Bunda & Ananda

Jangan Terlalu sering Makan Fast Food

Dwi Asti Lestari, M.Kes, Sp.KG

Masalah obesitas tidak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak pun bisa terkena obesitas. Salah satu pemicunya gaya hidup termasuk didalamnya pola makan. Obesitas terjadi karena kalori yang masuk lebih besar daripada yang dikeluarkan. Kelebihan itu tertimbun sebagai lemak.

“Anak saya tiap makan, minimal nasinya dua piring. Kalau sepiring masih kurang. Kadang saya harus sembunyikan nasi dengan alasan nasi sudah habis,” ungkap Bu Devi. Ia khawatir kemampuan anaknya makan nasi minimal dua piring itu akan membuat anaknya kegemukan.

Sebagai solusi karena anaknya makan banyak, ia mengajak anaknya olahraga bulu tangkis dan berenang. Ternyata setelah olahraga, makannya lebih banyak. “Akhirnya saya pasrah saja. Saya ingatkan, jangan terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat. Harus mengonsumsi protein dan vitamin juga. Saya cari bahan di internet untuk memberi penjelasan ke anak saya tentang obesitas,” kenangnya.

Pengalaman Bu Tiwi lain lagi. Anaknya hanya mau makan kalau dibelikan fast food khususnya ayam. “Saya sampai bingung bagaimana cara mengakali agar tidak tergantung dengan fast food. Akhirnya, suatu ketika, muncul bercak-bercak merah di kulitnya. Setelah diperiksa ternyata ada alergi. Kesempatan ini saya pakai untuk memberi tahu anak saya agar mengurangi makan fast food,” ujarnya.

Bu Tiwi mengaku yang ia khawatirkan adalah anaknya mengalami obesitas karena terlalu sering makan fast food.  Namun, ia mengaku tidak bisa sepenuhnya menghentikan anaknya untuk makan fast food. Kadang ada undangan dari temannya yang merayakan ulang tahun di restoran fast food. Solusinya, Bu Tiwi membatasi anaknya makan fast food maksimal dua kali sebulan.

“Obesitas pada anak lebih banyak disebabkan oleh gaya hidup. Sisanya faktor genetik.  Gaya hidup yang dimaksud terkait dengan pola makan. Jika anak sedari kecil sudah mendapat asupan nutrisi yang tepat waktu, tepat jenis, dan tepat jumlah. Demikian pula pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MP ASI). Kalau berlebihan cenderung memicu kegemukan,” ujar dr. Ni Made Dwi Asti Lestari, M.Kes.,Sp.GK.

Dokter spesialis gizi ini menambahkan anak yang kurang bergerak atau lebih banyak duduk sambil bermain gadget juga menjadi pemicu. Dari sisi medis, dari bayi lahir sudah terlihat potensi obesitasnya. Bayi yang lahir dengan bobot 2,5-3 kg termasuk normal sedangkan yang bobotnya lebih dari 3 kg memiliki kecenderungan lebih mudah mengalami obesitas.

Mengenai makanan yang bisa diberikan setelah ASI eksklusif selama 6 bulan, dr. Dwi memberikan beberapa contoh. “Usia 7 bulan diberikan makanan yang diblender dan disaring, usia 8 bulan makan yang diblender, usia 9 bulan nasi tim lembek, usia 10-12 bulan nasi tim biasa. Setelah usia 1 tahun diberikan makanan yang sama dengan makanan keluarga. Pencernaan bayi menyesuaikan pertumbuhannya. Semakin membesar makanannya semakin kasar,” ujar dokter yang praktik di RSIA Puri Bunda ini.

Jumlah kalori yang diberikan ke anak juga harus disesuaikan dengan keperluan tumbuh kembangnya. Untuk takaran, bisa menggunakan ukuran rumah tangga menggunakan gelas, jari, sendok . Beras ¾ gelas setara dengan 100 gram nasi, 1 sendok makan gula setara dengan 10 gram gula, 1 sendok makan minyak setara dengan 10 gram minyak.

“Zaman dulu, orang tua sudah menggunakan takaran ini. Bedanya kalau sekarang diblender, dulu dikunyah. Dikunyah ini memiliki risiko penularan penyakit,” ujar dokter yang menyelesaikan pendidikan dokter umum di Universitas Udayana dan dokter spesialis di Universitas Hasanudin, Makassar ini.

Mengenai bahaya anak yang mengalami obesitas antara lain hipertensi, kelainan jantung, anak sering sesak nafas, dan susah bergerak. Sebelum hal itu terjadi, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua. Perbaiki gaya hidup dan pola makan anak. Caranya dengan memastikan anak mendapat asupan nutrisi dengan gizi lengkap dan gizi seimbang. Ajarkan anak makan buah dan sayuran. Kurangi gula dan minyak. “Jangan terlalu sering makan fast food karena cenderung tinggi lemak dan tinggi gula. Rasanya menjadi gurih dan selera makan anak makin tinggi,” ujar dr. Dwi.

Pastikan juga anak memiliki waktu istirahat. Namun hindari habis makan langsung tidur. Berikan jeda 2 jam setelah makan, baru tidur. Perbanyak olahraga permainan yang membuat anak bergerak. Setelah olahraga minum air putih atau buah sambil menunggu jam makan. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top