Sosialita

Koperasi Amoghasiddhi: Koperasi dengan Energi Bersih Baru dan Terbarukan

Foto bersama peresmian gedung Koperasi Amoghasiddhi, 19 November 2016

Wajar tanpa Pengecualian. Koperasi Sehat. Koperasi Berkualitas. Demikian predikat yang digenggam Koperasi Amoghasiddhi saat ini. Amoghasiddhi yang berarti “Sempurna dan Selalu Berhasil” adalah doa yang dihembuskan sejak berdirinya tahun 2005.

Amoghasiddhi diturunkan pula menjadi Akuntabel, Mandiri dan Sejahtera. Akuntabel yang berarti setiap rupiah yang dikeluarkan tercatat dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Mandiri bermakna Amoghasiddhi bertumbuh dengan sumber daya yang dimilikinya tanpa tergantung pada pihak manapun.  Sejahtera tergambar dari keuntungan yang diperoleh seluruh anggotanya.

Setiap tahun, Koperasi Amoghasiddhi diaudit oleh kantor akuntan publik  independen dengan perolehan Wajar tanpa Pengecualian. Sedangkan untuk pemeringkatan kesehatan koperasi yang dilakukan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Prov Bali dengan predikat Koperasi Sehat. Surveyor Indonesia memberikan predikat Koperasi Berkualitas. Begitu pula dengan pengelola Koperasi Amoghasiddhi, Ida Ayu Alit Maharatni, S.Psi.,M.Si telah mengantongi sertifikat Manajer Kompeten dan Fasilitator Koperasi Jasa Keuangan yang  diterbitkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Hal ini mengindikasikan Koperasi Amoghasiddhi dikelola secara profesional. Seluruh pencapaian Koperasi Amoghasiddhi dapat diakses melalui website www.amoghasiddhi.co.id.

Memasuki usia 12 tahun, Amoghasiddhi terus tumbuh menjadi koperasi  dengan ciri khasnya, koperasi dengan Energi Bersih Baru dan Terbarukan. “Ya gedung baru kami dikonsep menggunakan solar panel sebagai pembangkit listrik utama, yang diperoleh langsung dari cahaya matahari. Sedangkan PLN sebagai cadangan jika cuaca mendung atau hujan, ” ujar sang manajer yang biasa disapa Dayu Nanik ini. Ia mengatakan bahwa hal tersebut memperoleh apresiasi dari Menteri Koperasi dan UKM RI, A.A.N Puspayoga saat meresmikannya pada 18 November 2016.

Selanjutnya tampil berbeda dari koperasi kebanyakan menjadi ciri khas Amoghasiddhi. Secara fisik lihatlah gedung dan ruang tunggunya, bukan hanya ruang tunggu biasa, melainkan co-working space. “Setiap anggota dapat  beraktivitas di sansa. Mulai dari bertemu klien, rapat maupun hanya sekadar berkunjung. Kami sangat terbuka,” ujarnya.

Paradigma baru dalam sebuah organisasi adalah ketiadaan jarak antara satu dan lainnya, itu pula kata Dayu Nanik yang menjadi spirit proses pembangunan gedung Amoghasiddhi. “Semua anggota turun tangan berkontribusi menjadikannya gedung dengan konsep hijau. Bukan hanya itu, pembuatan cushion cover  bermotif tie die pun didesain khusus oleh anggota, semuanya hasil karya anggota. Kami bangga menjadi tempat berkumpulnya insan kreatif yang bersedia mendedikasikan rasa, menciptakan sinergi luar biasa,” lanjutnya.

Amoghasiddhi sangat aktif menyuarakan penggunaan energi bersih termasuk kampanye penggunaan sepeda listrik yang difokuskan pada pelajar SMP dan tergabung dalam SeLid (Sepeda Listrik Denpasar). “Adik-adik SMP, saat ini banyak kita lihat wara-wiri dengan kendaraan bermotor yang notabene belum saatnya, dan usia labil menjadikan ini membahayakan,” imbuh lulusan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Sementara para pelajar dengan segudang kegiatannya, orangtua tidak bisa apatis berdiri pada aturan kaku terkait usia mengendarai kendaraan bermotor. Sehingga, sepeda listrik menjadi jawaban di tengah kegamangan menentukan sikap bagi para orangtua. “Sepeda listrik tidak dapat ngebut, maksimal 40 km/jam, saya berkegiatan didalam kota Denpasar selalu menunggang sepeda listrik kebanggaan. Kendaraan yang telah melupakan bahan bakar fosil, bebas berpolusi dan bebas suara. Setidaknya bahaya kebut-kebutan di kalangan remaja dapat ditekan. Bepergian jauh tanpa izin pun dapat dikontrol oleh sepeda listrik, dengan jarak tempuhnya yang mencapai 30-50 km setiap kali charge,” ujarnya.

Dijelaskan juga oleh Dayu Nanik, di halaman kantor Koperasi Amoghasiddhi disediakan charging point bagi pengguna sepeda listrik yang diperoleh dari pohon energi, berupa panel surya yang menghasilkan listrik dari menadah matahari. Tidak berhenti di sana, Amoghasiddhi telah berkontribusi pada pemberian bantuan berupa perangkat panel surya kepada Kelurahan Pemecutan, Denpasar untuk menyukseskan Denpasar Bersih dengan Energi Bersih,  berupa ciKar surYa (KarYa).

Atas perjalanan panjang ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memberikan Penghargaan Energi Kategori Prakarsa Kelompok Masyarakat yang diikuti peserta dari seluruh Indonesia. ”Kami bangga mampu mengikutkan Amoghasiddhi di ajang nasional dan bergengsi tersebut,” papar  Dayu Nanik sambil mengatakan kalau dalam operasional sehari-hari, mereka menggunakan kertas bekas yang satu sisinya masih kosong. “Kami mengerti jumlah pohon yang ditebang demi menyajikan kertas baru, dan tidak sedikit dana pembelian kertas yang dianggarkan dipakai mengadopsi pohon setiap tahun di Pura Jati bersama Yayasan Bali Hijau Lestari, hingga penghujung tahun ini kami memiliki 120 keluarga adopsi,” ungkapnya.

Dayu Nanik juga menjelaskan jam operasional Amoghasiddhi yang berbeda dari kantor kebanyakan. Mereka buka pukul  8.00 dan tutup pukul 20.00. Hal ini untuk mengakomodir tim yang sebagian sedang menyelesaikan kuliahnya. Bagi mereka yang kuliah pagi tetap dapat bekerja di siang hingga malam hari sementara yang bersekolah sore dapat bekerja pagi harinya. Jam kerja ini membuat tim Amoghasiddhi dapat berkegiatan lain dengan fleksibel bukan hanya bekerja. Selain itu anggota juga dapat mengakses koperasi tanpa harus meninggalkan jam kerjanya.

Anggota juga tidak perlu repot mengunjungi kantor Koperasi Amoghasiddhi untuk menabung atau membayar kredit. Cukup dengan transfer melalui SMS banking, internet banking ataupun  ATM. “ Hal ini kami lakukan untuk memberikan pelayanan kepada seluruh anggota yang tersebar di kabupaten/kota se-Bali. Bayangkan jika untuk membayar kredit, anggota yang di Singaraja jika harus ke Denpasar, tentu bukan pilihan yang menyenangkan,” pungkasnya. -ard

To Top