Sosialita

Dayu Indra Kondi: Peduli, Semangat, dan Kreatif

Selalu ada cerita saat bertemu sosok perempuan yang sarat prestasi dan penghargaan dan ingin tetap menjalankan pekerjaanya sembari mengabdi untuk masyarakat Bali ini. Ketajaman pemikirannya ini semakin terbukti setelah melewati perjalanan waktu dalam kehidupan maupun kariernya. Maka mengalirlah percakapan mulai dari persoalan anak muda dan peluang kerja, perempuan dan budaya patrilinial hingga masih besarnya biaya upacara adat di Bali.

Dayu Indra Kondi peraih Penghargaan ”Indonesian Ministers Awards of Excellence 2016”

Mengenai ramainya dibahas mengenai banyaknya tenaga kerja yang belum memilik pekerjaan di Bali, Ida Ayu Indra Kondi S. Wananjaya, S.H., M.Kn. yang biasa disapa Dayu Kondi ini mengatakan sesungguhnya kesempatan atau peluang kerja di Bali cukup banyak. Buktinya tidak pernah surut atau berduyun-duyunnya tenaga –tenaga dari luar Bali yang datang untuk mengisi lapangan pekerjaan di Bali.

Kalaupun masih banyak anak muda yang memilih bekerja ke luar negeri, seperti di kapal pesiar, hal ini kata istri Ida Bagus Gede Wananjaya, S.H. ini secara umum, karena khususnya generasi muda Bali selama ini tidak bersedia memulai pekerjaan atau usahanya dari bawah dan konsisten menjalaninya. Tapi mereka lebih banyak ingin yang instan dan juga lebih suka melihat ke atas atau yang terlihat wah saja. Selain itu, ada alasan klasik yang tersembunyi yakni malu dan gengsi.

Padahal kata Dayu Kondi, mungkin saja saat bekerja di kapal pesiar, mendapat tugas mencuci piring, tapi dilakukan dengan tekad yang luar biasa dan kerja keras. “Seandainya saja tekad dan semangat yang sama dilakukan untuk jenis pekerjaan  yang sama di Bali, bisa saja penghasilannya akan sama besarnya. Namun, faktanya  anak-anak muda malu dilihat temannya atau malah malas jika harus melakukannya di sini,” cetus Dayu Kondi yang dijadikan putri oleh Ida Pedanda Gede Puniatmaja Pidada (alm), pendiri World Hindu Federation ini.  Dayu Kondi menambahkan agar kita tidak pernah mengatakan di Bali sudah tidak ada lapangan kerja. Apalagi jika menyebut aktivitas adat sebagai penjegal, sangatlah keliru, sebab semuanya hanya urusan mengatur waktu.

Sesungguhnya, lanjutnya semua usaha dimulai dari kecil tidak ada yang langsung besar, tergantung pada diri sendiri, mau kerja keras atau malas-malasan. Seberapa besar keinginan kita untuk berubah. Seberapa besar  dan kapan keinginan kita mau memulainya. “Kalau ada pertanyaan tentang usaha atau bisnis apa  yang paling bagus, pastilah bisnis yang dijalankan, bukan yang hanya dibahas atau dipikirkan terus,” kata ibu dari IB Reza Awatara Pidada, S.H., IB Rendy Laksana Pidada, S.H.,  dan dr. IA Regina Gitaloka Pidada ini.

Di sini pihak terkait, mungkin di kampus dengan inkubator bisnisnya terus bergerak merangsang menumbuhkan minat mahasiswa memiliki motivasi menjadi  calon-calon entrepreneur .Sudah ada, namun belum sepenuhnya mendapatkan dukungan dari lingkungan kampus. “Pengalaman dan pengetahuan bidang usaha yang akan dijalani nanti merupakan hal penting yang akan menjadi guru yang sangat bernilai kelak dalam proses trial & error,” lanjut putri dari Drs Ida Bagus Santosa (alm) dan Ida Ayu Kartini (almh) ini.

“Memang mulai berbisnis itu gampang-gampang sulit. Banyak orang sukses yang jatuh bangun dengan berbagai macam jenis usaha sebelumnya, sampai akhirnya mereka menemukan bisnis yang paling cocok serta menguntungkan bagi.

Akan sangat baik katanya jika pekerjaan yang ditekuni juga merupakan hobi sehingga dalam menjalankannya setiap hari kita tetap merasa senang,” ujar peraih  Penghargaan ” Indonesian Ministers Awards of  Excellence 2016” ini dengan penuh semangat.

Dayu Kondi juga mengatakan, untuk urusan pilihan pekerjaan dan kesediaan memulainya, juga tetap diperlukan pula peran orangtua untuk melakukan komunikasi yang baik dan  mengarahkan begitu si anak lulus SMA agar memilih jurusan yang tepat dan tidak karena ikut teman atau trend. Kalaupun ada orangtua yang mampu menyekolahkan anaknya ke luar negeri misalnya di bidang bisnis alangkah indahnya jika saat pulang bisa membuka usaha dan kreatif menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain.

SEIMBANGKAN HIDUP DENGAN PENGABDIAN

Ketika ditanya kegiatan yang terkini, President Bali International Woman Centre. Sebuah organisasi yang memiliki visi untuk memberdayakan perempuan yang lebih intelektual dan mampu bersaing di level internasional ini menyatakan menyukai pengabdian melalui kegiatan yang langsung berinteraksi dengan masyarakat, terutama di perdesaan. Katanya, di sana ia  bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat bawah, arti sebuah ketulusan dan keseharian yang apa adanya tanpa kepura-puraan.

Karena itu pula Dayu Kondi dengan suka cita menjalankan tugasnya sebagai Penasehat Pura Kahyangan Jagat di Bali, yang membawanya bertemu lembaga-lembaga adat dan pemuka agama. Kesempatan itu juga sekaligus digunakannya untuk terus memberikan pencerahan bagi masyarakat, bahwa zaman telah berubah, termasuk dan pola pikir orang Bali pun hendaknya kian moderat termasuk  membahas persoalan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk sebuah upacara adat dan tradisi Bali. Padahal, ini tidak perlu terjadi, mengingat pakem-pakemnya ada dan jelas.

Selain itu, yang masih terus menjadi kepeduliannya adalah kentalnya budaya patrilineal (purusa) di masyrakat kita. Budaya yang menyebabkan hanya keturunan berstatus kapurusa semata yang meneruskan swadharma atau tanggung jawab keluarga. Baik dalam hubungan dengan parahyangan (manusia dengan Tuhan), pawongan (manusia dengan manusia), maupun palemahan (manusia dengan alam).

Terhadap sistem ini, yang merupakan warisan budaya dan sudah mengakar ini,  menempatkan peran anak laki-laki, lebih berharga ketimbang anak perempuan di Bali, mengakibatkan segala harta benda warisan orangtua jatuh pada anak laki-laki saat  orangtuanya telah tiada. Di sini ia terus berjuang sambil menyatakan, bagaimana jika sebuah keluarga tidak memiliki anak laki-laki. Padahal orang tuanya sudah susah payah bekerja untuk anak-anaknya. Baginya memiliki anak laki-laki atau perempuan sama saja.

“Bahwa perempuan Bali dapat menjadi penerus tanggung jawab adat dalam keluarga. Maka, orangtua tidak  perlu merasa rugi menyekolahkan anak perempuannya. Di balik keprihatinannya, ia juga mengaku bangga terhadap para perempuan Bali. Mereka adalah pekerja keras tanpa pernah menuntut lebih, malah jika sang suami tidak mampu lagi mencukupi keperluan ekonomi keluarga, maka ia selalu siap mengambil alih. (ard)

 

 

To Top