Griya

Desain Interior 2017: Konsep Rustic Masih Jadi Tren

Berbicara tentang tren desain interior tentu tak terlepas dari tuntutan aktivitas pemakainya (masyarakat). Dari pengamatan seorang desainer interior Kadek Sosiawan, S.Sn., HDII, aktivitas keseharian masyarakat sekarang sudah padat, dan kompleksitas kesehariannya menjadi tinggi, sehingga tuntutan mereka pada desain juga berdampak pada tuntutan desain ke depan.

“Tuntutan mereka tetap pada nilai-nilai efesiensi dan nilai praktis. Desain interior khususnya harus mampu menerjemahkan/merespons tuntututan-tuntutan masyarakat itu. Salah satunya adalah efisiensi dan efektivitas, sehingga kecenderungan desainnya adalah tetap mempertahankan desain-desain yang simpel,” ujar Penasihat Himpunan Desain Interior Indonesia (HDII) Bali ini.

Nilai-nilai efektif dan efisien yang diusung ini dijelaskannya dari sisi tuntuan aktivitas, diakomodir dengan desain yang fungsional, bisa jadi multifingsi juga. “Yang penting desain itu bisa mewadahi segala kebutuhan kompleksitas aktivitas pemakai/penghuni ruang tersebut. Jadi ini bisa dikatakan mengusung nilai-nilai modern juga,” ucapnya.

Dalam bahasa sederhananya, sebuah desain interior harus memikirkan misalkan ruang dapur, bagaimana caranya agar mereka gampang mengganti tabung gasnya. Atau, bagaimana agar bisa mengganti lampu sendiri. “Mereka (konsumen) sudah seperti itu tuntutannya. Kita harus bisa memikirkan hingga hal-hal terkecil dalam aktivitas keseharian mereka. Termasuk dimana nanti kita harus membuang sampah, bagaimana cara mengelola sampah, dll. Kita tak hanya bisa berpikir desain interior di dalam  ruang saja, tetapi ada kaitannya di luar itu, termasuk lingkungan. Demikian dari sisi tuntutan aktivitasnya,” tegasnya.

Di sisi lain, di era globalisasi, teknologi dan informasi memberikan informasi terhadap lingkungan. Ada isu global tentang lingkungan, yang memprovokasi pandangan dan pikiran masyarakat. Akhirnya ini berdampak juga pada desain, sehingga perkembangan desain ke depan akan masih menjadi tren “rustic” dan kesan “green” itu.

Hal ini juga berpengaruh pada tuntutan masyarakat untuk juga mengikuti tren (informasi global) tersebut, bagaimana bisa memanfaatkan recycle material (barang-barang bekas), bagaimana bisa menghemat energi, bagaimana kita bisa mengoptimalkan material lokal, atau bagaimana cara berpikir kita untuk bisa ramah dengan lingkungan. “Ini sebenarnya cara berpikir green,” ucap Art Director dari Racana Design ini.

Masyarakat akhirnya dipengaruhi juga oleh pemikiran-pemikiran tersebut. Desain interior akan tetap mengikuti alur informasi global itu sehingga desain ke depan di tahun 2017 masih akan bertahan di gaya-gaya cara berpikir ‘green’  dan visualisasi ‘rustic’. Seperti, menggunakan semen poles, kayu bekas, expose material, bahan-bahan yang bisa diolah, bahan-bahan sisa, serta mengunakan warna-warna transparan.

Cara berpikir ‘green’ (kesadaran akan lingkungan) dan tetap mempertahankan nilai-nilai praktis ini akan menjadi sebuah kombinasi, sehingga akan muncul desain-desain yang rustic tapi efektivitas dan efisiensi mereka dalam berkativitas tetap akan tertampung. Dari dua hal tersebut, bisa dikembangkan menjadi pemakaian warna-warna netral, expose material (dibiarkan apa adanya). “Justru dengan membiarkan material terekspos apa adanya, kesadaran manusia itu menjadi  lebih kental dan lebih terasa bahwa dia tak hanya berpikir ‘green’ tapi sudah melaksanakan green,” pungkasnya. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top