Life Story

Jodoh di Tangan Tuhan

“Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik. Dan peremuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik.” Kalimat inilah yang kemudian diyakini Maryam sebagai petunjuk baik dari Allah SWT, atas apa yang telah menimpa anak tunggalnya baru-baru ini. Ia menjadi yakin, bahwa Mirna bukanlah jodoh terbaik baik Bona, anak semata wayangnya itu.

Dengan begitu bersemangat, Maryam (55) mempersiapkan segala kelengkapan untuk menunaikan ibadah umroh bersama saudara-saudaranya. Ia sibuk mondar-mandir untuk melakukan perpanjangan paspornya yang masa berlakunya hampir berakhir. Sana sini Maryam menelepon saudara-saudaranya yang akan satu rombongan dengannya berangkat umroh pada bulan Maret mendatang. “Tante Maryam yang kelihatan paling bersemangat,” ujar Dodi, keponakannya. Sesungguhnya Dodi sangat prihatin pada tantenya itu mengingat apa yang baru saja mereka alami.

Dua bulan lalu, menurut Dodi, keluarga tantenya itu baru mengalami ujian yang cukup berat setelah batalnya pernikahan Bona anak mereka yang merupakan sepupu dari Dodi. Bona (29) harus mengalami kekecewaan akibat ditinggal pergi tunangannya di saat semua persiapan sudah nyaris rampung. Tidak hanya Bona yang kecewa melainkan seluruh keluarga besar mereka terutama Maryam. Karena itulah, Maryam ingin menunaikan ibadah umroh untuk mendoakan Bona, anak semata wayangnya itu. “Tante ingin berdoa di depan Ka’bah untuk kemudahan jodoh bagi Bona,” ungkap Dodi.

Sesungguhnya Bona adalah laki-laki yang sangat baik. Ia lahir dalam keluarga terdidik dan hidup serba ada. Meski mereka bukan orang kaya, namun kehidupannya di sebuah kota kecil di Pulau Lombok  itu tergolong mapan. Diungkapkan Dodi, sepupu yang juga sahabat Bona, selama ini Bona tidak pernah memiliki hubungan (pacar) dengan perempuan mana pun. Hidupnya tertib dan taat beragama. “Bona itu bisa dibilang laki-laki idaman. Tampangnya cakep, rajin salat, punya pekerjaan mapan di bidang perbankan, anak tunggal pula,” kata Dodi. Begitulah gambaran kehidupan Bona.

Namun, semua itu rupanya belum cukup untuk membuat Mirna (25) bisa menerima Bona. Kisahnya bermula ketika Bona jatuh hati pada Mirna dan itulah untuk pertama kalinya Bona diketahui oleh orang tua dan sahabat serta keluarganya, memiliki seorang kekasih. “Lumayan kami bahagia melihatnya,” kata Dodi. Namun Dodi yang sempat mengetahui latar belakang Mirna dari seorang sahabatnya yang satu kantor dengan Mirna, sesungguhnya tidak sreg dengan hubungan mereka itu. “Tapi saya mau bilang apa, Tante Maryam kelihatannya sangat senang dengan hubungan mereka itu. Saya jadi serba salah untuk bicara kecuali diam saja,” kata Dodi.

Maryam memang kelihatan yang paling antusias dengan hubungan tersebut sehingga kerap membujuk mereka segera menikah. Hubungan mereka yang semakin dekat itu kemudian memang mulai menuju pembicaraan untuk pernikahan. “Lamaran selesai, tanggal pernikahan dan segala sesuatunya sudah selesai dibicarakan. Hanya butuh waktu satu bulan persiapan, mereka akan segera menikah di bulan November tahun lalu (2016),” kata Dodi. Persiapan terus berjalan dengan lancar mengiringi kebahagiaan Maryam sekeluarga. Maryam bahkan telah membayangkan ia akan segera memiliki seorang cucu.

Menjelang seminggu pernikahan, undangan mewah sudah siap dan segala persiapan gedung juga sudah rampung. Tiba-tiba Dodi mendapat kabar dari Tria sahabatnya yang bekerja satu kantor dengan Mirna. Tria juga mengenal Bona namun tidak dekat. Mereka bergaul bersama saat masa SMU, namun selepas SMU mereka masing-masing sibuk sendiri sehingga jarang berkomunikasi apalagi bertemu. Obrolan telepon antara Dodi dan Tria kemudian menguak kenyataan yang sempat dikhawatirkan oleh Dodi.

Tria mengatakan bahwa ia bertemu dengan Mirna di sebuah kafe tadi malam hingga jam satu malam, dimana Mirna tengah bersama mantan kekasihnya yang baru keluar dari penjara akibat terjerat kasus narkoba. Tria mengenal Mirna sebagai tunangan Bona karena kabar tentang rencana pernikahan Bona sudah resmi menyebar dalam sebulan terakhir. Kabar ini membuat Dodi merasa tidak boleh diam dan harus memberitahukannya kepada Maryam. Ia tidak ingin Bona terjebak dalam pernikahan palsu karena bagaimana pun juga Bona adalah sepupunya. Meski ragu ceritanya itu akan dipercaya oleh Maryam, Dodi merasa tetap harus memberitahukannya. Ia pun menceritakan apa yang didengarnya. Untuk meyakinkan Maryam, Dodi meminta tantenya itu bicara langsung dengan Tria yang melihat Mirna tadi malam. “Tante Maryam bicara langsung dengan Tria yang menceritakan secara gamblang tentang apa yang dilihatnya,” kata Dodi.

Tapi rupanya Maryam tidak percaya. Padahal menurut Dodi, keluarga yang lain pun sudah memintanya untuk mempertimbangkan lagi pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi dilaksanakan itu. Dodi sendiri sudah malas untuk bicara pada Maryam. Begitu juga keluarga. “Tante Maryam lebih percaya pada Mirna yang di depan matanya kelihatan sopan dan baik ketimbang pada kami,” kata Dodi. Meski sudah malas mengurusnya, diam-diam Dodi dan Tria mencoba memisahkan Bona dan Mirna dengan tujuan dan cara yang baik. “Kami percaya bahwa jodoh itu di tangan Allah SWT, tapi usaha juga perlu,” ujar Dodi yang mengaku pasrah waktu itu.

Tria dan Dodi melihat hubungan ‘gelap’ sepasang mantan kekasih itu semakin hari semakin tidak terpisahkan. Di belakang Bona, Mirna terlihat makin lengket dengan mantan kekasihnya itu. Sampai suatu hari kurang dari seminggu lagi pernikahan akan digelar, Dodi meminta Tria untuk mengatakan pada kekasih Mirna untuk membawa lari saja Mirna agar mereka bisa menikah. “Saya suruh bilang sambil iseng-iseng saja,” kata Dodi. Benar saja, kata-kata Tria itu rupanya diikuti oleh keduanya, sehingga Mirna tiba-tiba menghilang menjelang tiga hari pernikahannya. “Tidak ada yang bisa dihubungi dan semua panik terutama tante Maryam,” kata Dodi.

Dodi yang sudah tahu bahwa Mirna telah lari bersama kekasihnya itu, diam saja sampai Maryam menghubunginya dan ia menceritakan semuanya. “Tante Maryam bicara lagi sama Tria dan memastikan bahwa Mirna telah pergi,” kata Dodi. Maryam langsung terduduk lemas. Ia didera kekecewaan yang dalam. Begitu juga dengan Bona. Namun begitu seluruh keluarga mereka mendukungnya, membesarkan jiwanya dan memintanya mengembalikan segala sesuatu pada Sang Pencipta. Segala macam nasehat keluar dari keluarga besar mereka. “Bahwa jodoh itu di tangan Tuhan, bahwa semua pasti ada hikmahnya dan lain-lain,” kata Dodi. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

To Top