Mozaik

Generasi Muda Harus Jadi Motor Penggerak

Penerima K. Nadha Nugraha 2017

Acara Anugerah Pers K.Nadha Nugraha 2017 dilaksanakan Kamis (5/1) di wantilan Gedung Pers Bali K. Nadha. Hadir dalam acara ini Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, Pimpinan Kelompok Media Bali Post Satria Naradha, Ketua PHDI Pusat Wisnu Bawa Tenaya, anggota DPD RI Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa, dan undangan lainnya. Selain penganugerahan, juga dilaksanakan diskusi bertema “Strategi Mewujudkan Generasi Emas Bali 2018-2023” serta dimeriahkan penampilan tari Pendet SD PGRI YPLP Kota PGRI Denpasar dan tari janger dari Ikatan Wanita Warmadewa.

Ada 13 penerima anugerah ini, yakni Universitas Dwijendra, Universitas Mahasaraswati, SMAN 4 Denpasar, SMAN 7 Denpasar, SMKN 1 Pertanian Petang, SMAN Bali Mandara, SMK PGRI 3 Denpasar, SMP PGRI 2 Denpasar, Yayasan Universitas Mahendradatta, Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali, YPLP Kota PGRI Denpasar, dan Yayasan Penyelenggaraan Pendidikan Latihan dan Pelayanan Kesehatan Bali (YPPLPK Bali).

“Pers khususnya Bali Post, Bali TV dan krama kita juga melihat bahwa generasi emas Bali harus terdepan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bali memiliki peluang untuk itu,” ujar Satria Naradha. Ia menambahkan memasuki tahun 2017, sudah saatnya Bali lebih serius lagi memikirkan generasi muda sebagai generasi penerus. Mereka harus menjadi generasi emas untuk mewujudkan dan melanjutkan perjuangan bangsa. Dalam hal ini, bersatu padu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Generasi muda di Bali memiliki peluang untuk berperan secara luar biasa kedepannya walaupun di tengah globalisasi maupun kelemahan-kelemahan yang ada saat ini. Bali tidak boleh hanya diam menjadi penonton, tetapi harus menjadi motor penggerak di depan. “Strategi Mewujudkan Generasi Emas Bali 2018-2023 dapat menjadi kulkul bulus untuk mengingatkan seluruh masyarakat Bali bahwa pulau ini memerlukan pemimpin yang betul-betul serius. Nantinya tidak saja bisa mewujudkan anggaran pendidikan yang lebih tinggi menjadi 30% dari APBD,” tegasnya.

Diskusi yang dipandu Jemiwi Jro menghadirkan lima narasumber, Sudikerta, Wisnu Bawa Tenaya, Arya Wedakarna, Rektor Unud Prof. Dr. dr. Ketut Suastika, Sp.PD. KEMD, serta Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry.

Menurut Prof. Suastika generasi emas pertama kali dicetuskan oleh mantan Menteri Pendidikan RI M. Nuh pada tahun 2012. Harapannya, generasi emas adalah generasi yang akan mampu bersaing di dunia global, mempunyai kompetensi dan kemampuan. Baik itu hard skill atau ilmunya sendiri, maupun soft skill seperti bersifat produktif, inovatif, kreatif, dan memiliki nilai spiritual.

“Indonesia mempunyai penduduk yang luar biasa besar dan tahun 2045 pada saat Indonesia diharapkan mencapai generasi emasnya, maka disana ada populasi SDM kita yang luar biasa kita sering sebut dengan bonus demografi,” ujarnya.

Ia melihat persentase masyarakat produktif akan mencapai hampir 60% pada 20 tahun mendatang. Populasi yang besar ini bisa saja menguntungkan, atau sebaliknya malah merugikan. Oleh karena itu, kata kunci yang paling penting di dalam membangun bangsa ini adalah pendidikan. “Pendidikan bukan berarti hanya formal, tetapi pendidikan juga meliputi pendidikan-pendidikan yang informal,” jelasnya.

Wisnu Bawa Tenaya mengatakan, anak-anak pada masa brahmacari atau menuntut ilmu perlu diisi dengan 10 komponen pendidikan. Pertama-tama, ada penelusuran yang kalau perlu melibatkan psikolog. Tujuannya untuk mengetahui bakat anak sejak kecil. Ujungnya nanti adalah menyiapkan lebih banyak anak-anak muda yang mempunyai jiwa wirausaha, berani, dan disiplin. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi anak yang mampu mandiri. “Anak muda belajar yang tekun, tidak mudah tergoda dengan pergaulan bebas dan narkoba,” pesannya kepada undangan yang sebagian besar dari kalangan pendidikan ini.

 

ORANG KAYA LAHIR DARI ORANG PINTAR

Sementara itu Sudikerta mengatakan, dunia pendidikan di Bali perlu ditingkatkan kualitasnya supaya mampu bersaing di tingkat nasional yang saat ini menempati peringkat 5. Ke depan Bali harus mampu berada di posisi 1. Untuk mencapai hal itu, ada penyiapan strategi yang harus dilakukan yaitu menyiapkan anggaran yang memadai, yang mencukupi agar kita bisa mengelola program-program yang mau dibentuk untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Pendidikan sangat penting untuk meningkatkan kualitas SDM. Dengan demikian, SDM Bali siap untuk menghadapi persaingan di era globalisasi ini. Kebijakan strategis selanjutnya adalah bagaimana guru diperhatikan kualitasnya. Tahun 2018 kami akan membangun SMA gratis di 9 kabupaten/kota,” tegasnya.

Arya Wedakarna mengatakan, Bali tidak memiliki kekayaan sumber daya alam. Tapi Bali mempunyai manusia dan budaya. Oleh karena itu, ke depan Bali menjadi sangat tergantung dengan pendidikan. Rakyat Bali harus dicerdaskan. “Penting untuk menciptakan orang pintar, karena orang kaya lahir dari orang pintar,” ujarnya.

Wakil Ketua DPRD Bali, Dr. I Nyoman Sugawa Korry mengatakan, generasi emas ciri-cirinya adalah cerdas secara spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan sehat. Untuk mewujudkan itu, anggaran pendidikan harus berani ditetapkan minimal 30% dari APBD. (Rindra)

To Top