Kolom

BERITA LAYAR KACA

Kau terpaku depan TV. Nonton manusia tumpah ke jalan. Mereka mengibarkan panji-panji damai. Tapi dalam  dadanya menyala magma.
Dengan wajah yang jelita, pembawa acara memberi komentar yang menakutkan. Seakan bahaya besar sedang mengancam.
Kau bertanya, kenapa wajah para pewarta itu nampak bersemangat? Bila dugaan merreka benar, tidakkah itu juga akan menimpa para pembawa berita itu sendiri. Apakah mereka kedap peristiwa? Atau berpihak?
Adakah berita sudah menjadi lukisan dinding indah yang menyejukkan jiwa? Sehingga keos dipersembahkan sebagai sebuah upacara megah. Seakan kebenaran dan keadilan sejati akan segera turun dari langit. Dan kalau itu belayar di atas darah, boleh-boleh saja?
Bu Amat bengong. Siapakah yang bicara itu, bisiknya.  Siapa yang disebut kau? Apa kemungkinan aku sendiri karena memang begitulah yang kurasakan setiap nonton siaran berita di TV?
Berita kan mestinya dingin. Tanpa emosi. Terserah perasaan yang memirsanya. Dan pembawa berita tak boleh  lebih dari kapstok seperti ‘manequin’ di atas ‘cat walk’. Jadi tidak ada penggiringan yang targetnya membentuk opini publik yang sesuai dengan kemauan pribadi pemilik TV.
Berita, semestinya seadanya, sejatinya peristiwa. Bila direkayasa, ditambah-tambah, dipotong- penggal atau dicabik-cacah, akan menjadi pendapat dan interpretasi yang dapat membingungkan masyarakat. Karena ia menjadi peristiwa lain yang berbeda dengan kejadian aslinya.
Pembawa warta juga tak semestinya berdandan yang mengesankan anggota komunitas tertentu. Tak boleh senyum, tertawa atau menyeringai. Karena ia tak boleh mempengaruhi isi wartanya.
Kalau ia keren biarlah itu hanya latar belakang agar pemirsa betah menatap layar kaca. Tidak boleh menjiwai tuturannya yang harus selalu terjaga ketidakterlibatannya  seperti huruf-huruf standar dalam buku.
Yang penting niat pemberitaan adalah memberikan informasi yang benar, jujur dan akurat pada masyarakat. Memberikan pengetahuan yang bermanfaat. Membina masyarakat untuk kritis, tidak gampang terombang-ambing oleh isu, fitnah dan provokasi.
Masyarakat harus dicegah dari penyeretan keberpihakan, dengan dalih apa pun. Karena sekali itu terjadi, reputasi berita akan tercemar. Niat luhurnya untuk menuntun rakyat menyebrangi kemelut akan menjadi gosip dan gelembung sabun.
Menjadikan berita sebagai barang komoditi untuk bersaing demi mendongkrak popularitas dan hanya profit adalah penyelewengan. Sangat berbahaya bagi masa depan. Karena akan memupuk generasi muda untuk bermusuhan, hanya demi keuntungan satu kelompok.
Tak semua berita adalah berita yang layak diberitakan dalam acara berita. Peristiwa rutin sehari-hari yang sifatnya pribadi atau skupnya terbatas, bukan berita. Berita harus mengandung unsur yang menyangkut hajat hidup masyarakat.
Tapi berita spesifik yang walau skupnya kecil, namun dapat mempengaruhi hajat hidup masyarakat, itu  layak diberita. Biar pun  tak panas sekali pun tak menjual!
Berita yang mengepung kita sekarang ternyata banyak yang palsu, bisik Bu Amat meneruskan renungannya. Ternyata itu sebenarnya gosip, fitnah, provokasi, iklan, kampanye atau sihir untuk menjemput pengikut doang.
“Jadi, Pak, saya tak mau lagi nonton siaran berita sekarang!” kata Bu Amat pada suaminya, “tolong kalau ada berita yang penting, saya diberitahu saja. Tapi jangan meniru suara dan mimik muka para pewarta itu, supaya saya tetap bisa bebas menerima, bebas berpendapat dan tetap bebas bersuara dalam usia kemerdekaan kita yang memasuki tahun ke-72 ini.”
Amat terpana. Mengapa teman hidupnya tiba-tiba protes pada TV. Ini pasti pengaruh si Ami, bisik Amat.
Tapi Amat paham suara hati teman hidupnya itu. Ia tak memberi komentar apa-apa, hanya berjanji akan memberitakan ulang apa yang dilemparumpankan para penyiar TV itu.
Anehnya Ami ternyata berpendapat sebalikya. Mendengar curhat ibunya, ia langsung mencela:
“Ibu tidak bisa memaksa desa-kala-patra 2017, dengan kembali mau menerapkan desa-kala-patra tahun 50-an. Tidak akan cocok!”
“Apanya yang tak cocok?”
“Dulu tidak ada TV swasta. Sekarang bukan saja ada, tapi seabrek! TV bukan lagi alat penerangan pemerintah tapi komoditi dagang dan politik!  Bukan sinetron yang kini paling laku paling tinggi ratingnya, tapi sensasi! Berita sangat potensial jadi sensasi!   Asal lebih heboh, nyeleneh dan berani!!”
Lebih sensasional lebih unggul! Bagaimana bisa merebut rating tinggi kalau beritanya lempeng-lempeng saja? Tuntutan ibu bisa membuat TV itu  bangkrut!”
“Jadi mestinya bagaimana? ”
“Jadi, ibu-ibu jangan habiskan waktu di depan TV!”

To Top