Kolom

MENGAJARKAN ANAK BERPRESTASI DENGAN USAHANYA SENDIRI

Eka Santhi Dewi

Bicara soal anak selalu menarik buat saya. Bukan karena jabatan atau pekerjaan saya semata tapi juga karena saya seorang ibu. Apalagi ketika menyangkut cara mendidik anak, khususnya bagaimana mengajarkan anak supaya berprestasi. Seorang ibu atau orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan ingin anaknya menjadi hebat.

Apa sebenarnya kriteria seorang anak bisa disebut hebat atau berprestasi. Dan persoalannya juga apakah semua anak harus dan mampu berprestasi dan jadi hebat?!

Menurut saya, setiap anak adalah unik, setiap anak terlahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai orangtua, seharusnya kita menerima dan mensyukuri apapun kondisi kelahiran anak kita. Tugas sebagai orangtualah untuk mampu mengenali potensi diri, bakat, dan minat dari anaknya, kemudian bisa mendorong dan mengajarkan si anak untuk bisa bertumbuh dan menjadi anak yang berprestasi.

Menurut saya juga kriteria atau ukuran hebat dan berprestasi tentu beda-beda untuk setiap orang atau keluarga. Dengan menjadi orang baik dan melakukan segala hal dengan benar saja sudah merupakan prestasi.

Buat saya pribadi, hal utama yang penting lebih dulu ketika kita ingin mengajarkan seorang anak untuk berprestasi adalah, kita harus bisa menjadi contoh dan teladan lebih dulu untuk si anak. Kalau kita ingin anak kita disiplin, berilah contoh prilaku nyata disiplin lebih dulu. Demikian juga jika menginginkan anak kita berprestasi, berupayalah lebih dulu untuk menjadi orang tua yg berprestasi pula.

Mendidik dengan cara memberi contoh dan menjadi role model yang baik menurut saya adalah cara yang lebih mudah. Karena dengan memeberi contoh, si anak tidak akan merasa dipaksakan untuk jadi hebat versi orang tuanya atau dipaksakan menuruti ambisi orangtuanya semata.

Bangkitkanlah minat dan kemauan dari diri seorang anak untuk bisa meniru hal baik yang dilakukan orang tuanya. Untuk memberi contoh tidak harus dilakukan dengan prestasi yang wah….cukup dimulai dari memberi contoh hal kecil dan sederhana.

Saya pribadi dalam mendidik anak-anak saya selalu menekankan pembentukan karakter yang baik, selalu berusaha mengajarkan pada anak untuk berpijak pada norma etika, agama dan aturan hukum dalam setiap aktivitasnya.

Pesan saya, agar mereka meraih segala yang diinginkannya juga meraih prestasi dengan cara yang benar dan selalu menekankan bahwa tidak ada cara instan untuk meraih sukses.

Untuk meraih satu prestasi dibutuhkan usaha dan kerja keras serta cerdas. Yang terpenting bukanlah hasil semata, tapi bagaimana prosesnya. Prestasi yang diraih dengan cara instan dan proses yang direkayasa, tidak akan menjadikan mereka .meraih sukses sejati. Karenanya saya tidak pernah mengajarkan anak-anak saya untuk menghalalkan segala cara meraih prestasi.

Saya tidak pernah menuntut mereka untuk melakukan hal yang tidak mereka sukai. Jika banyak orang tua berebut agar anaknya masuk kelas unggulan. saya justru bertanya berulangkali pada anak saya ketika dia akan mengikuti tes masuk kelas unggulan dan kemudian dinyatakan lolos. Apakah dia siap dengan konsekuensi dari pilihannya. Jika harus belajar lebih keras, jam belajar di sekolah juga lebih lama daripada kelas biasa.

Saya belajar dari lingkungan teman-teman saya, dan melihat bahwa sekolah favorit, nilai yang tinggi tidak selalu akan serta merta menjadikan seseorang sukses kelak. Banyak sahabat saya pengusaha super sukses yang dulunya waktu sekolah nilainya biasa aja. Dalam kehidupan kita, untuk meraih sukses tidak hanya dibutuhkan IQ yang tinggi pula tapi juga hal lain EQ SQ dll..

Sejak kecil anak-anak selalu saya arahkan untuk seimbang mengikuti kegiatan di luar akademis selain belajar meraih nilai akademis tinggi. Saya mengarahkan mereka berusaha meraih prestasi di bidang yang mereka sukai. Karena mereka dulu masih anak-anak tentunya kadang keinginan mereka juga berubah-ubah. Bulan ini mau ikut les bulutangkis, bulan depan bisa berubah pengin les renang. Saya selalu mengajak mereka diskusi tentang kegiatan yang mereka inginkan. Termasuk untuk memilih ekskul, saya serahkan pilihan pada mereka tanpa banyak intervensi.

Saya juga membebaskan anak-anak saya untuk jadi apapun asal mereka bahagia dengan pilihan karir mereka kelak. Saya hanya selalu menekankan pada mereka untuk memilih cita-cita atau bidang pekerjaan yang mereka cintai dan sukai. Sehingga kelak mereka bisa bekerja dgn bahagia dan berusaha jadi terbaik di bidang yang dicintainya. Menikmati semua proses untuk meraih prestasi dan melakukannya dengan cara yang benar.

Namun satu hal yang selalu saya tekankan dan ajarkan pada mereka,  jiwa entepreunership. Saya mengajarkan pada mereka untuk tidak bercita-cita jadi karyawan atau mencari kerja semata kelak namun bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri sendiri dan syukur-syukur bisa bermanfaat untuk orang lain.

Prestasi terbaik buat saya adalah bagaimana kita mampu mengembangkan hobi atau minat dan bakat lalu bisa jadi pekerjaan yang menghasilkan materi dan bisa bahagia menjalani hidup dan profesi itulah yang saya ajarkan pada mereka.

Saya percaya setiap anak memiliki bakat dan talenta masing-masing yang berguna untuk masa depannya kelak ketika dewasa dan setiap anak berhak memilih langkah hidupnya. Bakat dan talenta yang tidak harus diwujudkan dalam beragam piala atau penghargaan. Setiap anak berhak atas hidupnya tanpa intervensi orangtua atau mewujudkan ambisi orangtuanya semata.

 

Semoga kita semua mampu menjadi orangtua yang bisa memberi hak-hak anak-anak kita dengan maksimal dan melindungi mereka agar dapat hidup bahagia dan mengantarkan mereka menjadi anak yang hebat di bidangnya masing-masing.

 

Eka Santhi Dewi

Wakil Ketua KPPD Prov. Bali

To Top