Kolom

SAMURAI

Amat mendadak punya sebuah samurai. Diberikan oleh seorang anak muda yang mengaku mewarisi itu dari bapaknya. Konon diberikan oleh seorang perwira tinggi Jepang di masa pergerakan kemerdekaan.
“Bapak bukan seorang pendekar, Bapak seorang pengecut yang selalu menghindari perkelahian dan suka damai. Bapak tidak memerlukan samurai,” kata Amat menolak secara halus.
“Saya tahu, Pak Amat adalah pejuang perdamaian.”
Amat cepat mengoreksi.
“Salah. Bapak bukan pejuang, Bapak hanya cinta damai.”
“Ya, saya tahu maksud saya, Pak Amat pakar perdamaian.”
“Itu juga salah! Adik ini pasti keliru! Bapak bukan pejuang, bukan pakar hanya lebih menyukai damai. Bapak ini penakut!”
“Saya tahu, Pak. Pokoknya Pak Amat pelopor perdamaian.”
“Tidak! Bapak bukan pelopor, Bapak ini orang awam yang suka damai.”
Orang itu tak berani lagi memberikan sebutan. Ia menukar strateginya.
“Baik, kalau begitu. Pak Amat masih ingat presiden pertama AS?”
“George Washington?”
“Betul, Pak. Kata George Washington, untuk menjaga perdamaian diperlukan senjata!”
Sampai di situ cerita Amat, Bu Amat memotong.
“Terserah apa pun alasannya, tapi yang jelas, lalu Bapak memberikan dia uang?”
“Tunggu dulu, ceritanya belum selesai!”
“Nanti boleh dilanjutkan sendiri! Tapi yang pasti Bapak memberikan dia uang?”
“Soalnya, Bapak sebagai bekas guru, heran, dia kok masih ingat sejarah, pasti .. ”
“Ngasih berapa?”
“Tapi … ”
“Berapa!?!”
Amat teraksa narik nafas panjang. Menyerah.
“Berapa? Satu juta?
Amat pura-pura tak dengar.
“Satu juta?! Aduh Ratu! Samurai palsu buatan bengkel sepeda di belakang itu kok dibeli satu juta? Bapak ditipu mentah-mentah, tahu! Samurai itu sudah pernah ditawarkan ke Pak Made di sebelah. Bayar cicil 5 kali per 50 ribu pun, Pak Made nolak. Sekarang Bapak bayar kontan 4 kalinya! Aduh Dewa Ratu! Malunya saya besok di tempat arisan. Ini pasti sudah menyebar, semua pasti tahu! Saya sakit sajalah besok! Tapi kalau tidak datang, pasti yang narik orang lain. Kita kan perlu bayar tax amnesty !Aduh, kacau semua gara-gara Bapak mau jadi samurai cap jengkol!”
Amat seperti disambar petir. Ia tak percaya dirinya baru saja ditipu mentah-mentah.
Karena jengkel, Bu Amat, pergi ke rumah Ami. Ia tak mau pulang dengan seribu macam alasan. Tinggal Amat ditemani cecak-cecak di dinding yang setiap saat berbunyi seperti mengejek Amat.
Amat kelimpungan. Ia mencoba nonton sampai matanya pegel. Tapi kantuknya tak kunjung datang. Terpaksa ia memeriksa samurai palsu yang baru dibelinya.
Setelah cermat diperhatikan, perlahan-lahan mulai kelihatan palsunya. Bahkan ketika ia mencoba menebas sesuatu ternyata samurai itu jadi agak bengkok.
Leak barak!” umpat Amat, “Tega-teganya nipu orang tua!”
Tiba-tiba pintu depan diketok. Amat langsung meluap gembira. Tak sia-sia menunggu, akhirnya istrinya mengalah pulang. Itu pasti tanda rindu.
Amat bergegas ke depan. Langsung membuka pintu. Begitu terbuka ia berteriak kaget karena di depannya ada 4 lelaki yang hendak menerobos masuk.
Amat kaget mundur mau lari. Kakinya keselimput. Ia meloncat supaya jangan jatuh, sambil tak sengaja mengangkat samurai. Cahya lampu televisi memantul dari samura itu menyeruak ke para lelaki itu. Empat-empatnya berteriak  terkejut,  lalu lari tunggang-langgang sambil membuang barang jarahannya dari tetangga.
Para tetangga yang barusan dirampok berdatangan dan memunggut kembali barang-barangnya yang dijarah. Semua memandang kagum pada Amat yang masih memegang samurai dengan muka pucat-pasi.

To Top