Sehat

Waspadai Kesemutan Berkepanjangan

Indah tiba-tiba tak bisa berdiri. Kakinya kesemutan setelah duduk bersila sekian lama. Indah ketakutan, apa yang sedang terjadi dengan kakinya.  Ia segera memaksa menggerak-gerakkan kakinya sembari memijat ibu jari kakinya. Tak berlangsung lama, ia mulai bisa merasakan kakinya  dan pelan-pelan, ia menggerakkan kaki dan mulai berjalan. Indah bernapas lega karena kesemutanya sudah hilang.

I Putu Eka Widyadharma, S.Ked.,dr,M.Sc,Sp.S(K).

I Putu Eka Widyadharma, S.Ked.,dr,M.Sc,Sp.S(K).

, mengatakan,  kesemutan adalah suatu gejala sebagai salah satu respon tubuh terhadap  adanya tekanan pada pembuluh darah atau saraf yang letaknya secara anatomi berdekatan dan saling berhubungan. “Pada saat tidur, duduk atau sedang memegang sesuatu dalam periode waktu yang lama akan menekan pembuluh darah dan saraf yang ada di tangan ataupun kaki. Penekanan yang lama akan menyebabkan aliran darah menjadi tidak lancar sehingga menimbulkan kekurangan oksigen/hipoksia pada daerah yang dilayani pembuluh darah tersebut termasuk saraf di sekitarnya,” kata staf pengajar Divisi Nyeri dan Nyeri Kepala Bagian/SMF Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RS Sanglah Denpasar ini.

Ia menambahkan, jaringan yang mengalami hipoksia dan saraf yang tertekan pun akan mengirimkan sinyal ke otak yang dirasakan sebagai kesemutan. “Kesemutan seperti ini akan membaik dengan perubahan posisi tubuh atau digerakkan,” jelas dokter yang sedang menempuh S-3 Ilmu Kedokteran ini.

Lelaki kelahiran Denpasar, 22 September 1975 mengatakan, kesemutan merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh sehingga sangat penting untuk menjaga tubuh dari kerusakan. “Dengan adanya kesemutan, kita tahu ada bagian tubuh yang terancam akibat penekanan,” katanya. Namun, walaupun demikian, ada juga gejala kesemutan yang membahayakan seperti, kesemutan yang terjadi pada sebagian atau seluruh tubuh yang terjadi secara tiba-tiba merupakan salah satu tanda bahaya akibat terjadinya suatu serangan stroke. Ada juga kesemutan pada tubuh yang terjadi setelah cedera kepala. Selain itu, kesemutan, yang terjadi setelah atau bersamaan dengan demam, dan kesemutan yang berlangsung lama dan bertambah parah dari waktu ke waktu, serta kesemutan yang terus menerus pada tangan maupun kaki, juga merupakan satu tanda bahaya.

Ia menyatakan, pada prinsipnya apabila timbul kesemutan dan menghilang setelah digerakkan atau diistirahatkan bukan merupakan tanda bahaya, sedangkan apabila kesemutan tidak membaik dan berlangsung terus menerus bisa jadi merupakan tanda bahaya telah atau sedang berlangsungnya suatu penyakit serius. “Kondisi kesemutan lebih tepat disebut adanya keterlibatan sistem saraf. Saraf yang tertekan maupun rusak akan memberi respons berupa rasa kesemutan. Jenis penyakit tertentu juga sering ditandai dengan kesemutan karena terjadi kerusakan sistem saraf baik dalam skala ringan maupun berat seperti diabetes, sindrom jepitan saraf (lumpuh pada bagian saraf ulnaris, peroneal, saraf radial, saraf iskhiadikus dsb), berbagai jenis penyakit sistemik seperti kerusakan organ hati, gagal ginjal, kelainan ginjal, kerusakan pembuluh darah, peradangan jantung dan organ dalam, kanker yang menyerang saraf dan masalah hormon, kekurangan vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12 sering juga menyebabkan kesemutan,” jelasnya.

Ia menyebutkan, kesemutan yang terjadi pada saat posisi tertentu bisa dicegah dengan cara, lakukan perubahan posisi secara berkala, jangan menggunakan sepatu atau pakaian yang terlalu ketat, hindari memakai sepatu hak tinggi, hindari kebiasaan mengangkat kaki dan tangan pada bagian bahu, lakukan olah raga teratur atau latihan ringan untuk membuat peredaran darah dan sistem saraf tetap sehat. “Jika Anda penderita diabetes maka kendalikan kadar gula dalam darah sehingga Anda bisa tetap sehat, konsumsi berbagai jenis makanan yang sehat dan makanan yang mengandung vitamin B, lakukan berbagai kegiatan ringan untuk menghindari cedera pada bagian tubuh tertentu,” ucapnya.

Ia menyarankan, jika mengalami kesemutan mendadak pada tangan atau kaki, lakukan perubahan posisi atau dipijat. “Gerakkan bagian kaki dan tangan yang mengalami kesemutan sehingga bisa membuat bagian kaki dan tangan menjadi lebih nyaman. Jika kesemutan mendadak pada separo atau seluruh tubuh, segera hubungi dokter dan lakukan pemeriksaan,” saran dr. Putu Eka Widyadharma.

Menurutnya, orang tua memang sering mengalami dan mengeluhkan adanya rasa kesemutan. “Selama kesemutan itu muncul singkat lalu menghilang tentu tidak membahayakan,” ujarnya.

Bagi orang tua yang sering merasa kesemutan sebaiknya memang melakukan pemeriksaan dengan ahli medis. Hal ini bertujuan untuk mengetahui semua masalah yang berhubungan dengan kesemutan dan kemungkinan penyakit lain,” kata dr. Putu Eka Widyadharma.

Ia mengatakan, fisioterapi bisa membantu mengurangi gejala kesemutan, tetapi tidak semua kesemutan bisa diatasi dengan fisioterapi tergantung dari penyebab penyakitnya. “Kesemutan yang bisa diobati dengan fisioterapi adalah kesemutan yang disebabkan akibat penekanan saraf oleh otot yang mengalami ketegangan, misalnya kesemutan pada tangan akibat ketegangan otot-otot daerah leher atau kesemutan pada kaki akibat duduk terlalu lama. Namun, kesemutan yang disebabkan penyakit-penyakit seperti stroke, diabetes, kekurangan vitamin B atau akibat penyakit sistemik lainnya tidak dapat diobati dengan fisioterapi,” jelasnya.  (wirati.astiti@cybertokoh.com)

To Top