Sehat

Kapan Operasi Batu Kandung Empedu?

dr. Pande Made Gunawan Adiputra, SpB.KBD.

Infeksi kandung empedu atau yang dikenal dengan istilah kolesistitis sering disebabkan karena adanya sumbatan dari saluran empedu. Sekitar 90% kasus kolesistitis disebabkan  batu pada kandung empedu yang disebut kolelitiasis. Batu kandung empedu yang disertai dengan infeksi kandung empedu akut (cholecyistitis acute) merupakan salah satu kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera.

Dari data yang ada,  dr. Pande Made Gunawan Adiputra, SpB.KBD., mengatakan, lebih dari 20 juta orang Amerika Serikat diperkirakan mempunyai batu empedu, dengan 500.000 operasi pengangkatan kandung empedu dilakukan setiap tahun. Angka kejadian batu kandung empedu ini bertambah seiring bertambahnya usia, variasi makanan, dan terjadi 2-3 kali lebih banyak pada wanita dibandingkan pada pria.

Dokter Spesialis Bedah Konsultan Bedah Digestif RSUD Sanjiwani Gianyar ini mengatakan,  meskipun telah ditemukan berbagai modalitas terapi untuk batu kandung empedu yang disertai dengan infeksi kandung empedu,  penyakit ini masih menyebabkan kematian yang cukup tinggi terutama pada lanjut usia.  “Pembedahan merupakan terapi yang selama ini masih tetap dipilih. Namun, menentukan saat yang tepat untuk melakukan pembedahan memerlukan pertimbangan berbagai hal sehingga nantinya hasil yang dicapai juga akan baik,” ujarnya.

Lelaki kelahiran Ubud, 30 Oktober 1979 ini menjelaskan,   faktor penyebab terbentuknya batu empedu adalah perubahan susunan cairan empedu, stasis empedu, dan infeksi bakteri. Perubahan susunan empedu merupakan faktor terpenting pada pembentukan batu empedu. “Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu dan memicu terbentuknya batu,” ujarnya. Faktor hormonal terutama pada kehamilan berhubungan dengan pengosongan kandung empedu yang lebih lambat. Selain itu, kata dia, infeksi bakteri dalam saluran empedu dapat berperan dalam pembentukan batu.

Penderita batu kandung empedu dengan penyerta infeksi kandung empedu akut memiliki riwayat nyeri hebat pada perut bagian kanan atas yang bertahan dalam beberapa jam.  “Secara umum, penderita sering merasa mual dan muntah serta demam. Nyeri yang dirasakan bermula dari ulu hati kemudian menetap dan terlokalisir di perut kanan atas. Nyeri awal bersifat hilang timbul disebut sebagai nyeri kolik. Pada saat pemeriksaan didapatkan nyeri tekan pada perut kanan atas, dan seringkali teraba adanya massa atau teraba penuh,” ungkapnya.

Pada saat dilakukan perabaan pada perut kanan atas bersamaan dengan menarik napas dalam seringkali menyebabkan rasa nyeri hebat yang menyebabkan penderita berhenti menghirup napas, hal ini disebut sebagai tanda murphy positif, yang merupakan tanda khas adanya infeksi kandung empedu. Sedangkan,  pada infeksi kronis prosesnya timbul secara perlahan-lahan dan gejala yang muncul sangat minimal dan tidak menonjol.

Pemeriksaan laboratorium darah ditemukan peningkatan sel darah putih (leukositosis) dan peningkatan kadar penanda infeksi (C-reactive protein (CRP)). Pemeriksaan pencitraan untuk kolelitiasis dengan kolesistitis diantaranya adalah ultrasonografi (USG), computed tomography scanning (CT-scan).

Pada USG dapat ditemukan adanya batu pada kandung empedu, penebalan dinding kandung empedu, adanya cairan di sekitar kandung empedu, dan tanda nyeri tekan (murphy positif) saat kontak antara probe USG pada perut kanan atas. Nilai kepekaan dan ketepatan USG mencapai 95%. Pemeriksaan CT scan relatif lebih mahal, tapi mampu memperlihatkan adanya kerusakan kecil yang mungkin tidak terlihat dengan pemeriksaan USG.

Penanganan batu kandung empedu yang disertai infeksi kandung empedu tergantung pada derajat keparahan penyakitnya dan komplikasi yang terjadi. Pengangkatan kandung (kolesistektomi) merupakan pilihan utama yang dilakukan.  Terapi awal yang diberikan meliputi mengistirahatkan usus, diet rendah lemak, pemberian analgesik, dan antibiotik. Waktu untuk pengangkatan kandung empedu dapat dilakukan secepatnya (kurang dari 3 hari) atau ditunggu 6-8 minggu setelah keadaan umum pasien lebih baik. Operasi dini (sebelum 3 hari) dipilih dengan pertimbangan komplikasi  dapat dihindarkan dan lama perawatan di rumah sakit menjadi lebih singkat dan biaya dapat ditekan. Penundaan intervensi bedah dilakukan pada pasien yang kondisi medis secara keseluruhan memiliki resiko besar bila dilakukan tindakan operasi segera. Pasien yang sakit berat atau keadaan umumnya lemah dapat dilakukan drainase terhadap kandung empedu dan pengangkatan kandung empedu dapat dilakukan pada lain waktu.

Operasi dapat dilakukan dengan teknik konvensional (operasi terbuka) atau dengan laparoskopik. Tindakan kolesistektomi laparoskopik mempunyai kelebihan mengurangi rasa nyeri pasca operasi, secara kosmetik lebih baik, memperpendek lama perawatan di rumah sakit dan mempercepat aktivitas pasien. (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top