Life Story

Eksistensi Kongso Sukoco “Melawan Kemalasan”

Tanggal 14 Desember 2015, Bengkel Aktor Mataram yang juga dikenal dengan Teater BAM kembali naik panggung dengan mementaskan naskah Nyanyian Angsa karya Anton Chekov. Tampilnya BAM di panggung Teater Tertutup Taman Budaya Nusa Tenggara Barat ini, mampu mengobati kerinduan penonton pada kelompok teater yang didirikan pada Februari 1984 ini. Di Nusa Tenggara Barat, perjalanan Teater BAM terbilang cukup panjang. Sebagai salah satu kelompok teater tertua di NTB, Teater BAM menjadi salah satu kelompok teater yang fenomenal karena karya-karyanya.

Tiga puluh dua tahun bukan waktu yang sebentar bagi Teater BAM untuk bisa menjaga eksistensinya di dunia teater dan kesenian khususnya di NTB. Jika kelompok-kelompok teater atau kelompok kesenian lain masih sibuk dengan menghitung jumlah personil yang dilegalisasi sebagai anggota, maka bagi Teater BAM, kehadiran Kongso Sukoco -bahkan jikapun ia seorang diri, masih sangat kuat membawa identitas Teater BAM. Begitulah kematangan dan kemapanan sebuah nama yang tersemat dalam Teater BAM dan Kongso Sukoco.

Kecintaan Kongso Sukoco yang lahir tanggal 6 Juli 1962 ini, telah membawanya pada dunia teater hingga usianya yang kini tidak muda lagi. Konsistensi Kongso Sukoco yang tetap berada pada jalur kesenian (teater khususnya), tampaknya tidak bisa dilakukan oleh semua orang. Meski terselingi dengan berbagai kegiatan lain, ia tetap kembali pada dunia teater. Bagaimana tidak, Kongso Sukoco bahkan meninggalkan statusnya sebagai Pegawai Negeri Sipil pada tahun 1980-an untuk kemudian menggeluti dunia kesenian dengan melahirkan Teater BAM.

Saat mendirikan Teater BAM 32 tahun silam, ia mendapat dukungan dari pelajar dan mahasiswa yang saat itu sangat antusias memilih kegiatan ‘teater’ sebagai wadah penyaluran energi kreatifnya. Beberapa nama yang tercatat sebagai penggerak Teater BAM saat itu, seperti Wing Sentot Irawan, Lalu Prima Wiraputra, Cukup Wibowo, Tavip, Nunung Antari, Cholik, Akhyar, Jupni Amri, Sulistiono dan beberapa nama lainnya.

Hingga akhir tahun 1990-an, Teater BAM bisa disebut komunitas teater paling produktif, dan sangat mempengaruhi iklim berteater di Kota Mataram. Termasuk pula pada era-era berikutnya. Teater BAM merupakan kelompok teater yang sangat konsisten pada masanya. Bersama Teater BAM ini, Kongso Sukoco telah mengukir prestasi secara nasional.

Sepanjang perjalanannya berkesenian, Kongso Sukoco telah menyutradarai 37 lakon karya pengarang baik dalam dan luar negeri. Sempat absen di panggung teater sejak tahun 2000, Teater BAM kembali berproduksi mementaskan lakon Zetan karya Putu Wijaya di tahun 2015. Tahun 2016, dua karya Teater BAM naik panggung lagi, yakni di Oktober 2016 mementaskan dramatis sastra yang berangkat dari naskah sejarah karya Putu Wijaya dalam pertunjukan yang menggabungkan konsep video art dan pada 14 Desember 2016 lalu mementaskan Nyanyian Angsa karya Anton Chekov sebagai produksi ke 38.

Pada naskah Nyanyian Angsa yang disutradarai oleh sutradara kawakan Saepullah Sapturi beberapa waktu lalu itu, Kongso Sukoco tampil sebagai aktor yang menunjukkan kelas tersendiri. Kematangan kualitas akting Kongso Sukoco sebagai seorang aktor mampu membuat pagelaran yang ditunjang konsep tata panggung dan lighting serta didukung aktor Achiem itu menjadi begitu apik. Kongso Sukoco yang biasanya menjadi sutradara ini menunjukkan kemapanannya sebagai seorang aktor. Tidak banyak aktor di NTB yang mampu menunjukkan konsistensinya seperti Kongso Sukoco yang ‘turun lapangan’ hingga usianya yang telah lebih setengah abad itu.

Dengan menggelar pertunjukan Nyanyian Angsa itu, Kongso Sukoco berharap dapat mengembalikan semangat berteater di Mataram. “Saya berharap dengan digelarnya karya ini, akan dapat mengembalikan semangat bergeraknya “teater orang dewasa”. Maksudnya, komunitas teater mestinnya tidak hanya hangat di lingkungan sekolah dan kampus yang pemainnya hanya pelajar dan mahasiswa seperti yang terlihat akhir-akhir ini,” ungkap Kongso Sukoco. Menurutnya, iklim berteater bisa dikatakan benar-benar ‘hidup’ bila tumbuh grup teater yang dimainkan ‘orang dewasa’ yang mendampingi komunitas teater yang tumbuh subur yang pelakunya adalah pelajar dan mahasiswa.

 

TEATER ITU MAHAL

Tampilnya kembali Kongso Sukoco di panggung teater Mataram untuk melawan ‘kemalasan berkarya’ dan juga menjaga stamina kreatifnya. “Secara pribadi, tentu keperluan untuk menjaga stamina kreatif. Ini bagian dari “melawan kemalasan”, sebab seniman tak boleh berhenti berkarya dan tugas saya mengingatkan agar seniman tidak menjadi pemalas,” ungkap tokoh teater NTB ini. Selain itu, Kongso Sukoco ia ingin menyampaikan alasan “pendidikan” (dalam tanda kutip). Berkesenian itu bagian dari tugas kemanusiaan yang tak boleh berhenti, atau menjalani masa pensiun.

Menurutnya, justru pada usia yang matanglah seniman harus bisa menghasilkan karya yang makin bisa memberi banyak arti bagi orang lain. Karena baginya tugas dari kesenian itu tidak hanya menghibur, tetapi harus bisa lebih dari itu.

“Karya yang baik tidak bisa hadir karena banyak seniman yang mandeg, atau merasa waktunya pensiun justru ketika ia makin matang. Padahal justru pada saat seseorang bisa “memberi” bagi mereka yang baru berangkat, yang tua mestinya bisa lebih bijaksana, kata orang. Karena itu ia mesti lebih ngotot berkarya. Macan mati meninggalkan belang, manusia mati dikenang dari karya-karyanya,” ujarnya.

Sebagai tokoh teater di NTB, Kongso Sukoco melihat komunitas teater di kampus dan sekolah saat ini cukup bersemangat. Tapi agak lesu di luar itu. “Ini adalah soal cara pandang kita, dan bagaimana seseorang memahami pentingnya kesenian bagi masyarakat. Seniman sendiri dan bukan orang lain yang harus meyakinkan, tanpa kesenian (yang baik) kualitas kemanusiaan kita tak pernah beranjak maju. Pelajar dan mahasiswa bersemangat, tapi setelah lepas dari lingkungan sekolah dan kampus biasanya tak menganggap  kesenian itu penting,” begitu kata Kongso Sukoco. Secara khusus ia mengapresiasi mahasiswa FKIP Unram (Teater Putih) yang telah belasan tahun menyelenggarakan festival teater pelajar. Kelembagaan seperti inilah yang menurutnya sangat penting bagi berkembangnya seni teater di Mataram (NTB).

“Sayangnya, mahasiswa yang sangat getol menjadi penggeraknya akan berhenti mengapresiasi teater setelah lulus kuliah. Tentu ada pendidikan atau apresiasi teater yang salah (kurang) dalam hal ini. Namun begitu, tidak ada yang perlu disalahkan. Tapi yang masih percaya kesenian itu penting, tidak boleh berhenti berkarya seni,” katanya.

Terhadap masa depan teater di Mataram, Kongso Sukoco berharap selama ini bisa menjadi bagian penting dalam peta teater di Indonesia. Namun harus diakui, hal itu saat ini jalan di tempat. Tetapi bukan juga berarti tidak ada kemajuan. Komunitas teater yang digerakkan tokoh- tokoh muda di Mataram, telah membangun jaringan yang baik. Sayangnya itu masih kurang diikuti dengan militansi untuk mencipta karya teater. Apresisasi masyarakat Mataram (NTB) sangat tinggi terhadap teater. “Tapi apa yang harus diapresiasi kalau seniman teater sendiri tidak banyak bekerja. Banyak seniman mandeg dan menyalahkan masyarakatnya. Apalagi kalau berkarya tanpa memahami masyarakatnya, bahkan tidak mempedulikan publiknya. Banyak orang mencoba berteori tentang kesenian dan masyarakatnya tapi tanpa menghasilkan karya yang baik,” kritik Kongso Sukoco. Memang diakuinya bahwa membuat teater itu mahal. “Karena itu kita mesti bisa mencipta dengan apa yang kita miliki. Paling mungkin kemandegan harus disikapi sebagai tantangan,” katanya. (naniek.itaufan@cybertokoh.com)

 

Paling Populer

To Top