Edukasi

Benahi Mulai dari Input

Dra. Ni Ketut Endrawati

Pendidikan memegang peranan yang sangat vital dalam kehidupan sebuah negara. Baik buruknya, maju mundurnya, dan berkembang tidaknya suatu negara sangat ditentukan oleh pendidikannya. Demikian pandangan Dra. Ni Ketut Endrawati akan pentingnya sebuah pendidikan.

Berbicara masalah pendidikan, mindset sebagian orang lebih cenderung pada sekolah. Padahal, sekolah adalah salah satu pusat pendidikan, bukan satu-satunya pusat pendidikan. Yang lebih penting lagi adalah keluarga sebagai tempat pertama dan utama bagi pendidikan anak,  dan juga masyarakat sebagai tempat pendidikan informal.

Di era globalisasi ini, guru pengampu mata pelajaran Bahasa Inggris di SMAN 7 Denpasar ini mengatakan media sosial merupakan saingan terberat bagi guru-guru. Karena, anak-anak akan lebih cepat menyerap, percaya dan meniru apa yang mereka baca, dengar, lihat dan mereka tonton, dibandingkan dengan apa yang disajikan di depan kelas.

Dengan tantangan yang lebih berat tersebut, Endrawati berharap ke depannya profesi guru harus dibenahi mulai dari input (profesi guru seharusnya diminati oleh  mereka yang berprestasi bukan hanya di Fakultas kedokteran, Kedinasan, dsb.), kurikulum harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan zaman, sarana dan prasarana yang memadai serta sistem evaluasi yang  sesuai dengan standar nasional pendidikan.
TERINSPIRASI IBU

Endrawati menjadi seorang ibu sekaligus guru bagi kedua putranya, Gede Thedy Ratendra dan Kadek Dheva Ratendra. Apa yang pernah didapatkannya dulu, kini diterapkannya pada anak-anaknya. “Pengalaman paling berkesan ketika almarhumah ibu saya bercerita (mendongeng) kepada kami anak-anaknya, sebelum tidur.  Saat itu beliau bercerita tentang cerita-cerita pewayangan dan cerita-cerita klasik seperti Cupak Grantang. Beliau menyelipkan tentang ajaran-ajaran agama melalui dongeng-dongeng tersebut,” kisahnya.

Beberapa pepatah seperti “dije kacang ditu komak, dije pejang ditu nyemak” dan sebaliknya “dije komak ditu kacang, dije nyemak ditu pejang”, kerap pula disampaikan sang ibu kepada Endrawati bocah, untuk menanamkan kedisiplinan. Satu hal lagi yang tak pernah dilupakannya adalah saat sang ibu memujinya di depan orang lain. “Hal itu tidak pernah terlupakan karena dengan dipuji di depan orang lain kita menjadi termotivasi melakukan hal-hal yang lebih baik. Hal itu saya lakukan juga dalam mendidik anak-anak,” ungkap istri dari Dr. I Ketut Surata, M.Sc. ini.
Pada zaman sekarang, pemerintah mendengung-dengungkan revolusi mental atau character building dengan menghidupkan kembali 4 pilar kebangsaan.  Berbeda dengan zaman dahulu, mitos-mitos, pepatah atau pribahasa, dikatakannya cukup ampuh untuk menanamkan moral/karakter. Misalnya ketika ada anak kecil duduk di atas bantal, orangtuanya akan melarang dengan alasan “jit bisul” untuk menanamkan nilai kesopanan karena bantal dipakai untuk kepala bukan untuk pantat, dan pepatah lainnya yang cukup gampang untuk diingat dan diterapkan dalam menanamkan disiplin.
Endrawati mengaku sangat terinspirasi dari sosok ibunya yang dengan sabar mendidik anak-anaknya. Demikian juga dengan sosok ayahnya yang mau mengajar/menjadi guru di rumah bagi anak-anaknya walaupun dengan alat-alat seadanya (lampu templek, papan, grip). Kondisi itu pula yang kemudian membuat Endrawati bertekad untuk menjadi guru. Lulus dari SMP 2 Amlapura, ia pun melanjutkan pendidikannya ke SPG Singaraja.

Pada saat libur panjang, biasanya Endrawati pulang kampung dan mengajar anak-anak kecil di sekitar rumah. Setelah tamat SPG, ia melanjutkan ke D2 FKIP Unud. Sembari kuliah, ia mengajar di sekolah swasta. Pada saat lulus D2, Endrawati yang memang sejak SD terus mendapat juara, kembali mendapat rangking 1. Saat itu mahasiswa yang dapat rangking 1 bisa memilih tempat tugas dan langsung melanjutkan ke S1. “Saya memilih tempat tugas di Singaraja sehingga bisa langsung melanjutkan ke S1,” tuturnya.
Dari pengalamannya mengajar di SD, SMP, SMA dan di beberapa tempat kursus/bimbel, ia mengatakan banyak mendapatkan hal-hal positif. “Bergaul dengan anak-anak sangat menyenangkan, apalagi dengan anak remaja. Sedikit tidaknya banyak mempengaruhi mindset kita dalam  hal-hal  trend atau yang lagi ‘in’ untuk kita bawa ke dalam kelas. Karena itu, bagi saya menjadi guru adalah sebuah tugas mulia karena merupakan yadnya tinggi,” ucapnya.
Pengalaman paling berkesan menjadi guru dikisahkannya ketika anak-anak didiknya tersebut menunggu kehadiran Endrawati untuk menunggu games-games baru yang membuat mereka bergairah untuk belajar dan ketika ia tak bisa hadir di kelas, anak-anak merasa kecewa. Pengalaman lain yang juga berkesan bagi Endrawati adalah ketika meminta anak-anak menceritakan keluarga mereka berbahasa Inggris. Dengan jujur mereka menceritakan keadaan yang sebenarnya. “Ternyata banyak anak yang perlu bantuan/bimbingan/perhatian khusus karena mereka bermasalah dalam keluarga,” ungkapnya. Yang tak kalah serunya ketika Endrawati mengajar murid-murid di Australia dalam rangka pertukaran guru selama setahun. “Teman-teman guru disana heran saat saya bilang biasa menangani 50 siswa dalam satu kelas, karena mengajar 5 siswa di Aussie mirip dengan mengajar 50 siswa di Indonesia,” ujar pemilik moto “Keep praying, do your best and reach the best” ini.

Sebagai wanita Hindu yang tinggal di Bali, tentu harus bisa membagi waktu antara tugas sebagai ibu rumah tangga, sebagai guru, ketua PKK di banjar (dulu), anggota Dharma Wanita, menyama braya dan kegiatan keagamaan lainnya. Semua itu bisa dijalani Endrawati seiring seirama dengan memakai sekala prioritas. Ketika hari-hari kerja efektif, tugas dinas mendapat prioritas utama. (inten.indrawati@cybertokoh.com)

To Top