Bunda & Ananda

Dari Evaluasi Jadi Resolusi

Wiriana

Memiliki rencana untuk dilaksanana merupakan panduan dalam beraktivitas. Dengan adanya rencana, kita punya tujuan yang jelas. Namun, tak selamanya rencana itu bisa terwujud. Ada hal-hal yang kadang berada di luar kemampuan. Bagaimana menerakan perencanaan dan evaluasi di lingkungan keluarga?

Setelah memiliki satu putra, Bu Yuni berencana untuk menambah momongan.  Ia sudah sempat hamil naum keguguran. “Menurut dokter yang memeriksa, kandungan saya di luar rahim. Saya dan suami pun shock. Rencana kami untuk menambah momongan tertunda. Selain itu, dari hasil pemeriksaan lab, kandungan saya dibilang bermasalah,” ungkap karyawati di sebuah perusahaan swasta ini.

Bu Yuni dan suaminya sempat putus asa dan selama beberapa tahun tidak mau memeriksa diri ke dokter. Niat untuk memiliki anak pun ada. Mereka pun berusaha kembali dan konsultasi ke dokter lain. Ternyata dokter mengatakan ada peluang untuk hamil lagi.

“Saya dan suami semangat lagi. Dua tahun lalu kami punya resolusi untuk memiliki anak. Namun karena belum tercapai, kami evaluasi diri. Tahun 2016 kami buat perencanaan lagi dengan konsultasi ke dokter. Akhirnya saya bisa hamil,” ujar perempuan asal Buleleng ini.

Mengenai jenis kelamin, Bu Yuni tidak mempermasalahkan. Dari hasil USG terdeteksi perempuan. Anak pertamanya “protes”. “Kok perempuan Bu, aku maunya adil laki-laki biar kembar. Saya jelaskan laki-laki dan perempuan tidak masalah asal sehat. Hal terpenting adalah bersyukur atas karunia Tuhan,” tandasnya seraya mengatakan jadwal kelahiran bayinya di Mei 2017.

Sementara itu Bu Rai memiliki perencanaan di awal tahun 2016 untuk melaksanakan upacara metatah (potong gigi sesuai keyakinan umat Hindu) untuk anaknya. “Astungkara rencana saya bisa terealisasi. Semua berkat dukungan keluarga besar,” ujar perempuan asal Tabanan ini sembari bersyukur.

Bagi Bu Rai, menyiapkan rencana untuk keluarga merupakan hal yang mutlak dilakukan. Hal ini akan memudahkan untuk menyiapkan berbagai keperluan dan tidak mendadak. Untuk melakukan perencanaan, ia selalu berkomunikasi dengan suami dan anak-anaknya. Jika ada hal-hal yang tidak terealisasi, mereka membuat evaluasi dan mencari solusinya.

Menurut Wiriana, S.Psi, M.Pd, Psikolog, evaluasi tahunan bertujuan untuk merefleksikan diri, apa yang sudah dilakukan dan apa yang belum dalam setahun. Ia setuju dengan apa yang dikatakan Bu Rai mengenai komunikasi. “Kunci dalam perencanaan, aksi, dan evaluasi adalah komunikasi. Dalam lingkung keluarga, komunikasi itu penting. Komunikasi suami-istri, komunikasi orangtua-anak, dan komunikasi anak dengan anak, termasuk komunikasi dengan keluarga besar dan masyarakat,” jelas psikolog dari Biro Psikologi Wira Kasih Dharma ini.

Perempuan yang akrab disapa Ana ini mengatakan how, what, who, dan why (HW3) menjadi pedoman dalam berkomunikasi dan menyusun perencanaan. Jika semua sudah terencana dan dilaksanakan. Pasti ada saja yang meleset atau tidak terealisasi. Hal ini kemudian dijadikan bahan evaluasi. Tidak tertutup kemungkinan hasil evaluasi ini menjadi bahan untuk rencana berikutnya.

Secara umum, penerapan manajemen komunikasi di lingkup keluarga sangat bermanfaat dan mempermudah “jalannya” kehidupan keluarga. Selain itu, saling percaya antara anggota keluarga serta tidak adanya sikap otoriter dari orangtua membuat suasana menjadi elegan.

“Penting bagi keluarga untuk merefleksikan dan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan keluarga selama setahun. Selanjutnya buatlah resolusi bersama. Tentukan goal setting. Tujuannya meningkatkan kebersamaan. Misalnya, yang masuk dalam resolusi adalah makan bersama, doa bersama, menulis pesan di papan pesan, saling menyapa dan tersenyum, serta membuat quality time. Komitmen, kedisiplinan, kontinuitas, dan kebiasaan untuk saling mendukung dan saling berkomunikasi ini sangat berperan mewujudkan resolusi keluarga,” tegas konselor di PAUD Candra Kasih Denpasar yang menyelesaikan pendidikan S1 di Universitas Surabaya (Ubaya) dan S2 di  Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Ana juga mengingatkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan perilaku positif, ada yang awalnya “dipaksa”, kemudian menjadi “terpaksa” dan lama-lama menjadi “kebiasaan”. Contohnya, seorang anak aiajak untuk menyisihkan uang sakunya untuk ditabung. Awalnya mungkin si anak merasa dipaksa tetapi itu bisa menjadi kebiasaan baik.

Hal lain yang tak bisa diabaikan dalam pencapaian visi misi keluarga adalah memperkuat pendidikan karakter. Walaupun sudah diterapkan manajemen modern di lingkungan keluarga, namun pendidikan karakter harus tetap dikedepankan. “Selalu mengucap syukur atas apa yang diraih dan dirasakan,” pungkas anggota Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) wilayah Bali ini. (ngurahbudi@cybertokoh.com)

To Top