membantu.

Salam 3 SP

Salam Senyum Sang Penyihir

Sri Sumahardani

 

 

To Top