Buleleng

Cuaca Buruk, Nelayan Diminta tidak Melaut

Suasana pantai di Buleleng

Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Buleleng terus berupaya meningkatkan keselamatan kerja Kelompok Nelayan di Bali Utara. Satu cara dengan memberikan informasi mengenai prakiraan cuaca guna mengantisipasi musim gelombang pasang yang beberapa hari terakhir sering terjadi. Cuaca laut belakangan ini sangat sulit ditebak, sehingga jika kondisi diabaikan berpotensi menimbulkan kecelakaan laut.

Kepala Diskanla Buleleng Ir. Ni Made Arnika mengatakan, cuaca buruk yang mulai melanda perairan di Buleleng membuat sebagian nelayan menghentikan aktivitas melautnya. Sebagai gantinya, nelayan mencari pekerjaan sampingan hingga memperbaiki peralatan tangkap yang rusak.  “Nelayan sebaiknya jangan melaut dulu, waktu yang ada digunakan untuk memperbaiki jukung atau peralatan laut yang lain,” ungkapnya saat ditemui di ruang kerja. Perahu atau alat tangkap lainnya sejak cuaca buruk telah diungsikan untuk menghindari terjangan ombak pasang yang bisa saja menghanyutkan peralatan nelayan.

Ir. Ni Made Arnika

Ir. Ni Made Arnika

Sementara itu, beberapa nelayan dengan perahu kecil tetap melaut jika kondisi cuaca memungkinkan. Umumnya, perahu berkapasitas kecil tersebut berlayar tidak terlalu jauh sehingga ketika ombak tidak besar dan angin tidak terlalu kencang nelayan tetap bisa melaut.  “Dari pantauan kami di beberapa kelompok nelayan itu sudah banyak yang tidak melaut. Tapi nelayan yang menggunakan perahu kecil jika ombaknya kecil dan anginnya tidak terlalu kencang tetap melaut. Ini terpaksa dilakukan karena bagaimanapun laut sudah menajdi penghasilan bagi nelayan untuk kebutuhan keluarga,” katanya.

Di tengah cuaca buruk ini, Arnika bersama petugas penyuluh lapangan (PPL) gencar melakukan pemantauan untuk mengingatkan agar nelayan memperhatikan kondisi cuaca sebelum memutuskan melaut. Bahkan, untuk memberikan perkiraan cuaca, pihaknya menyebarkan perkiraan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geo Fisika (BMKG). Setidaknya panduan perkiraan cuaca resmi ini bisa memberikan gambaran cuaca yang akurat, sehingga aktivitas nelayan atau perkampungan warga di tepi pantai terhindar dari ancaman akan menjadi korban gelombang pasang atau kecelakaan laut. “Setiap bulan kami menerima surat dari BMKG yang berisa laporan-laporan keadaan cuaca dan kami tembuskan kepada para nelayan,” jelasnya.

Gelombang tinggi rata-rata 2,5 hingga 3 meter melanda beberapa wilayah seperti di Desa Sangsit (Kecamatan Sawan), Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, Pemaron, Anturan, Lovina (Kecamatan Buleleng), dan di Desa Tegallenga (Kecamatan Seririt). Hal tersebut membuat nelayan tidak berani mengambil risiko melaut sehingga berpengaruh terhadap stok ikan di Buleleng. “Kami lihat jumlah ikan dan jenisnya terbatas di pasar,” ungkapnya. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa pasar ikan mendatangkan ikan dari luar Bali untuk memenuhi kebutuhan di pasaran. “Per hari bisa didatangkan sekitar dua ton, biasanya didatangkan dari daerah Sumenep, Madura, dan Banyuwangi dengan jenis ikan Sulir, tangkapan maupun pancingan,” lanjutnya.

Diskanla juga telah melindungi keselamatan para nelayan dengan mengansuransikan ribuan nelayan di Buleleng. Hal ini bertujuan untuk memberi jaminan kesehatan jika terjadi kecelakaan laut dan darat. “Program ini sudah berjalan bahkan beberapa waktu lalu nelayan asal Kecamatan Kubutambahan yang mengalami kecelakaan darat sudah kami ajukan ke pihak asuransi,” tandasnya. Pihaknya terus mengupayakan agar semua nelayan mendapatkan perlidungan keselamatan. “Dari target 2.800 yang sudah masuk asuransi 1.830 sehingga kami upayakan yang belum agar segera terealisasi,” pungkasnya. (wiwinmeliana22@cybertokoh.com)

To Top