Edukasi

Ir. Made Arnika: Tantangan adalah Motivasi Belajar

Ir. Made Arnika dan keluarga

Kecintaan terhadap tanah kelahiran, membuat Ir. Made Arnika kembali ke kampung halaman. Mengawali karier sebagai pegawai Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Bali sejak 1989, akhirnya Arnika memutuskan mengabdikan diri di Buleleng. Saat itu, ia melihat sumber daya manusia yang dimiliki Diskanla Kabupaten Buleleng belum banyak memiliki tenaga lulusan sarjana. Padahal Buleleng sangat kaya potensi laut sehingga perlu dilakukan inovasi-inovasi yang dapat dikembangkan untuk membangkitkan perekonomian.

Ir. Made Arnika

Sempat memegang berbagai jabatan di Diskanla sebelum akhirnya di angkat menjadi Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Buleleng. Bahkan, perempuan kelahiran 5 Oktober 1959 tersebut pernah menjadi Kepala Dinas Koperasi Perdagangan dan Perindustrian kabupaten Buleleng tahun 2013. Sebagai seorang Kadiskanla, ia menyadari bahwa latar belakang pendidikan kurang linear dengan pekerjaan yang ia tekuni. Akan tetapi, sarjana Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Udayana mengaku jika ilmu perikanan sudah mulai melekat padanya. “Di mana pun kami ditugaskan, harus siap. Meskipun lulusan pertanian akan tetapi ilmu perikanan juga kami pahami,” jelas Arnika saat ditemui di ruang kerjanya.

Menurutnya, justru hal itu menjadi sebuah tantangan dalam mengemban tugas, dan kunci utamanya adalah belajar. “Sampai saat ini saya tidak pernah bosan untuk belajar,” imbuhnya. Dirinya tidak memungkiri, penyesuaian diri sangat sulit dilakukan apalagi ketika dirinya menjadi Kadiskopdagprin yang notabene sangat jauh dari pendidikannya. Arnika tidak menampik jika tugas yang diemban cukup berat sebab harus berkoordinasi dengan tiga kementerian sekaligus. “Koordinasi harus kami lakukan dengan Kementerian Koperasi, Perdagangan, dan Perindustrian,” jelas istri dari Made Giri Sugiarta tersebut. Tantangan tersebutlah yang selalu memotivasi dirinya untuk selalu belajar sehingga mampu mengemban tugas dengan baik. “Saya tidak merasa terlalu sulit untuk menyesuaikan diri, yang penting adalah komunikasi,” tandasnya.

Sebagai seorang pejabat perempuan di Buleleng, ibunda dari Ananda Praba Katritama, Adinda Dwi Katritama, Arinda Agung Katritama ingin menunjukkan bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki sama utamanya dalam hal pekerjaan. Bahkan ia telah menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diemban. “Sekarang sudah banyak perempuan yang menjabat baik dari eselon tiga hingga lima, meskipun kami perempuan kami harus tunjukkan bahwa kami mampu,” tambahnya.

Baginya, memang tidak mudah bagi seorang perempuan untuk menempati posisi tertinggi dari suatu instansi. Selain mengejar karier dan melaksanakan tugas, ia harus mengemban tugas lain sebagai ibu rumah tangga. Kedua posisi itu hendaknya berjalan beriringan. Sebagai kepala dinas ia harus menjadi panutan dan bisa mengayomi anggota pegawainya sedangkan sebagai ibu rumah tangga dirinya harus menjadi istri dan ibu yang baik bagi ketiga anaknya. “Tugas dan fungsi masing-masing pekerjaan itu harus benar-benar dipahami, dan kami juga harus pintar dalam membagi  waktu,” ujar perempuan murah senyum itu.

Kedisiplinan juga merupakan hal yang sangat penting sehingga dalam hal mendidik anak ia juga terapkan. Ini terbukti dari kemandirian yang dimiliki ketiga anaknya, bahkan kedisiplinan tersebut mengantarkan ketiga anaknya berprestasi dalam bidang akademik. “Anak pertama telah lulus di Perikanan UGM, anak kedua Lulusan Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati, dan anak ketiga sedang studi di Fakultas Kedokteran Unair,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top